Jogja Kota Pelajar Bukan Cuma Soal UGM, tapi Soal Standar Pendidikan dari SD yang Sudah Kompetitif

Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya Mojok.co kota pelajar

Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya (unsplash.com)

Banyak orang di luar sana masih menganggap Jogja menyandang predikat Kota Pelajar cuma karena punya deretan kampus mentereng seperti UGM, UNY, atau UII. Padahal, pandangan itu sudah usang dan jauh dari relevan. Nyatanya, sistem pendidikan yang kompetitif di kota ini sudah mengakar kuat jauh sebelum seseorang menyentuh bangku perkuliahan.

Percayalah, di Jogja, ambisi akademik itu bukan dimulai saat pendaftaran mahasiswa baru. Aura kompetitif tersebut justru sudah dipupuk sejak anak-anak masih memakai seragam putih-merah. Standar pendidikan dari tingkat SD sampai SMA di Kota Gudeg ini punya taring yang cukup tajam.

Jadi, jangan heran kalau sempat viral opini warganet yang bilang bahwa ajang flexing orang Jogja itu bukan lagi soal harta atau jabatan, melainkan soal pendidikan.

Gengsi pendidikan yang tinggi

Ada semacam beban sosial dari orang tua dan lingkungan sekitar mengenai tempat anak harus menuntut ilmu. Ini bisa dimaklumi mengingat vibes akademis di Jogja itu kental. Kalau sudah punya hak istimewa tinggal di Jogja tapi cuma bisa bersekolah di tempat medioker, rasanya seperti membuang kesempatan emas. Mending, sekalian saja tinggal di kota kecil yang nggak punya fasilitas pendidikan mumpuni.

Di sisi lain, sekolah itu wujud lain dari sebuah unit bisnis. Membaca pasar yang ambisius dan semakin terfragmentasi sekarang ini, sekolah mulai menerapkan prinsip marketing, yakni pasar sasaran. Artinya, mereka menawarkan proposisi nilai yang beragam. Ada yang jago di kewirausahaan, unggul di teknologi, atau fokus mengasah nilai keagamaan.

Pengkhususan ini jadi sinyal kuat kalau orang tua dan anak sudah dituntut punya gambaran besar tentang masa depan sejak dini. Sekolah kini seperti pabrik yang mencetak murid menjadi spesialis, bukan lagi generalis yang serba tahu tapi tanggung. Pelan tapi pasti, masyarakat mulai sadar kalau di era yang kompetitif ini, anak mesti punya kedalaman ilmu biar bisa bertahan.

BACA JUGA: Jogja, Kota Pelajar yang Mengajarkan Saya Ikhlas Menderita

Fenomena sekolah sesi kedua di bimbingan belajar

Bukan hanya kelas formal, fasilitas les atau bimbel pun kian menjamur di Jogja. Budaya ini tumbuh subur karena adanya standar akademik nggak tertulis yang tinggi di sekolah-sekolah unggulan. Bagi para orang tua, bimbel dianggap sebagai asuransi agar sang buah hati nggak tertinggal dalam perlombaan nilai rapor yang kian ketat.

Kurikulum di bimbel-bimbel ini pun sering kali selangkah lebih maju dari apa yang diajarkan di sekolah. Kalau di sekolah anak baru belajar penjumlahan, di bimbel mereka mungkin sudah diminta membedah soal cerita yang butuh logika tingkat mahir. Dampaknya, anak-anak SD di Jogja seolah dituntut untuk menjadi mahasiswa mini.

Ruang bermain mereka pelan-pelan tergerus oleh jadwal kursus. Ada tanggungan mental yang menghantui murid, bahkan sejak di bangku SD, kalau mereka menjaga nilai rapor agar tetap gemilang demi mengamankan kursi di sekolah favorit pada jenjang berikutnya. Ingat, belajar di sekolah yang biasa-biasa saja di Jogja itu sama sekali bukan pilihan buat mereka.

Kontradiksi biaya pendidikan yang tinggi dengan UMP Jogja yang mungil

Yang nggak kalah ironis dari hiruk-pikuk perang nilai rapor tadi adalah realitas ekonomi yang menghimpit. Di satu sisi, Jogja menuntut standar pendidikan yang nggak main-main. Maksudnya, butuh modal besar untuk biaya sekolah swasta unggulan, bimbingan belajar, hingga beragam les tambahan agar anak tetap bisa berlari di lintasan yang dirancang orang tuanya.

Namun di sisi lain, publik juga tahu bahwa Jogja adalah salah satu wilayah dengan UMP yang tergolong irit di Indonesia. Ada jurang lebar antara tuntutan biaya pendidikan yang selangit dengan realitas pendapatan rata-rata masyarakatnya. Orang tua di Jogja sering kali harus melakukan akrobat finansial yang luar biasa.

Mungkin perkara ini nggak seberapa bagi mereka yang kaya. Sayangnya, ini adalah perkara pelik bagi kelas menengah yang kudu lihai menyeimbangkan biaya sekolah dan kebutuhan lainnya. Padahal, mereka juga punya asa kalau pendidikan bagus merupakan satu-satunya jalan keluar buat meningkatkan taraf hidup.

Hasilnya? Pendidikan berkualitas, yang seharusnya menjadi alat untuk mobilitas sosial, justru pelan-pelan berubah menjadi barang mewah yang hanya bisa diakses oleh mereka yang punya bantalan ekonomi lebih tebal. Menyekolahkan anak di Jogja bukan lagi sekadar memberi ilmu. Tapi, sebuah taruhan besar di mana mereka harus rela mengencangkan ikat pinggang berkali-kali lipat demi menjaga gengsi akademis di Kota Pelajar yang katanya murah ini.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Predikat Jogja Sebagai Kota Pelajar Dinilai Sirna karena Faktor Keamanan hingga Biaya Hidup Mahal

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.a

Exit mobile version