Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Kampanye Jogja Murah Itu Memang Penuh “Tipu Daya”, tapi Mau Tak Mau, Harus Kita Terima dan Tak Harus Dilawan

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
15 Juni 2025
A A
Surat Terbuka untuk Pembenci Perantau di Jogja: Hanya Dhemit yang “Pribumi Jogja”, Kalian Bukan! konten kreator jogja

Surat Terbuka untuk Pembenci Perantau di Jogja: Hanya Dhemit yang “Pribumi Jogja”, Kalian Bukan! (Dhio Gandhi via Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau kau melihat konten tentang Jogja, pasti, pasti ada satu-dua komentar orang yang bilang Jogja itu murah, atau sedang meyakinkan orang lain bahwa Jogja itu murah.

Padahal, banyak dari kita yang sempat merasakan hidup di Jogja. Dan kita akan sepakat, bahwa Jogja itu tidak murah, setidaknya tidak semurah kampanye orang di media sosial. Tapi meskipun penyintas hidup di Kota Istimewa itu kelewat banyak, tetap saja usaha mementahkan kampanye Jogja murah itu selalu gagal.

ADVERTISEMENT

Pertanyaannya, kenapa selalu gagal? Kenapa selalu ada orang yang membela bahwa hidup di Jogja itu murah?

Tidak mungkin kota besar itu murah

Sebenarnya, agak tidak masuk akal Jogja (baca: DIY) itu murah. Kota Istimewa ini punya harga-harga yang tak jauh beda dengan Jakarta, bahkan. Kita harus mengakui dan tidak lagi boleh menutupi fakta bahwa harga makanan di Jogja dan Jakarta itu hampir mirip, bahkan sama. Misalnya, harga nasi ayam di Jakarta 17 ribu, di Jogja pun sama. Ada yang lebih murah, tapi ya nggak 10 ribu juga. Nasi ayam kira-kira di rentang harga tersebut.

Kalau bedanya cuman 2-3 ribu rupiah, ya nggak usah mengklaim si paling murah juga sih.

Kota besar itu hampir tidak mungkin murah. Sebab, ia akan menarik banyak manusia untuk datang. Ketika banyak yang datang, maka harga properti akan naik, sesuai dengan hukum supply-demand. Harga makanan akan ikut naik, karena kebutuhan bahan makanan meningkat, sedangkan stoknya tidak selalu mencukupi gara-gara lonjakan manusia. Dari logika sederhana saja, kata “Jogja itu murah” jelas tidak masuk akal.

Tapi, kenapa propaganda Jogja murah masih didengungkan, sekalipun kenyataan berkata sebaliknya?

Jogja butuh dikampanyekan murah, karena ya mau bagaimana lagi?

Kalau saya boleh berasumsi, ya Jogja memang harus dikampanyekan murah, dan butuh dikampanyekan murah. Sebab, Kota Istimewa, kayak kota lain, butuh branding yang membuat orang datang. Bahwa itu nggak logis, itu urusan belakangan. Yang penting, orang tersihir dulu.

Baca Juga:

Krisis Identitas wingko babat: jajanan asli Lamongan, dijajah Semarang, dicaplok Jogja

Kenapa orang Jogja malas wisata naik gunung ke Gunung Merapi?

Nyatanya, ya berhasil. Orang menganggap Jogja ini beneran murah. Padahal yang bilang gitu orang Jakarta, yang jelas penghasilannya jauh lebih besar. Konteks macam itu menguap karena akhirnya ada yang memvalidasi. Akal sehat menguap, tapi ya nggak masalah, yang penting campaign-nya berhasil.

Kalau baca liputan dari Vice tentang upah di Kota Istimewa, murahnya Jogja itu tuntutan. Upah kecil dan branding murah justru mencekik para pedagang secara tidak sadar. Menekan harga adalah cara agar usaha tetap berjalan. Margin keuntungan tidak seberapa, bikin pengusaha menekan upah pekerja. Jadilah lingkaran setan yang tidak akan bisa dihentikan tanpa political will dari penguasa.

Jadi ya, wajar Jogja murah. Sebab memang diusahakan untuk tetap murah, meskipun berdarah-darah.

Mi ayam 5 ribu, gudeg 3 ribu, nasi kucing seribu

Saya memakai kalimat di atas sebagai subjudul karena memang itu senjata yang orang-orang pakai ketika cerita murahnya Jogja. Padahal itu jelas kasuistik. Tidak semua gudeg dijual 3 ribu, nasi kucing jelas amat langka yang seribu rupiah. Apalagi mi ayam 5 ribu rupiah, tambah ra mashok. Angel golekane.

Akan selalu ada pedagang yang mematok harga kelewat murah, tapi jelas Jogja tidak sendiri. Jakarta pasti ada, Surabaya juga, Semarang apalagi. Saya yakin ada penjual nasi ayam di Jakarta yang mematok harga 10 ribu. Tapi, apakah kita akan bilang Jakarta itu murah? Yo goblok nek iyo.

Pilih-pilih harga ini adalah cacat logika yang nggak tahu kenapa, dirayakan ketika ngomongin Jogja murah. Maka dari itu, saya punya kesimpulan, kalau baiknya, kampanye ini nggak usah dilawan. Lho?

Jogja memang harus murah, titik

Pasti kalian merasa artikel ini sampah melihat antiklimaks ini. Tapi, memang ini kesimpulan yang saya dapat. Kampanye murah ini memang tak sesuai dengan realitas. Jauh malah. Saya hidup 14 tahun di Kota Istimewa, beneran, saya tahu bahwa nggak ada murah-murahnya kota ini.

Tapi, mau dilawan seperti apa, kekeliruan ini dipelihara karena memang ada tujuannya. Tujuannya agar orang tetap tersihir untuk memesan tiket ke Jogja. Untuk memenuhi hotel-hotel. Untuk memadati tempat wisata dan membuat para guide dapat pekerjaan. “Kebohongan” ini, membuat kota ini tetap hidup. Orang-orang di dalamnya, bisa hidup. Jadi, ya…

Pada akhirnya, saya memilih untuk duduk manis, meski sesekali menyanggah. Tapi, saya ingin melihat seberapa jauh kota ini bertahan dengan kebohongan indah yang dia buat. Saya ingin melihat, apakah kota ini akan tenggelam oleh ludahnya sendiri, atau justru makin gemerlap.

Dan saya berharap yang terakhir.

Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kolong Flyover Janti adalah Tempat Terbaik untuk Menikmati “Kehidupan Malam” Jogja

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 Juni 2025 oleh

Tags: Jogjajogja murahumr jogjawisata jogja
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Founder Kelas Menulis Bahagia. Penulis di Como Indonesia.

ArtikelTerkait

UNY yang Dahulu Bukanlah yang Sekarang, Tidak Lagi Jadi Kampus Merakyat seperti yang Selama Ini Diromantisasi Mojok.co

UNY yang Dahulu Bukanlah yang Sekarang, Tidak Lagi Kampus Merakyat seperti yang Selama Ini Diromantisasi

20 Agustus 2025
KRL Jogja Magelang Moda Transportasi yang Dibutuhkan Warga (Unsplash)

KRL Jogja Magelang Semakin Dibutuhkan Warga, Pemerintah Sebaiknya Segera Mewujudkannya

7 Januari 2025
Tips Cari Rumah Kontrakan untuk Pasutri Muda Terminal Mojok

5 Alasan Tinggal di Kontrakan Jauh Lebih Enak ketimbang Ngekos di Jogja

29 Oktober 2022
Jogja Itu Indah asalkan Kamu Nggak Keluar Rumah

Jogja Itu Indah asalkan Kamu Nggak Keluar Rumah

9 Agustus 2025
warung masakan babi di jogja

Warung Masakan Babi di Jogja yang Bikin Ngiler Part 2

8 November 2021
Ilustrasi Pertigaan Jati Kencana Jogja Adalah Neraka di Tengah Kota (Unsplash)

Pertigaan Jati Kencana Jogja yang Padat dan Semrawut, Semakin Bikin Emosi Bahkan Stres Pengendara Sepeda Motor.

4 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 jajanan tradisional Bandung yang bikin orang Semarang gagal paham. Nama dan tampilan mirip, tapi rasanya jauh berbeda Mojok.co

4 kuliner Bandung yang bikin orang Semarang gagal paham. Nama dan tampilan mirip, tapi rasanya berbeda

16 Juli 2026
4 hal lazim di Jogja yang masih asing di Tulungagung, tapi perlu dicontoh demi ruang publik yang lebih hidup  Mojok.co

4 hal lazim di Jogja yang masih asing di Tulungagung, tapi perlu dicontoh demi jadi daerah lebih hidup 

17 Juli 2026
13 Tabiat Mahasiswa KKN yang Dibenci Warga Desa, Jangan Dilakukan atau Kalian Jadi Musuh Bersama Mojok.co

Apa salahnya mahasiswa kkn di kota? Mereka sedang belajar, bukan cuma nyari enak

20 Juli 2026
Sendang Senjoyo dulu jadi primadona, kini banyak orang nggak sudi buat ke sana!

Sendang Senjoyo dulu jadi primadona, kini banyak orang nggak sudi buat ke sana!

19 Juli 2026
Review Mie Gacoan Bangkalan Madura, Cabang yang Anomali karena Tidak Perlu Antre Mojok.co

Mie Gacoan Bangkalan Madura bisa tutup kalau 3 hal ini tidak diperbaiki

18 Juli 2026
Nongkrong sama teman yang lagi mabuk dan banyak bacot benar-benar bikin emosi

Nongkrong sama teman yang lagi mabuk dan banyak bacot benar-benar bikin emosi

20 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.