Jogja Istimewa Itu Benar, tapi Nggak Bener-bener Amat

Jogja Istimewa: Realitas atau Ilusi? kill the DJ

Jogja Istimewa: Realitas atau Ilusi? (Bangoland via Shutterstock.com)

Jogja Istimewa itu benar, tapi tidak semua daerahnya bisa disebut istimewa

Sedari kecil hingga kini menetap di daerah luar Jogja, nama provinsi satu ini sudah merecoki telinga saya sejak kecil. Pertama datang dari ayah saya, lulusan salah satu perguruan tinggi yang sangat masyhur di Jogja sana. Kedua, ketika melaksanakan study tour saya sempat melewati Jogja sekilas dengan menikmati suasananya meski tak lama. Ketiga, karena saya pengen banget kuliah ke sana, tapi malah terlempar ke Solo.

Selain itu beberapa lagu tentang Jogja seperti “Sesuatu di Jogja”, “Jogja dan Kenangan”, serta “Djogja” semakin sukses merasuki kepala saya dengan ungkapan Jogja Istimewa. Bukan itu saja, kadang kalau saya scroll Twitter banyak netizen yang bercerita pengalaman indahnya di Jogja. Ada yang ketemuan terus pacaran, mengelilingi kota sambil bercerita, bahkan ke pantai berdua. Ah, jiwa jones saya semakin bergejolak kalau mendengar tentang Jogja. Tapi, kadang bahagia juga mendengar cerita cinta mereka yang kandas di Jogja.

Tentu saya yang ada di pikiran saya, “Jogja pasti tempat yang benar-benar istimewa.’’ Ternyata, saya nggak benar-benar amat.

Hari ini muncul berita tentang tawuran yang terjadi di salah satu daerah di Jogja. Sontak saja hal ini menjadi sebuah lecutan untuk saya yang terlalu mengidam-idamkan Kota Gudeg tersebut. Tempatnya nggak usah saya kasih tau, sebut saja Gotham.

Ada sebuah video yang memperlihatkan ada sekelompok pemuda membawa golok, pistol, dan katana. Bahkan ada yang membuat meme bahwa Jogja adalah wujud sebenarnya dari game GTA. Di satu sisi saya prihatin, sisi lainnya, saya tertawa karena meme itu.

Hal ini membuat saya bertanya-tanya lagi: apakah memang Jogja semewah itu? Dengan kasus perkelahian, pembakaran, bentrokan pemuda, pemerintah Jogja yang masih kalang kabut menyelesaikannya, masihkah Jogja Istimewa?

Kemudian saya teringat lagi dengan fenomena serupa, namun tak sepenuhnya sama bernama klitih. Saat di mana pemuda-pemuda keluar di malam hari sambil membawa golok atau katana untuk mengeroyok pengendara di jalanan yang sepi demi membuktikan dirinya untuk masuk ke sebuah kelompok. Kota mana yang sangat dikenal sebagai penghasil klitih? Jogja. Bukannya saya kasar atau semacamnya, hanya menuliskan fakta saja. No offense, ya.

Tapi di satu sisi ada satu hal yang harus kita akui. Yaitu setiap kota pasti memiliki positif dan negatif. Mungkin Jogja adalah salah satunya. Selama ini mungkin saja di sosmed para netizen menganggap bahwa Jogja itu tempat terkeren di muka bumi. Muncul pula ungkapan yang sangat meracuni orang luar Jogja untuk bertandang ke sana. Misalnya kayak, ‘’Jogja diciptakan saat Tuhan sedang tersenyum.’’

Masih ditambah lagu-lagu tentang Jogja yang bagusnya minta ampun. Bisa dibuktikan bahwa semua lagu tentang Jogja itu sukses besar di masyarakat. Hingga di kolom komennya pun ada netizen yang bercerita tentang suka duka selama di daerah tersebut.

Saya sendiri tidak menampik bahwa Jogja memang sangat memesona. Saya masih ingat ketika study tour ke sana, lampu-lampu jalan, kursi, trotoar, hingga ke masyarakatnya pun sangat amat membekas ke saya. Di luar itu ada faktor lain seperti destinasi wisata, keramahan penduduk, budaya keraton yang kental dan lain sebagainya.

Jadi kesimpulan yang saya ambil adalah, ungkapan Jogja Istimewa itu benar. Tapi, agaknya tidak berlaku ke seluruh tempat di provinsi tersebut. Mungkin hanya beberapa daerah saja yang mendapatkan titel istimewa, sisanya mungkin masih setengah istimewa. Koreksi kalau salah ya.

Saya rasa, ungkapan Jogja Istimewa tersebut hanya dikatakan oleh orang-orang yang fokus ke sisi positif Jogja saja, tapi melupakan sisi negatifnya. Tidak salah kok, namanya juga opini. Orang bebas berkata apa saja. Ngomong-ngomong, saya bukan haters Jogja atau iri sama orang di sana ya, bukan. Justru sampai hari ini saya masih bermimpi untuk bisa menginjakkan kaki ke sana.

Lagi pula, siapa juga yang tidak tertarik dengan Jogja?

Penulis: M. Guntur Rahardjo
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jogja Istimewa: Realitas atau Ilusi?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.
Exit mobile version