Menurut keyakinan saya, yah menurut keyakinan saya, Jogja tidaklah Istimewa seperti yang orang-orang Jakarta yang pergi ke Jogja saat liburan yang bikin macet dan main klakson katakan. Sebab di sudut-sudut yang tak tersorot lampu terang tempat wisata, ada tunawisma yang meringkuk kedinginan di ujung malam.
Saya menemukan fakta mencengangkan saat saya mengikuti kegitan komunitas Sega Mubeng Kotabaru. Sedikit latar belakang, komunitas ini adalah komunitas sosial yang berbagi makanan kepada kelompok yang terpinggirkan di Kota Jogja seperti tukang sapu jalananan, tunawisma, buruh gendong, juga tukang becak. Apa-apa yang saya lihat saat mengikuti kegiatan itu bikin hati saya runtuh seruntuh-runtuhnya.
Setiap Rabu malam, Komunitas Sega Mubeng membagikan Roti dan minuman hangat di berbagai rute di Jalanan kota Yogyakarta. Ada spot-spot tertentu di Kota Jogja yang saya lihat berisikan dengan tunawisma. Seperti di sepanjang Jalan Brigjen Katamso, banyak sekali tunawisma yang tidur di emperan toko ketika malam. Kebanyakan dari mereka bukanlah orang asli Jogja. Ada yang dari Magelang, Klaten, dan wilayah lainnya di Pulau Jawa.
Tapi, ada juga yang dari Jogja seperti ia dari Bantul, Kulon Progo dan Gunungkidul. Mereka mengantungkan hidup mereka dari pekerjaan seperti tukang rongsok, tukang becak kayuh, yang kadang tidak pulang hingga seminggu.
Jogja gemerlap, nasib tunawisma begitu gelap
Sungguh ironi memang. Di tengah gemerlapnya kota Jogja yang terkenal sebagai Kota Pendidikan dan juga destinasi wisata nasional, masih ada tunawisma yang jauh dari perhatian pemerintah. Di tengah gemerlapnya keindahan-keindahan yang diduplikasi jutaan kali di media sosial, masih ada orang-orang yang menderita dan tak tersorot cahaya.
Inilah wajah Jogja yang tak mungkin tersorot di postingan medsos dengan lagu mendayu. Padahal, nasib mereka begitu menyedihkan, tapi jauh dari uluran tangan.
Seperti tunawisma yang saya temui didaerah Pasar Kranggan dekat Tugu Jogja. Sebut saja Pak X. Saya coba menawarinya mau minuman hangat, dia mengatakan tidak mau minum. Dia bilang ingin makan karena lambungnya sakit gara-gara hanya makan sekali dalam 3 hari. Dengan sigap, saya memberikan 2 roti yang saat itu saya bawa.
Pak X lalu bercerita bahwa dirinya berasal dari Pekalongan dan mencari peruntungan di Jogja sebagai seorang pemulung. Dia tidak memiliki tempat tinggal, dan hal itu membuatnya berpindah-pindah tempat untuk dapat beristirahat di malam hari. Lalu kemudian setelah rongsoknya banyak baru ia setorkan ke pengepul yang ada di Godean.
Tidak mudah baginya hidup seperti ini, tapi itulah hidup yang harus ia jalani. Kadang dia harus berjibaku melawan dingin yang menusuk saat tidur di emperan toko dalam keadaan hujan. Dia harus pergi pagi-pagi sebelum diusir oleh pemilik toko.
Benar kata Adhitiya Sofyan, selalu ada sesuatu di Jogja. Dan kali ini, yang dimaksud adalah rintihan pelan orang-orang tak beruntung.
BACA JUGA: Danais Triliunan, tapi Mbah-mbah di Jogja Tetap Tidur di Trotoar
Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara negara (?)
Rute Sega Mubeng berpindah ke daerah jalan AM Sangaji, dekat dengan Hotel Pop yang banyak becak mangkal di situ. Bagi yang hidup di Jogja, pasti tahu bahwa depan hotel itu banyak becak yang mangkal di situ. Menunggu penumpang, yang jujur saja, belum tentu ada, dan seringnya tidak ada.
Di situ, saya berbincang dengan salah satu tukang becak. Sebut saja namanya Pak Sumadi. Beliau sudah menunggu sejak pagi, tapi belum juga mendapatkan penumpang satu pun. Saya tebak, tukang becak lain pun kira-kira bernasib sama.
Tapi ya, inilah dunia nyata. Kemajuan zaman menggilas profesi ini tanpa ampun. Wisatawan dan orang lokal lebih memilih ojol ketimbang becak kayuh. Saya tak bilang pilihan mereka salah atau bagaimana. Tapi tetap saja, melihat tukang becak tidak dapat penumpang bikin hati saya merintih.
Perjalanan saya malam ini memberi saya satu kesimpulan: Jogja Tidaklah Istimewa. Sebab ada bagian-bagian gelap, yang berisi tunawisma tidur meringkuk, kedinginan, lapar, lalu bangun untuk mengulangi penderitaan yang sama di esok harinya.
Orang-orang membanggakan Dana Istimewa, satu hal yang memisahkan Jogja dari kota lainnya, nyatanya hampir tidak ada efeknya untuk orang-orang tersebut. Dalam amanat undang-undang, katanya, fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Tapi yang saya lihat, yang memeluk erat mereka dengan begitu tulus hanyalah penderitaan.
Penulis: Ferry Mahulette
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
