Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Kalian Mau Boikot Unilever? Sebaiknya Baca Ini Dulu

Agung Setoaji oleh Agung Setoaji
27 Juni 2020
A A
Unilever mojok.co

Unilever mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Belakangan ini warganet ramai-ramai memboikot dan menyerukan boikot terhadap Unilever terkait keputusan perusahaan itu mendukung LGBT. Jujur saja, saya tidak sepaham dengan kebijakan perusahaan multinasional itu.

Namun meski begitu, saya tidak berpartisipasi dalam pemboikotan ini. Mengapa? Karena saya melihat ada sebuah ketidakberesan di sana.

Jauh sebelum Unilever meluncurkan logonya yang versi “pelangi”, perusahaan-perusahaan raksasa seperti Facebook, Instagram, Google, Starbucks, IBM, Amazon, dan bahkan Liga Inggris, telah lebih dulu menunjukkan dukungannya kepada LGBTQ. Anehnya, kenapa sentimen negatif masyarakat Indonesia hanya ditujukan pada Unilever saja?

Masyarakat kita memang dikenal militan dalam mengganyang sesuatu yang tidak sesuai ajaran agama. Semangat itu patut diacungi empat jempol. Namun sayangnya, mereka juga gemar menerapkan standar ganda. Mereka berbondong-bondong memboikot Unilever, tapi menyuarakannya di Facebook dan Instagram dengan menggunakan Iphone sambil ngopi di Starbucks. Uhuk.

Okelah, tidak masalah. Praktik standar ganda merupakan kebiasaan yang sudah bertransformasi menjadi budaya, susah dirubah. Namun, kemudian timbul lagi pertanyaan-pertanyaan. Jika tujuan pemboikotan itu supaya Unilever kapok mendukung LGBTQ, apakah tindakan itu tepat sasaran?

Mungkin iya. Tapi kemungkinan besar sih, tidak.

Mengapa?

Ilustrasinya begini. Ketika terjadi pemboikotan dan berhasil, otomatis omset penjualan dari perusahaan yang diboikot akan menurun. Hal tersebut tentunya berdampak besar bagi kestabilan finansial perusahaan. Akibatnya, perusahaan kolaps. Terjadilah pemutusan kontrak terhadap karyawan kontrak dan PHK terhadap karyawan tetapnya. Padahal pekerja-pekerja itu belum tentu paham apa itu LGBTQ. Mereka pastinya tidak tahu menahu apalagi ikut nimbrung di rapat perihal kebijakan program dukung-mendukung LGBTQ.

Baca Juga:

Teh SariWangi: Pabrik Aslinya Bangkrut, tapi Merek Dagangnya Cuan Terus

Bersikap Adil pada Pak Ribut, Isu LGBTQ, dan Segala Keributannya

Yang ingin saya katakan adalah, tolong diingat bahwa mereka adalah saudara-saudara yang seagama dan seiman dengan Anda-anda yang memboikot. Bahkan mungkin di antara pekerja-pekerja itu, ada yang merupakan tetangga atau malah saudara kandung kita. Coba bayangkan nasib mereka.

Oke, taruhlah pemboikotan itu punya target menyasar para pemegang saham yang membuat kebijakan pro-LGBTQ itu. Mereka memang bakal ikut terkena dampak. Namun, pastinya tidak terlalu terasa. Unilever itu perusahaan yang beroperasi hampir di semua negara yang ada di dunia, Bos. Permasalahan di satu negara tidak akan membuat pemiliknya auto melarat.

Bahkan jika cabang perusahaannya di sini gulung tikar, pemegang saham dan jajaran elit mereka masih bisa survive, kok. Caranya gampang: mereka tinggal menjual aset, lalu mengalihkan investasi pada perusahaan lain, atau langsung pensiun sekalian. Dengan begitu mereka bisa  move on dalam kondisi berkecukupan. Tuh, meleset, kan.

Sedangkan para pro LGBTQ yang pemboikot benci pastinya tidak akan terlalu merasakan dampaknya. Ketika para pemboikot sibuk berkoar-koar di luar sana, mereka tetap menjalani hidup seperti biasa. Kecuali individu-individu yang menggantungkan hidup pada Unilever.

Justru yang paling berbahaya dan mengerikan di sini adalah efek domino dari bangkrutnya Unilever,kalau sampai terjadi. Unilever adalah perusahaan raksasa yang menaungi banyak produk–di sini kita ambil satu contoh, yaitu Kecap Bango. Dalam menghasilkan sebuah produk, dari bahan baku mentah sampai ke tangan konsumen, ada banyak pihak terlibat. Mulai dari petani kedelai, tengkulak kedelai, buruh tani kedelai, perusahaan pembuat kemasan, sampai distributor–kecil dan besar. Jika penjualannya mandek, otomatis pihak-pihak yang tadi disebutkan bakal ikutan blangsak.

Itu baru dari satu produk lho, ya. Sedangkan Unilever memproduksi puluhan produk. Bisa dibayangkan dong, berapa banyak pihak yang bakal terkena imbasnya. Maka, jika itu sampai terjadi, mudah-mudahan jangan, ekonomi kita yang tengah terpuruk ini bisa jadi akan semakin ambruk. Kalau sudah begitu, siapa yang kena? Ya kita-kita juga, lah!

Nah, dari poin-poin di atas kita bisa menilai. Selain tidak tepat sasaran, pemboikotan itu malah menambah masalah baru yang lebih besar dan lebih luas cakupannya.

Lantas, cara yang tepat sasaran itu cara yang bagaimana? Ya demonstrasi ke pemerintah, dong! Lah hubungannya apa? Lho serahkan ke meraka, emangnya kita punya power buat merubah sikap perusahaan hanya karena kita nggak sepaham? Walau saya yakin, sikap perusahaan belum tentu melanggar hukum yang ada di negara ini.

Tapi ya, jangan lupa! Usahakan demonstrasinya jangan lewat Facebook dan Instagram atau dilakukan sambil ngemut es krim Wall’s atau ngemil bakwan yang dibumbui Royco, biar dibilang adil.

BACA JUGA Belajar Menerima Penolakan Cinta dari Naruto atau tulisan Agung Setoaji lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 27 Juni 2020 oleh

Tags: lgbtqunilever
Agung Setoaji

Agung Setoaji

Ayah beranak dua. Hobi makan dan tidur.

ArtikelTerkait

Untuk Urusan Teh Celup, Sariwangi dan Sosro Kalah Telak dari Teh Dandang terminal mojok.co

Teh SariWangi: Pabrik Aslinya Bangkrut, tapi Merek Dagangnya Cuan Terus

1 Oktober 2022
Lifebuoy Merah_ Sabun yang Dituduh Punya Bau Nggak Enak dan Bikin Apek terminal mojok

Lifebuoy Merah: Sabun yang Dituduh Punya Bau Nggak Enak dan Bikin Apek

6 Juli 2021
Belajar Sikapi Cinta Sesama Jenis dari Yeo Hwa-jung di Hometown Cha-cha-cha terminal mojok.co

Belajar Sikapi Cinta Sesama Jenis dari Yeo Hwa-jung di Hometown Cha-cha-cha

20 Oktober 2021
Bersikap Adil pada Pak Ribut, Isu LGBTQ, dan Segala Keributannya Terminal Mojok.co

Bersikap Adil pada Pak Ribut, Isu LGBTQ, dan Segala Keributannya

28 Maret 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stop Geber-Geber Mesin di Pagi Hari! Itu Hal Konyol dan Malah Bikin Mesin Rusak, Ini Cara Memanaskan Motor yang Benar

Stop Geber-geber Mesin di Pagi Hari! Itu Hal Konyol dan Malah Bikin Mesin Rusak, Ini Cara Memanaskan Motor yang Benar

18 April 2026
4 Alasan Samarinda Ideal untuk Bekerja, tapi Tidak untuk Menua

Curahan Mahasiswa Baru Samarinda: Harus Mencicil Motor karena Tak Ada Kendaraan Umum di Samarinda, padahal Bukan Orang Berduit

22 April 2026
Harga Plastik Naik Bikin Kebiasaan Bawa Wadah Sendiri Diapresiasi Pedagang Pasar, padahal Dulu Sempat Dianggap Aneh

Harga Plastik Naik Bikin Kebiasaan Bawa Wadah Sendiri Diapresiasi Pedagang Pasar, padahal Dulu Sempat Dianggap Aneh

21 April 2026
7 Sisi Terang Jakarta yang Jarang Dibahas, tapi Nyata Adanya: Bikin Saya Betah dan Nggak Jadi Pulang Kampung kerja di jakarta

Jangan Mencari Peruntungan dengan Kerja di Jakarta, Saya Cari Magang di Sini Saja Susah, Sekalinya Dapat Tidak Digaji dan Dijadikan Tenaga Gratisan

20 April 2026
Resign demi Jadi Wirausaha Itu Memang Ceroboh, tapi Saya Nggak Menyesal sekalipun Bangkrut

Resign demi Wirausaha Itu Memang Ceroboh, tapi Saya Nggak Menyesal sekalipun Bangkrut

18 April 2026
Siapa sih yang Memulai Kebiasaan Cetak Buku Yasin buat Tahlilan? Ujungnya Cuma Menumpuk di Rumah, yang Tahlilan pun Bawa Sendiri Juga kan?

Siapa sih yang Memulai Kebiasaan Cetak Buku Yasin buat Tahlilan? Ujungnya Cuma Menumpuk di Rumah, yang Tahlilan pun Bawa Sendiri Juga kan?

21 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI
  • Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki
  • “Solo Date” Menjelang Usia 25: Meski Tampak Menyedihkan, Nyatanya Lebih Bermanfaat daripada Nongkrong Bersama
  • Guru, Profesi yang Dihormati di Desa tapi Hidupnya Sengsara di Kota: Dimuliakan Seperti Nabi, Digaji Lebih Kecil dari Kuli
  • Pakai Jasa Porter di Stasiun meski Bisa Bawa Barang Sendiri: Sadar 50 Ribu Itu Tak bikin Rugi, Tapi Justru Belum Seberapa
  • 4 Jenis Pengendara Motor di Pantura yang Harus Diwaspadai di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan!

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.