Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Kalimat ‘Siap, Bang Jago!’ dan Tanda bahwa Kita Sukar Menerima Kritik  

Ananda Bintang oleh Ananda Bintang
9 Oktober 2020
A A
Tips Melayangkan Kritik Pemerintah tanpa Ditangkap Polisi terminal mojok.co

Tips Melayangkan Kritik Pemerintah tanpa Ditangkap Polisi terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Apa yang terjadi pada Najwa Shihab terkait pelaporan oleh Ketua Umum Relawan Jokowi Bersatu pada kepolisian merupakan sebuah gambaran pelik bahwa memang orang Indonesia sulit menerima kritik. Untungnya Mbak Nana beruntung karena laporan itu ditolak polisi

Pelaporan dengan menggunakan pasal karet sebagai ujung dari sebuah ketidakterimaan terhadap kritik memang bukan barang baru. Seperti pada kasus pelaporan Cine Cribs yang pernah mengkritik keras salah satu film Indonesia, eh lalu dicap tidak cinta karya anak bangsa dan dianggap “antek aseng”. Meski perfilman kita sebenarnya sudah mulai cukup membaik, tapi kasus tersebut menandakan bahwa dunia kritik kita jauh dari kata membaik—padahal film atau karya seni lainnya sangat butuh kritik supaya bisa lebih baik ke depannya.

ADVERTISEMENT

Selain dari kasus pelaporan itu pun, sebenarnya watak orang Indonesia yang tidak bisa menerima kritik tercermin dalam perdebatan di sosial media, apalagi Twitter.

Dari pengamatan saya, dalam setiap debat di Twitter atau di media sosial mana pun, jarang sekali berujung baik. Tidak ada yang berusaha memahami kritik satu sama lain. Dalam perdebatan, ada beberapa jurus pamungkas yang selalu digunakan untuk menanggapi kritik. Sayangnya “jurus” ini justru menurut saya makin menggambarkan bahwa watak orang Indonesia itu ternyata emang sukar sekali menerima kritik.

Kalimat yang diawali atau diakhiri dengan “No offense”

Dalam memulai atau mengakhiri suatu argumen, biasanya kalimat andalan ini digunakan untuk membalas suatu kritik yang kadang justru melebar dari persoalan.

Meskipun kalimat itu memang bertujuan baik agar kritik tidak diambil secara personal alias fokus terhadap persoalan di dalam kritik tanpa embel-embel pertemanan atau hubungan apa pun, kalimat tersebut malah melenceng. “No offense” menjadi suatu pembenaran untuk melukai seseorang secara barbar dan tidak ada satu pun celah bagi seseorang untuk membalas argumennya. Tentu saja kalimat tersebut jadi nggak sehat sama sekali untuk dunia kritik kita.

“Lebay”

Kata “lebay” ini sering kali berkelindan dengan kata-kata “elah gitu doang dipermasalahin”. Tentu saja ini menandakan bahwa orang-orang yang merespons sebuah kritik dengan kata “lebay”, sangat alergi dengan yang namanya kritik. Orang-orang seperti ini biasanya cuma pengin hal-hal indah di dunia mereka tanpa ada hal-hal yang bertentangan dengan apa yang mereka yakini.

Kata ini juga terbukti ampuh bikin orang jadi malas mengeluarkan pendapatnya karena malah dikatain lebay, bukannya “ditanggepin” kritiknya. Padahal setiap pendapat yang memang bukan merujuk pada sifat pribadi seseorang di ranah media sosial, menurut saya penting.

Baca Juga:

4 Jasa yang Tidak Saya Sangka Dijual di Medsos X, dari Titip Menfess sampai Jasa Spam Tagih Utang

Drama Cina: Ending Gitu-gitu Aja, tapi Saya Nggak Pernah Skip Menontonnya

Setiap istilah yang diawali dengan “sok”

Jurus paling ampuh untuk memenangkan sebuah perdebatan atau ciri-ciri orang yang tidak menerima kritik adalah dengan merespons pakai kata-kata yang diawali kata “sok”. Baik kritik sindiran atau langsung, sebaiknya ditanggapi atau mending gausah ditanggepi sekalian. Sebab orang-orang yang justru menanggapi sebuah kritik dengan menyerang sifat pribadi seseorang dengan mengatakan bahwa orang itu ngesok seperti sok pinter, sok edgy, sok keren, malah menandakan bahwa seseorang itu tidak punya argumen balasan. Kalau masih ada yang bilang gitu, saya saranin nggak usah ditanggepin, lebih baik mencelupkan kepala ke dalam comberan ketimbang mendengarkan dia ngomong.

“Semuanya tergantung perspektif masing-masing”

Kalimat yang ini sebenarnya agak lucu sih. Bukannya kalo kritik dan perdebatan itu memang saling mengadu perspektif ya? Kalau nggak mau ngadu perspektif ya nggak usah debat wqwqwq. Tapi, mungkin orang Indonesia bijak-bijak, jadi daripada bermusuhan gara-gara memberi kritik yang sebenarnya konstruktif, lebih baik berdamai saja lah. Sesuai pelajaran PPKN~

“Siap, Bang Jago!”

Kalimat ini awalnya cukup positif, dalam artian dari amatan saya, kalimat ini emang dipakai buat nyindir orang-orang yang pas debat atau menanggapi kritik malah jadi jauh keluar konteks. 

Tapi, setelah beberapa kali disampaikan, kalimat ini malah jadi menyebalkan dan tidak sesuai dengan tujuan awal. Kalimat tersebut menjadi sebuah penangkal paling tokcer untuk terhindar dari kritik. Kalimat ini menjadi fatality paling final terfinal untuk mengakhiri sebuah perdebatan. Kalau di Mortal Kombat ini tuh udah kaya momen Subs Zero nge-fatality Scorpio, dingin sekaligus menghancurkan~

Itulah kira-kira kata-kata yang menandakan bahwa emang kita sulit menerima kritik. Padahal, kritik dalam setiap persoalan adalah pilar paling penting. Bahasa adalah sebaik-baiknya media untuk menyampaikan kritik, dan oleh karena itu kata-kata dalam merespons kritik, mengkritik, dan berdebat akan selalu menjadi gambaran tentang bagaimana watak kita. Kendati demikian, banyak kritik yang memang destruktif dan terkesan mengarah ke sifat personal seseorang, tapi setidaknya kita masih memiliki tiga pilihan ketimbang menggunakan kalimat di atas: menerima dengan ikhlas, menanggapi, atau membiarkannya terbawa angin.

BACA JUGA Kemunculan Akun @polisimaba Menunjukkan Ospek Lebih Baik Ditiadakan dan tulisan Ananda Bintang lainnya. 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 9 Oktober 2020 oleh

Tags: anti kritikMedia Sosial
Ananda Bintang

Ananda Bintang

ArtikelTerkait

Saya Lahir di Kampung PSK dan Menyadari Tatanan Masyarakat yang Unik mojok.co/terminal

Belajar dari Unggahan Fauzi Baadilla soal Pelecehan Seksual yang Dialaminya

18 Juni 2020
7 Alasan untuk Meninggalkan Medsos Lain dan Beralih ke TikTok terminal mojok.co

7 Alasan Orang Perlu Pindah Medsos ke TikTok

15 September 2020
Jerome Polin Tanya di Twitter, Netizen Ngamuk. Kalian Ini Kenapa, Sih Terminal Mojok

Jerome Polin Tanya di Twitter, Netizen Ngamuk. Kalian Ini Kenapa, Sih?

27 Januari 2022
Bekerja, Terima Kasih pada Penggiat Diskusi Online

Terima Kasih pada Penggiat Diskusi Online

7 Desember 2019
Laki-Laki Memang Nggak Mempan Dikasih Drakor, Mereka Lemah di Hadapan Dracin

Laki-Laki Memang Nggak Mempan Dikasih Drakor, Mereka Lemah di Hadapan Dracin

27 Februari 2025
Dari Friendster Sampai Instagram: Mixtape Nostalgia Media Sosial dari10 Tahun Lalu terminal mojok.co

Dari Friendster Sampai Instagram: Mixtape Nostalgia Media Sosial dari 10 Tahun Lalu

2 Desember 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Review Mie Gacoan Bangkalan Madura, Cabang yang Anomali karena Tidak Perlu Antre Mojok.co

Mie Gacoan Bangkalan Madura bisa tutup kalau 3 hal ini tidak diperbaiki

18 Juli 2026
Perpustakaan Kota Batu salah satu tempat terbaik di kota ini, sayang belum banyak orang yang tahu dan mengunjunginya Mojok.co

Perpustakaan Kota Batu salah satu tempat terbaik di kota ini, sayang belum banyak orang yang tahu dan mengunjunginya

19 Juli 2026
Stop bilang orang Sunda pemalas, kami cuma tahu cara menikmati hidup tanpa harus burnout Mojok.co

Stop bilang orang Sunda pemalas, kami cuma tahu cara menikmati hidup tanpa harus burnout

17 Juli 2026
Fans Ronaldo nangis melihat Messi real GOAT di final Piala Dunia (Unsplash)

Final Piala Dunia yang bikin fans Ronaldo hilang arah: Cemas dukung Messi atau membiarkan fans Barcelona makin besar kepala?

18 Juli 2026
Untuk Warga Surabaya, Stop Menormalisasi Bayar Parkir kepada Juru Parkir di Toko Atau Minimarket yang Bertuliskan 'Parkir Gratis'!

Jangan cintai Surabaya secara berlebihan, ia juga punya kekurangan yang patut dibicarakan

21 Juli 2026
Alasan orang tua tetap menyekolahkan anaknya di SD negeri di tengah pamor SD swasta yang kian moncer Mojok.co

Alasan orang tua tetap menyekolahkan anaknya di SD negeri di tengah pamor SD swasta yang kian moncer

20 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.