Jadi warga Tegal bukan sekadar soal domisili, tapi ujian mental karena harus menelan kekalahan demi kekalahan

Jadi warga Tegal bukan sekadar soal domisili, tapi ujian mental karena harus menelan kekalahan demi kekalahan Mojok.co

Jadi warga Tegal bukan sekadar soal domisili, tapi ujian mental karena harus menelan kekalahan demi kekalahan (unsplash.com)

Begini rasanya jadi orang Tegal ..

Kampung halaman semestinya adalah ruang paling nyaman untuk pulang. Sebuah koordinat di peta di mana waktu berjalan lebih lambat dan tiap sudutnya menyimpan memori. Itu teorinya. Namun, waktu seringkali mengubah segalanya. Bayangan ideal kita akan kampung halaman pun perlahan kabur. 

Akan tetapi, apakah kita bisa melawan waktu? Tentu tidak. Perubahan adalah keniscayaan yang tak mungkin ditolak. Kota-kota bertumbuh, zaman bergeser, dan kampung halaman menjelma menjadi tempat yang asing. 

Kota kelahiran saya, Tegal, juga tak luput dari roda transformasi tersebut. Sayangnya, perubahan yang terjadi terasa begitu memburu. Tiap sudut Tegal kini berubah menjadi mesin-mesin penghabis uang warganya.

Di daerahnya sendiri warga merasa “kalah” dan tak berdaya terhadap perubahan yang ada. 

Kafe menjamur di Tegal siapa sih target market-nya?

Kalian tahu? Sebagai orang yang sudah tinggal selama 23 tahun di kota Tegal dan sekarang bermukim di kabupatennya, saya selalu clingak-clinguk kagum tiap kali ke Tegal. Pasalnya, selalu saja ada yang baru di sana. Entah coffee shop, tempat makan, hotel… apa saja! Bahkan, pernah dalam satu waktu, ada 3 tempat nongkrong baru diresmikan di Tegal. Ajib nggak, tuh?

Yang lebih ajib lagi, ketika saya kepo dengan harga-harga di kafe tersebut. Ternyata harganya nggak sebanding dengan UMK Tegal yang cuma Rp2,5 juta. Mahal-mahal, Bos! 

Nasi goreng paling murah Rp50.000, kentang goreng Rp35.000, sementara minuman paling murah air mineral Rp15.000. Kalau kopi-kopian, paling murah Americano seharga Rp30.000. Harga menu lainnya? Jangan ditanya. 

Maksud saya begini. Kafe-kafe di Tegal yang banyak itu, yang menawarkan secangkir kopi dengan harga yang bisa untuk makan sehari penuh itu, siapa sih target market-nya? 

Sedangkan UMK Tegal saja segitu imutnya. Ini bukan hanya saya saja yang heran, ya. Buktinya, saya sering menemukan komentar warga lokal yang menduga bahwa daerahnya jadi tempat cuci-cuci. If you know, you know.

Porsi kekalahan lainnya

Seporsi kekalahan warga kota Tegal tidak hanya pada menjamurnya tempat nongkrong elit, tapi juga karena kebijakan tata kota yang kerap membingungkan. 

Contohnya, City Walk. Landmark yang disebut-sebut jadi Malioboronya Tegal ini, jujur, kalau dilihat-lihat hanya seperti jalan satu arah yang sempit, susah parkir dan nggak tahu mau ngapain di sana. 

Ditambah penerapan sistem satu arah di sejumlah jalur pusat kota yang justru jadi sumber frustrasi harian. Terbaru, aturan parkir di area Alun-Alun Kota Tegal yang sekarang tersentral. Secara konsep bagus, sih. Cuma, kok jalan ke alun-alunnya jadi jauh gini, ya? Capek banget.

Semakin lelah karena …

Dan, kalau dikaitkan dengan semakin banyaknya kafe, hotel, dan banyak hal lain yang disebutkan di awal, maka kekalahan warga Tegal jadi bertambah lagi. Yaitu, soal drainasenya.

Pertengahan Juni lalu, kawasan Jalan Mayjen Sutoyo, salah satu jalan utama, diguyur hujan. Ehhh, baru 15 menit hujan turun, air sudah menggenang. Genangan paling parah di depan Pacific Mall. Kafe yang ada di sekitar situ juga tak luput dari banjir di area depannya.

Dahlah. Capek banget memang jadi warga Tegal. 

Sudah saatnya Pemerintah Kota Tegal mengerem gairah pembangunan gedung komersial yang ugal-ugalan. Mending mulai serius deh memperbaiki drainase. Evaluasi total juga perlu dilakukan terkait kebijakan lalu lintas satu arah dan parkir alun-alun yang tersentral. 

Saya yakin Pemerintah Kota Tegal adalah orang-orang hebat yang mau mendengar warganya. Buktinya, kebijakan Car Free Night di Alun-alun Kota Tegal yang baru seumur jagung itu, dicabut juga kan karena desakan warga? 

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Pengakuan orang Semarang yang kalah mental menghadapi garangnya kuliner kambing Tegal.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version