Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

Bayar Pajak Kendaraan Itu Wajib, tapi Jujur Saja Saya Nggak Ikhlas Melakukannya

Fatikha Faradina oleh Fatikha Faradina
13 Februari 2026
A A
Bayar Pajak Kendaraan Itu Wajib, tapi Jujur Saja Saya Nggak Ikhlas Melakukannya Mojok.co

Bayar Pajak Kendaraan Itu Wajib, tapi Jujur Saja Saya Nggak Ikhlas Melakukannya (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Bulan ini kalender di ponsel saya memberikan notifikasi yang lebih menakutkan daripada pesan tagihan pinjol: notifikasi jatuh tempo pajak kendaraan. Setiap kali melihat nominal yang tertera di STNK, kepala saya langsung pusing. Selain pusing memikirkan duit di rekening bakal cuma numpang lewat, saya pusing karena marah memikirkan logikan di balik angka-angka yang akan saya setor itu. 

Seperti yang kita tahu, setiap pemilik pajar dihadapkan pada angka-angka yang perlahan, tapi pasti terus meningkat. Coba saja amati PKB, BBNKB, dan berbagai komponen lain yang namanya terdengar seperti singkatan mata kuliah baru. Namun, di saat yang sama, kita juga dihadapkan pada pemandangan yang itu-itu saja, jalan berlubang, tambalan aspal yang tidak rata, dan genangan air yang muncul seolah punya jadwal tetap.

saya, kalian, dan banyak orang Indonesia lain pasti sudah nggak asing dengan narasi “orang bijak taat pajak”. Oke, saya mau jadi orang bijak. Tapi, menjadi bijak bukan berarti menelan mentah-mentah segala keanehan yang terjadi di negara ini kan? Masalahnya, korelasi antara uang yang kita setor ke Samsat dengan apa yang kita dapatkan saat mengaspal atau berkendara di jalan itu ibarat hubungan saya dengan dia, tidak ada kepastian dan lebih sering menyakitkan. 

Setelah merenung di tengah kemacetan sambil menghindari lubang jalan seukuran kawah meteor, saya merangkum 4 hal yang bikin logika saya macet total soal pajak kendaraan di Indonesia. Logika yang mengikis rasa ikhlas ketika menyetorkan pajak. 

Fasilitas yang diterima tidak setara dengan yang dibayarkan

Hal pertama yang bikin pusing adalah ketimpangan antara input dan output. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) itu sifatnya rutin, wajib, dan kalau telat didenda. Uangnya real, transfernya real. Tapi, kenapa fasilitas jalan rayanya sering kali gaib ya?

Logika sederhananya begini, kalau kita bayar iuran pemeliharaan lingkungan di komplek perumahan, kita berharap selokan bersih dan sampah diangkut. Nah, ini kita bayar pajak kendaraan (SWDKLLJ dan PKB) yang katanya buat jalan, tapi kenapa sensasi berkendara di banyak daerah di Indonesia masih seperti simulasi reli Dakar?

Lubang di jalan bukan lagi anomali, tapi fitur tetap. Tambalan aspal yang tidak rata sering kali lebih tinggi dari polisi tidur. Kalau pajak kendaraan terus naik atau minimal stabil di angka jutaan, kenapa shockbreaker motor saya harus ganti setahun sekali gara-gara menghajar lubang? Rasanya seperti bayar langganan Netflix paket Premium 4K, tapi yang didapat malah siaran TV semut-semut dengan kualitas 144p.

Belajar dari pajak kendaraan di negara tetangga

Kalau kita membandingkan dengan negara tetangga, pusingnya makin menjadi-jadi.

Baca Juga:

Motor Bebek Kendaraan Terbaik untuk Latihan Naik Motor, Matic Hanya Ciptakan Pengendara Manja

Pajak Naik dan UMR Mini Bikin Warga Jawa Tengah Bersyukur karena Diberi Kesempatan untuk Menderita Luar Biasa

Di Malaysia, pajak jalan (road tax) untuk kendaraan standar itu sangat terjangkau. Di beberapa negara maju, pajak kendaraan memang mahal, tapi itu digunakan untuk mensubsidi transportasi umum yang super nyaman. Jadi, rakyat punya pilihan, mau bayar pajak mahal buat bawa mobil pribadi, atau naik public transport yang murah dan tepat waktu.

Di Indonesia? Kita kena triple kill. Pertama, harga mobilnya sudah mahal karena berbagai pajak penjualan (PPnBM dll). Kedua, pajak tahunannya (PKB) lumayan menguras kantong. Ketiga, transportasi umumnya (kecuali mungkin di pusat Jakarta) masih menyedihkan.

Jadi kita dipaksa beli kendaraan pribadi karena angkotnya ngetem 3 jam, lalu diperas pajaknya, lalu disuguhi jalanan macet dan rusak. Di negara lain, pajak kendaraan tinggi adalah instrumen pengendali kemacetan (disinsentif). Di sini? Pajak tinggi cuma jadi instrumen pendapatan tanpa solusi kemacetan. Uang diambil, macet tetap dinikmati.

Pajak progresif, hukuman atau keadilan semu?

Selanjutnya soal konsep pajak progresif. Saya paham niat pajak ini mulia, orang yang punya kendaraan lebih dari satu dianggap orang kaya, jadi harus bayar lebih. Masuk akal.

Akan tetapi, praktiknya sering kali absurd. Banyak keluarga kelas menengah yang punya dua motor bukan karena mau koleksi atau gaya-gayaan, tapi karena kebutuhan. Bapaknya kerja di utara, ibunya kerja di selatan, anaknya sekolah di barat. Angkutan umum tidak menjangkau. Terpaksa beli dua motor.

Lalu negara datang dan bilang, “Wah, kamu punya dua motor? Kamu orang kaya! Kena pajak progresif ya!”

Padahal motornya cuma motor bebek butut tahun 2015 dan satu lagi matic cicilan belum lunas. Pajak progresif ini sering kali memukul rata tanpa melihat value aset atau urgensi kebutuhan. Alih-alih merasa berkontribusi pada negara, rakyat malah merasa dihukum karena berusaha bertahan hidup di kota yang tata kota dan transportasinya amburadul.

Jangan sampai salah alamat ketika mengeluh soal pajak kendaraan

Ini poin yang bikin saya pusing sekaligus kasihan sama admin media sosial Direktorat Jenderal Pajak (DJP).

Setiap kali ada isu kenaikan pajak kendaraan atau ribetnya bayar pajak di Samsat, netizen dengan penuh semangat menyerbu akun @DitjenPajakRI. Padahal, Bapak/Ibu sekalian, Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) itu adalah Pajak Daerah.

Uang yang Anda setor itu masuknya ke Pendapatan Asli Daerah (PAD), yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi (melalui Bapenda/Samsat). Jadi, kalau jalan di depan rumahmu rusak parah padahal kamu rajin bayar pajak motor, jangan maki-maki orang pajak pusat. Marahnya ke gubernur atau bupati/wali kota setempat.

Tapi, ya saya memahami sih orang-orang bingung. Sistemnya saja kadang tumpang tindih. Kita disuruh taat pajak demi pembangunan, tapi kita nggak pernah benar-benar tahu, uang pajak motor Vario saya tahun lalu itu jadi aspal di jalan yang mana? Jangan-jangan cuma jadi anggaran rapat di hotel bintang lima.

Pada akhirnya, saya (dan jutaan rakyat lainnya) akan tetap membayar pajak itu. Bukan karena kami setuju dengan logikanya, tapi karena takut didenda atau motor bodong ditangkap polisi. Tapi, tolonglah, untuk para pemangku kebijakan di daerah, setidaknya kalau uangnya sudah diambil, tolong itu lubang di jalan ditambal yang benar. Jangan pakai tanah merah doang, terus bubar pas hujan turun.

Penulis: Fatikha Faradina
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Dear Bu Sri, Ini Alasan Milenial dan Gen Z Nggak Ikhlas-ikhlas Banget Lapor SPT.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 Februari 2026 oleh

Tags: Kendaraanpajakpajak kendaraanPKB
Fatikha Faradina

Fatikha Faradina

Alumnus D3 Pajak STAN, melanjutkan studi sarjana Manajemen dan Hukum. Mengisi waktu sebagai analis pajak dan pemerhati kebijakan publik.

ArtikelTerkait

Motor Bebek Kendaraan Terbaik untuk Latihan Naik Motor, Matic Hanya Ciptakan Pengendara Manja Mojok.co

Motor Bebek Kendaraan Terbaik untuk Latihan Naik Motor, Matic Hanya Ciptakan Pengendara Manja

7 Maret 2026
zukini produk impor mahal mojok

Dari Zukini, Saya Paham Kenapa Produk Impor Itu Mahal

14 Agustus 2021
Sisi Gelap Kredit Motor yang Nggak Banyak Disadari Pembeli Mojok.co

Alasan Saya Menolak Kredit Motor: Skema yang Merugikan Pembeli, tapi Nggak Banyak yang Menyadari

15 Juni 2024
pajak pendidikan SPT Tahunan PPH orang Pribadi perpajakan Orang Pribadi influencer pajak npwp mojok.co

Skill yang Harus Kamu Miliki sebagai Staff dan Mahasiswa Perpajakan

6 Agustus 2020
pengguna jalan

Memahami Tingkah Para Pengguna Jalan yang Budiman

15 Mei 2019
Panduan Bayar Pajak Kendaraan 5 Tahunan biar Nggak Ribet terminal mojok

Panduan Bayar Pajak Kendaraan 5 Tahunan Anti-Ribet

11 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

WFA ASN, Kebijakan yang Bikin Negara Hemat tapi Pengeluaran ASN Membengkak Parah

WFA ASN, Kebijakan yang Bikin Negara Hemat tapi Pengeluaran ASN Membengkak Parah

27 Maret 2026
ASN Deadwood Memang Sebaiknya Dipecat Saja!

Kalau Ada yang Bilang Semua ASN Kerjanya Nganggur, Sini, Orangnya Suruh Berantem Lawan Saya

30 Maret 2026
Kerja Dekat Monas Jakarta Nggak Selalu Enak, Akses Mudah tapi Sering Ada Demo yang Bikin Lalu Lintas Kacau

Kerja di Jakarta Memang Kejam, tapi Masih Banyak Hal yang Bisa Disyukuri dari Kota yang Mengerikan Itu

29 Maret 2026
Orang Waras Pilih Toyota Agya Dibanding Honda Brio, Lebih Keren dan Bebas Julukan Aneh-aneh Mojok.co

Orang Waras Pilih Toyota Agya Dibanding Honda Brio, Lebih Keren dan Bebas Julukan Aneh-aneh

28 Maret 2026
3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan (Wikimedia Commons)

3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan

30 Maret 2026
Pesimis pada Honda Beat Karbu Berubah Respek karena Bisa Awet 12 Tahun Tanpa Rewel Mojok.co

Pesimis pada Honda Beat Karbu Berubah Respek karena Bisa Awet 12 Tahun Tanpa Rewel

27 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Tak Cukup Satu Gaji, Gen Z Rela “Side Hustle” dan Kehilangan Kehidupan demi Rasa Aman dan Puas Punya Pekerjaan Sesuai Keinginan
  • WFH 1 Hari ASN Perlu Lebih Peka terhadap Kondisi Pekerja Informal
  • Kisah Penerima Golden Ticket Unair dari Ketua Padus hingga Penghafal Al-Qur’an, Nggak Perlu “Plenger” Ikut SNBP-Mandiri untuk Diterima di Jurusan Bergengsi
  • Pekerja Jakarta Resign Pasca-THR Bukan karena Gaji, tapi Muak dan Mati Rasa akibat Karier Mandek dan Rekan Kerja Muka Dua
  • Nekat Resign After Lebaran karena Muak Kerja di Kantor Toxic, Pilihan “Ngawur” untuk Cari Happy tapi Stres Tetap Tak Terhindarkan
  • Pekerja Jogja Kangen Mengadu Nasib di Bali, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.