Kalau Nggak Punya Biaya dan Kesabaran, Lebih Baik Nggak Usah Adopsi Kucing – Terminal Mojok

Kalau Nggak Punya Biaya dan Kesabaran, Lebih Baik Nggak Usah Adopsi Kucing

Artikel

Beberapa waktu yang lalu, saya melihat sebuah Instagram stories yang membuat saya geram dari salah satu breeder kucing terkenal di Instagram. Sebetulnya yang membuat geram bukan si Breeder, tapi followersnya. Jadi, si Breeder ini memasang question box, lalu ada follower menanggapi dengan meminta giveaway kucing alias dia ingin adopsi kucing gratis kepada si Breeder, alasannya karena dia nggak punya uang.

Memang si Breeder terkadang bikin giveaway adopsi kucing untuk followernya tapi nggak sering-sering banget. Untungnya dia jawab dengan sabar dan akan mengadakan giveaway lagi, tapi bukan giveaway kucing. Ya, bisa berupa uang atau yang lainnya.

Yang nanya juga sebetulnya nggak salah juga, saya menduga kalau yang nanya ini belum teredukasi mengenai hal ini. Sebab, kebanyakan orang Indonesia itu pengen adopsi kucing gratis apalagi kalau kucingnya ras macam campuran Persia atau Himalaya.

Saya kasih tahu nih, bagi orang-orang yang pengin adopsi kucing, tapi belum ada dananya mending jangan adopsi dulu deh. Serius. Adopsi kucing memang biayanya nggak seberapa, tapi biaya perawatannya itu lho….

Saya ingin bercerita mengenai pengalaman pribadi saya adopsi kucing. Jadi, sekitar sebulan yang lalu saya memutuskan untuk mengadopsi kucing ras. Sebelumnya banyak sekali keraguan yang saya hadapi perihal biaya untuk makanannya, pasirnya, mainannya, vaksin, kendang, pokoknya banyak deh. Akhirnya saya putuskan untuk menerima risiko apa pun.

Biaya adopsi kucing saya termasuk murah. Tapi, uang tabungan saya justru habis untuk perawatannya.

Setelah adopsi kucing, bukan berarti masalah selesai, kita harus menemukan makanan yang cocok bagi makhluk imut berbulu ini. Beruntung, kalau makanannya langsung cocok sama si kucing, kalau nggak cocok ya bakalan repot. Kalau makanannya nggak cocok biasanya si kucing bakalan mengalami kerontokan bulu atau kadang mencret. Kita sebagai “babu” si kucing harus nyari lagi makanan yang cocok.

Itu baru dari segi makanan. Belum lagi kalau si kucing ini sakit, butuh biaya yang lumayan untuk berobat. Mending sakitnya flu atau pilek doang, kalau sampai sakitnya karena virus itu membutuhkan biaya yang lebih besar lagi. Ya, semoga kucing-kucing kita sehat selalu.

Kucing itu perlu vaksin dan harganya cukup mahal. Itu pun harus dilakukan berkala setiap tahun dan setahun bisa sampai dua kali. Jangan dikira kucing terutama kucing ras, nggak butuh vaksin. Jangan disamakan antibodi kucing ras dengan kucing domestik (kampung).

Kucing ras antibodinya cenderung lemah, nggak sekuat kucing domestik. Tapi, bukan berarti kalian yang punya kucing domestik nggak butuh vaksin sama sekali. Perlu juga kok untuk mengantisipasi penyakit-penyakit. Terutama yang berasal dari virus.

Perihal vaksin juga nggak bisa asal dibawa ke dokter hewan dan langsung suntik vaksin. Harus dipastikan kucingnya dalam keadaan benar-benar sehat. Nggak boleh lagi sakit, semisal ada jamur dan kutunya. Itu baru pra vaksinnya, kita membutuhkan kesabaran yang ekstra. Setelah itu kita harus awasi terus keadaan kucing, apakah antibodinya kuat dalam melawan “virus” yang dilemahkan itu, ataukah setelah vaksin malah cenderung lemas. Kalau sudah begini, ya mau nggak mau harus dibawa ke dokter lagi dan pastinya mengeluarkan biaya lagi.

Nantinya si kucing yang sudah vaksin tetap harus kita berikan vitamin, seperti vitamin penambah nafsu makan, vitamin untuk meningkatkan sistem imun, vitamin untuk kesehatan bulu dan kulit, dan masih banyak lagi. Biasanya setiap kucing itu bisa memiliki dua sampai tiga vitamin yang berbeda. Lagi-lagi ini soal mengeluarkan biaya.

Sebetulnya masih banyak lagi hal yang perlu diperhatikan untuk memutuskan adopsi kucing. Saya hanya menyebutkan beberapa bagian paling penting. Maka dari itu yang masih kekurangan biaya untuk memelihara kucing ras, kalian perlu pikir-pikir lagi deh. Ya, bukan berarti kalau belum ada biaya nggak bisa adopsi kucing. Adopsi aja kucing-kucing domestik sekitar rumah kalian. Kalau benar-benar diurus dan disayang, pasti nurut dan lucunya sama kayak kucing ras kok.

Tapi, terkadang yang punya biaya untuk adopsi dan perawatan kucing juga sama brengseknya. Cari kucing yang lucu kemudian diadopsi, tapi giliran sakit nggak mau repot, malah dilepas. Atau yang sedang trend sekarang kalau kucingnya sakit dia bakalan “open adopt” dengan dalih nggak keurus, padahal kucingnya lagi sakit. 

Memang saya akui, mengurus kucing sakit itu perlu kesabaran yang ekstra. Makanya kalau belum siap, walaupun sudah ada biayanya, tapi nggak punya kesabaran mending nggak usah deh.

Saya paling nggak tega kalau melihat kucing terutama kucing ras, lagi sakit lalu dilepas karena si pemilik sebelumnya nggak mau ngurusin. Kucing ras itu kebanyakan tipe kucing indoor, bukan outdoor. Nggak bisa dipastikan bakal survive kalau ia dilepaskan di alam bebas.

Mau bagaimanapun mengurus kucing itu bukan sekadar lucunya, kalau kita sudah memutuskan untuk mengadopsi kucing baik yang ras ataupun yang domestik, kita akan menjadi forever home dan partner bagi mereka untuk selamanya. Susah dan senang antara pemilik dan si kucing, mereka akan terus bersama.

BACA JUGA Kimetsu no Yaiba, Anime Paling Bagus dari Segi Kualitas Animasinya atau tulisan Rifky Aritama lainnya di Terminal Mojok.

Baca Juga:  Si Doel Anak Sekolahan Episode 1, Musim 1: Pengenalan Para Tokoh, dari Sudut Pandang Mandra

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.