Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Jokowi Cuma Peduli Sama Gimmick Pakaian Adat, Bukan Masyarakat Adatnya

Ananda Bintang oleh Ananda Bintang
21 Agustus 2020
A A
Djoko Tjandra Jokowi MOJOK.CO

Djoko Tjandra Jokowi MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Pada perayaan 17 Agustus kemarin setidaknya ada satu hal yang menarik perhatian publik selain lomba makan kerupuk virtual atau lomba-lomba Agustusan yang divirtualkan lainnya, yaitu tentang pakaian adat yang dipakai Pak Jokowi saat pidato sidang tahunan MPR.

Semenjak Jokowi menjabat sebagai presiden, blio memang selalu melakukan hal-hal di luar kebiasaan presiden sebelumnya. Seperti melakukan salat Ied di berbagai masjid di Indonesia yang nggak cuman salat di Istiqlal seperti kebiasaan presiden sebelumnya.

Sampai pada rangkaian perayaan 17 Agustusan kemarin, Jokowi menggunakan baju adat yang konon katanya untuk merepresentasikan masyarakat Indonesia yang beragam beserta alasan-alasan klise tentang keberagaman lainnya.

Eits, tapi jangan disimpulkan begitu saja lho yha. Pak Jokowi memang kadang suka melakukan hal-hal penuh tanda dan metafor untuk semata menguji daya kritis rakyatnya. Saya jadi teringat dengan artikel Mojok tentang cara terjitu melihat kondisi negara adalah dengan mendengarkan apa yang dikatakan Jokowi, lalu lihat sebaliknya.

Dan ternyata, hal tersebut juga berlaku dengan apa yang dikenakan Jokowi. Tepat pada 17 Agustus kemarin, ketika Jokowi menggenakan pakaian adat dari Timor Tengah Selatan, esoknya terjadi tindakan represif dari aparat kepada masyarakat adat Pubabu yang juga berada di Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT. Saya jadi takut kalau Pak Jokowi menggenakan jersey klub bola kesayangan saya hehe.

Seperti konflik yang biasa terjadi di masyarakat adat, konflik yang terjadi di Timor Tengah Selatan ini lagi-lagi dipicu oleh sengketa lahan antara pemprov Nusa Tenggara Timor dengan masyarakat adat Pubabu. Pihak Pemprov tadinya berjanji akan membuka dialog dulu dengan masyarakat adat terkait dengan lahan adat tersebut, alih-alih dialog dengan mulut, pemprov malah langsung maen hantem aja nggusur lahan milik masyarakat adat Pubabu.

Terlepas dari kebetulan atau bukan, sebenarnya apa yang dilakukan Jokowi dengan pakaian adatnya ini saya yakin hanyalah gimmick semata, Vincen Desta kalah dah. Gimana nggak gimmick, kalo kriminalisasi dan kekerasan terhadap masyarakat adat aja masih terjadi bahkan di tengah perayaan kemerdekan Indonesia.

Kata-kata tentang merdeka yang muncul di “sekitaran istana” jadi nggak relevan buat masyarakat adat yang terkriminalisasi itu. Bahkan menurut salah satu anggota AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) masyarakat adat kini menghadapi bentuk lain kolonialisme yang malah dilakukan oleh sesama bangsanya sendiri. Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia mencatat sepanjang Januari hingga awal Desember 2019, setidaknya 51 anggota masyarakat adat menjadi korban kriminalisasi.

Baca Juga:

Momen Pulang ke Lembata NTT Setelah Sekian Lama Merantau di Jawa Diliputi Rasa Kaget, Kampung Halaman Banyak Berubah

Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya

Selain belum merdeka dari “kolonialisme” sepenuhnya, masyarakat adat juga belum merdeka dari stigma masyarakat yang masih menganggap masyarakat adat itu kotor, primitif, terbelakang, asing, hingga perambah hutan.

Nah, bukannya mengubah stigma negatif yang hadir di masyarakat, pemerintah justru malah makin memperkeruh stigma tersebut terhadap masyarakat adat.

Padahal, kalau pemerintah emang peduli dengan masyarakat adat, sebenernya pemerintah Jokowi sekarang bisa melanjutkan RUU Masyarakat Adat yang sudah mandek dari tahun 2009. RUU Masyarakat Adat ini bertujuan untuk melindungi hak ekonomi dan kepastian masyarakat adat, sehingga ketidakpastian hukum yang sering menjerat masyarakat adat akan lebih jarang terjadi.

Alih-alih melanjutkan RUU Masyarakat Adat yang sebenarnya bisa lebih dirasakan oleh masyarakat adatnya itu sendiri, pemerintah sekarang malah justru mau menerbitkan Omnibus Law yang jelas-jelas bakal merugikan hak-hak Masyarakat adat yang sudah diatur di dalam UUD 1945.

Dari sekian banyak solusi yang sebenernya bisa dilakukan Jokowi sebagai presiden Indonesia untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat adat, blio malah memutuskan untuk menggenakan pakaian adat dari berbagai masyarakat adat yang masyarakat adatnya sendiri nggak punya akses yang baik untuk melihat pakaian adatnya itu dipakai presiden.

Gimana mau liat, orang akses internet buat ngeyutup aja nggak ada. Jangankan internet, keadilan aja nggak ada dech, Pak Jokowi.

BACA JUGA Kamu Kila Cadel Itu Lucu? Sembalangan! dan tulisan Ananda Bintang lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 21 Agustus 2020 oleh

Tags: JokowiNTTpakaian adatpubabu
Ananda Bintang

Ananda Bintang

ArtikelTerkait

Yang Heboh dan Menyedihkan dari Banjir Jakarta: Jokowi, Coki, Yuni Shara, dan Foto Ketimpangan

Yang Heboh dan Menyedihkan dari Banjir Jakarta: Jokowi, Coki, Yuni Shara, dan Foto Ketimpangan

3 Januari 2020
Rekomendasi Relawan dan Influencer yang Pantas Dapat Jatah Jabatan terminal mojok.co

Rekomendasi Relawan dan Influencer yang Pantas Dapat Jatah Jabatan

6 November 2020
Terima Kasih, Pak Jokowi, 10 Tahun Kepemimpinan Anda Penuh dengan Pelajaran yang Begitu Berharga, Beneran

Terima Kasih, Pak Jokowi, 10 Tahun Kepemimpinan Anda Penuh dengan Pelajaran yang Begitu Berharga, Beneran

16 Oktober 2024
Daripada Blusukan Daring, Gibran Rakabuming Mending Lakukan Hal yang Lebih Wangun kaesang pilkada jokowi terminal mojok.co

Prediksi Duel Maut: Gibran-Teguh vs Kotak Kosong di Solo, Siapa yang Bakal Menang?

21 Juli 2020
Ironi Mahasiswa Jurusan Pendidikan: Buangan dan Tidak Ingin Menjadi Guru Mojok.co

Kalau Guru Adalah Penentu Peradaban, Lha yang Lain Ngapain?

26 November 2023
Saya Heran Pak Jokowi Heran dengan Kondisi Jalan Raya Solo-Purwodadi, kan Emang Udah Rusak dari Dulu, Pak!

Saya Heran Pak Jokowi Heran dengan Kondisi Jalan Raya Solo-Purwodadi, kan Emang Udah Rusak dari Dulu, Pak!

26 Juli 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Realitas Mahasiswa UNNES Gunungpati: Ganti Kampas Rem yang Mengacaukan Keuangan, Bukan Kebutuhan Kampus Mojok.co

Rajin Ganti Kampas Rem, Kebiasaan Baru yang (Terpaksa) Tumbuh Pas Jadi Mahasiswa UNNES Gunungpati

20 Februari 2026
Pengalaman Bertahun-tahun Naik Honda Revo, Motor Paling Nggak Ribet dan Tahan Banting yang Pernah Ada Mojok.co

Pengalaman Bertahun-tahun Naik Honda Revo, Motor Paling Nggak Ribet dan Tahan Banting yang Pernah Ada

21 Februari 2026
5 Barang Private Label Indomaret yang Ternyata Lebih Unggul Dibanding Merek-merek yang Sudah Besar Mojok.co

5 Produk Private Label Indomaret yang Ternyata Lebih Unggul Dibanding Merek yang Sudah Besar

25 Februari 2026
Ironi Lumajang: Dekat dengan Laut, tapi Sulit Menemukan Seafood

Ironi Lumajang: Dekat dengan Laut, tapi Sulit Menemukan Seafood

25 Februari 2026
5 Takjil Red Flag yang Bisa Membahayakan Kesehatan Pembeli terminal

5 Takjil Red Flag yang Bisa Membahayakan Kesehatan Pembeli

24 Februari 2026
Botok Tawon, Makanan Unik Jawa Timur yang Rasanya Enak, tapi Saya Tak Sudi kalau Disuruh Makan Lagi

Botok Tawon, Makanan Unik Jawa Timur yang Rasanya Enak, tapi Saya Tak Sudi kalau Disuruh Makan Lagi

26 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur
  • Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman
  • Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga
  • Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT
  • Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi
  • Bapak Kerja Keras 60 Jam agar Keluarga Tak Hidup Susah, Ternyata bagi Anak Itu Tak Cukup untuk Disebut “Kasih Sayang”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.