Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Jogja Sebenarnya Tidak Romantis Jika Kamu Cuma Punya Gaji UMR

Anisa Dewi Anggriaeni oleh Anisa Dewi Anggriaeni
10 April 2020
A A
kenapa UMP Jogja rendah titik kemacetan di jogja lockdown rekomendasi cilok di Jogja Sebenarnya Tidak Romantis Jika Kamu Cuma Punya Gaji UMR dawuh dalem sabda pandita ratu tugu jogja monarki mojok

Jogja Sebenarnya Tidak Romantis Jika Kamu Cuma Punya Gaji UMR dawuh dalem sabda pandita ratu tugu jogja monarki mojok

Share on FacebookShare on Twitter

2 tahun lalu saya pernah bikin polling di Instagram, terkait kota mana yang lebih romantis: Bandung atau Jogja, tentu saja itu iseng. Tidak ada tolok ukur atau standar yang digunakan untuk memenuhi kelayakan kota paling romantis, yang kalian kalau tanya saya, jawabannya Paris hehe. Hasil polling saat itu 49-51, 49 persen untuk Bandung, dan 51 persen untuk Jogja.

Saya juga masih ingat, pacar saya merespon “Halah, semua kota yang ada penggusurannya kok disebut romantis.” Lalu saya jawab “Tidak juga, Majalengka ada penggusuran saya tidak menyebut kota romantis”. Saat itu memang bertepatan dengan pembangunan bandara Yogyakarta International Airport, dan penggusuran kepada warga Kulon Progo, sementara di Bandung ada program Kotaku (Kota tanpa kumuh) dari Wali kota Bandung. Rumah-rumah yang masuk ke dalam rencana Kotaku juga dalam upaya penggusuran.

Kalau dipikir-pikir kok ya agak ngilu. Tiba-tiba saja kepikiran kalau perjuangan-perjuangan merekalah yang sesungguhnya romantis. Perjuangan untuk terus melawan dan merebut ruang hidup mereka kembali, perjuangan untuk terus hidup.

Lalu kenapa hari ini masih banyak orang yang memuja dan terus meromantisir Jogja? Padahal dari segi UMR saja tiap 1 Mei sudah pasti ada protes dari buruh dan mahasiswa, utamanya anak-anak UIN. Harga kosan yang saya pikir lebih murah dari Bandung, ya minimal dari sekitaran kampus saya dulu, ternyata sama saja. Berkisar di antara 500-600 ribu rupiah.

Mari coba kita hitung UMR Jogja cukup buat apa saja? Untuk Upah Minimum Provinsi (UMP) DIY sekitar Rp. 1.704.608 angka paling rendah jika dibandingkan UMK DIY yang lain. Nah UMK Kota Jogja sendiri Rp. 2.004.000.

Taruhlah 500 ribu untuk bayar kosan, untuk makan perhari 20 ribu, itu pun kalau masak nasi sendiri. 20 ribu x 30 saja sudah 600 ribu. Belum lagi berasnya 1 kilo itu 10-13 ribu, biasanya yang harga 10 ribu berasnya agak kecoklatan. Jadi ambil tengahnya, 12 ribu lah. Satu kilo untuk diri sendiri bisa bertahan 5 hari, bergantung banyaknya konsumsi, kalau satu porsi tidak cukup satu centong, tiga hari juga sudah habis. Kalau dihitung kira kira sebulan 6 kilo. 6 kilo x 12 ribu hasilnya 78 ribu.

Itu baru kebutuhan pokok, belum kalau peralatan mandi habis, sabun, pasta gigi, deterjen, pewangi, pengharum ruangan, shampoo, parfum, facial foam, pelembab, cutton bad ya sekitar 200 ribu lah ya. Jajanan, kalau suatu waktu pengen ngemil, rokok, kalau perempuan butuh pembalut. nongkrong sama temennya, apa iya masih bisa nabung? Terus ambil KPR? Membangun keluarga yang harmonis dan punya rumah yang hangat dengan hanya UMR Jogja kok rasanya mustahil ya :(.

Sederhananya, dari pengeluaran di atas seperti ini,
Bayar kosan: 500 ribu
Makan harian: 600 ribu
Beras: 78 ribu
Air galon: 12 ribu ( sekali isi 6 ribu, satu bulan 2 galon cukup)
Alat mandi: 200 ribu
jajan ke Indomaret atau Alfamart: 200 ribu (sebulan)
Nongkrong: 200 ribu (Rokok, kopi, french fries, gorengan di kali sebulan)
BBM: 50 ribu
Rokok: 88 ribu (perbungkus 22 ribu x4, paket hemat sehari 2 batang, satu bungukus untuk satu minggu)
Kuota internet: 100 ribu

Baca Juga:

Kalau Mau Ketemu Orang Baik, Coba Naik Trans Jogja

Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja

Total : Rp. 2.024.000, UMK Jogja 2.004.000, bayangkan Sodara itu malah mines. Padahal sudah saya coba hitung dengan anggaran yang hemat tapi layak heuheu.

Selesai soal pendapatan di Jogja mari beralih ke kasus intoleransi di Jogjakarta. Mengutip buku “Krisis Keistimewaan” yang dipublikasikan oleh CRCS UGM sepanjang tahun 2016 ada 13 kejadian kekerasan bernuansa identitas di Jogjakarta. Mulai dari pembubaran diskusi, penghentian paksa ibadah sampai klitih. Lah nggak ngeri gimana? Keistimewaan Jogja seakan luntur oleh sikap intoleransi yang dilakukan orang-orang tertentu. Jogja berhati nyaman menjadi Jogja mencekam.

Yang tidak habis saya pikir kepada temen temen saya yang membayangkan Jogja, teduh, rindang, nyaman, sejuk, halaaah halaah mon maap itu bukan Buah Batu tahun 90 Gaes. Jogja sama saja dengan Priok, Bekasi, Depok sama-sama panas dan macet. Apalagi kalau jam dan pulang kerja, ripuh Bray.

Jogja, tak ubahnya Jakarta, sudah banyak mall-mall yang berdiri tegak, hotel-hotel yang sengaja dibangun untuk menampung para wisatawan. Sangkin maraknya pembangunan hotel dan apartemen warga sekitar kadang kesulitan air jika musim kemarau, kalau tidak percaya tonton saja video series di kanal Youtube Watchdoc yang judulnya “Belakang Hotel”.

Saya mencoba menerka-nerka mengapa Jogja menjadi kota yang serat puisi, cinta, kenangan dan hal lain yang turut merayakan perasaan? Padahal teman-teman saya yang tinggal di Jogja merasa ingin cepat keluar dan mendapat penghidupan yang lebih layak, mereka yang di luar Jogja, menjadikan kota itu sebagai pelarian dan jeda untuk mengambil nafas dari hiruk-pikuk ibu kota. Jogja yang terbiasa menyambut pertemuan dan merelakan perpisahan. Tapi tetap saja, Jogja menyisakan banyak problematik yang tidak romantik.

BACA JUGA Jogja dari Sudut Pandang Mahasiswa Baru dan tulisan Anisa Dewi Anggriaeni lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 10 April 2020 oleh

Tags: intoleransiJogjaklitihromantisme jogjaumr jogja
Anisa Dewi Anggriaeni

Anisa Dewi Anggriaeni

Makan bubur tanpa diaduk, makan soto dengan nasi terpisah.

ArtikelTerkait

Kuliah Merantau di Jogja, eh Dikira Klitih karena Pakai Scoopy (Unsplash)

Pengalaman Pahit Menjadi Mahasiswa Rantau di Jogja ketika Motor Scoopy Saya Disangka Motornya Pelaku Klitih

3 November 2025
5 Masjid di Jogja yang Sudah Ada Sebelum Indonesia Merdeka

5 Masjid di Jogja yang Sudah Ada Sebelum Indonesia Merdeka

1 April 2023
5 Angkringan Kulon Progo yang Murah, Enak, dan Nyaman terminal mojok.co

5 Angkringan Kulon Progo yang Murah, Enak, dan Nyaman

9 November 2021
Tips Anak Rantau Jawa Timur yang Cari Makan di Jogja terminal mojok.co

Tips Anak Rantau Jawa Timur yang Cari Makan di Jogja

13 Desember 2021
4 Rekomendasi Kuliner Jogja untuk Wisatawan Surabaya yang Lidahnya Rewel Mojok.co

4 Rekomendasi Tempat Kuliner Jogja untuk Wisatawan Surabaya yang Lidahnya Rewel

15 September 2025
5 Aturan Tidak Tertulis yang Perlu Kamu Ketahui Jika Ingin Ngopi di Toko Kopi Tuku Jogja

5 Aturan Tidak Tertulis yang Perlu Kamu Ketahui Jika Ingin Ngopi di Toko Kopi Tuku Jogja

1 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengeluaran Tak Terduga setelah Menikah, Bikin Pusing dan Hampir Berutang Tiap Bulan Mojok.co

Pengeluaran Tak Terduga setelah Menikah, Bikin Pusing dan Hampir Berutang Tiap Bulan

24 April 2026
Bantul Nggak Punya Bioskop, tapi Warlok Nggak Kekurangan Tontonan Menghibur karena Ada Jathilan hingga Lomba Voli Mojok.co

Hidup di Bantul Tanpa Bioskop akan Baik-baik Saja Selama Ada Jathilan hingga Tanding Voli

23 April 2026
3 Ciri Penjual Nasi Goreng Merah Surabaya yang Sudah Pasti Enak Mojok.co

3 Ciri Penjual Nasi Goreng Merah Surabaya yang Sudah Pasti Enak

21 April 2026
3 Hal Sederhana yang Membuat Kami Cleaning Service Bahagia (Unsplash)

3 Hal Sederhana yang Membuat Kami Cleaning Service Bahagia

25 April 2026
Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja

Saya Orang Wonogiri, Kerja di Jogja. Kalau Bisa Memilih Hidup di Mana, Tanpa Pikir Panjang Saya Akan Pilih Jogja

24 April 2026
Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja Mojok.co

Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja

26 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman
  • Alifa Moslem Babypreneur Daycare Jadi Penyelamat Orang Tua yang Harus Kerja dan Jogja yang Minim Ruang Bermain Anak
  • Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka
  • 4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun
  • UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang
  • Anak Usia 30-an Tak Ingin FOMO Pakai FreshCare, Setia Pakai Minyak Angin Cap Lang meski Diejek “Bau Lansia”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.