Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Jogja Istimewa, Gunungkidul Merana

Jevi Adhi Nugraha oleh Jevi Adhi Nugraha
20 Juli 2022
A A
Jogja Istimewa, Gunungkidul Merana

Salah satu pantai pasir putih di Gunungkidul (Lucky Vectorstudio via Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Hampir setiap hari libur, Gunungkidul selalu dipenuhi para wisatawan yang datang dari berbagai daerah. Hal ini bisa dilihat dari padatnya kendaraan sepanjang jalan Wonosari-Jogja yang tampak tumpah-ruah dipenuhi wajah-wajah sumringah. Dari sekian banyak tempat wisata di Gunungkidul, tampaknya objek wisata pantai masih tetap menjadi primadona para pengunjung. Fenomena ini begitu menggambarkan Jogja Istimewa, seperti yang kita tahu.

Demi menyenangkan hati para wisatawan, pemerintah dengan sigap membelah gunung-gunung di sepanjang jalur wisata pantai untuk dijadikan Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS). Selain mempermudah akses jalan, tentu saja pembangunan JLS ini semata-mata untuk memanjakan para wisatawan agar semakin betah dan full senyum ketika berkunjung ke Gunungkidul.

Tidak cukup sampai di situ, agar lebih nyaman, kini juga sudah telah tersedia hotel-hotel megah dengan fasilitas mewah yang siap menyambut para wisatawan dari berbagai daerah. Dengan adanya fasilitas-fasilitas pendukung ini, diharapkan wisatawan akan semakin membludak dan mampu menarik para investor untuk menanam modal di kawasan wisata pantai selatan.

Banyaknya wisatawan yang datang ke tanah kelahiran saya ini, tidak sedikit orang luar daerah yang kemudian menganggap bahwa masyarakat Gunungkidul semakin hari semakin sejahtera dan makmur. Mengingat wisatawan yang datang tidak dengan tangan kosong, melainkan membawa cuan, sehingga akan berdampak kepada masyarakat luas.

Anggapan tersebut tentu tidak salah, tetapi tidak sepenuhnya benar. Ya, di balik ingar-bingar pariwisata di Gunungkidul yang semakin berkembang pesat, kami sebagian warga Gunungkidul hanya menjadi penonton. Artinya, keuntungan yang didapat dari gebyar wisata ini hanya dirasakan segelintir orang, sisanya tidak sedikit warga yang justru merasa dirugikan.

Ada beberapa contoh kasus atau fenomena getir yang kini tengah dirasakan oleh sebagian masyarakat Gunungkidul di balik senyum bahagia para wisatawan yang datang berbondong-bondong dari berbagai daerah, di antaranya:

Luka Proyek JJLS

Proyek pembangunan JJLS memang sekilas begitu memukau dan mengagumkan. Jalan yang dulunya sempit, naik-turun, gronjal, serta berliku tajam, kini tampak halus dan semakin memudahkan akses para wisatawan yang ingin mengunjungi obyek wisata pantai selatan.

Namun, di balik proyek pelebaran jalan ini menyimpan sekelumit persoalan yang dihadapi warga yang tinggal di kawasan tersebut. Salah satu kasus yang cukup menghebohkan dari pembangunan JJLS adalah pemindahan batu keramat bernama Watu Manten di Jalan Rongkop-Girisubo, tepatnya di Dusun Semampir, Desa Semugih, Kecamatan Rongkop, Gunungkidul.

Baca Juga:

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

Ya, batu yang dianggap sakral oleh masyarakat sekitar tersebut, dipecah lalu dipindahkan di seberang jalan. Padahal, menurut warga sekitar, batu keramat tersebut sejatinya tidak mau dipindah. Namun, oleh para petugas proyek dipaksa menyingkir karena menghalangi proyek pelebaran jalan.

Selain menggusur batu yang memiliki nilai-nilai tradisi tersebut, proyek JJLS ini juga meninggalkan luka bagi sebagian warga yang tanahnya dilalui jalan ini. Saya sempat bertemu dengan salah seorang warga yang mengaku belum mendapatkan ganti rugi secara penuh terkait pembebasan lahan sesuai yang dijanjikan. Bahkan, ia terpaksa harus merelakan beberapa bidang tanahnya karena terkendala masalah administrasi.

Dampak proyek pelebaran jalan ini juga dirasakan oleh sejumlah warga yang memiliki ladang di sekitar  JJLS. Rapuhnya galengan atau tebing jalan yang tidak dikerjakan secara serius, membuat sisa-sisa batu kapur di pinggir jalan tersebut ambrol dan terjun bebas ke lahan pertanian. Tak pelak, hal ini cukup mengganggu aktivitas para petani dan bahkan dinilai bisa merusak tanaman.

Tumbal iklan pariwisata Jogja Istimewa

Hampir setiap hari  mungkin kita melihat atau mendengar gembar-gembor iklan pariwisata di Jogja yang dilakukan pihak-pihak terkait, baik di media online maupun cetak. Banyaknya objek wisata di Gunungkidul yang indah dan memesona, seringkali mereka jadikan headline utama untuk menarik para wisatawan. Tentu saja, hal ini membuat Kota Jogja tampak semakin istimewa dan moncer tiada tanding untuk urusan wisata. Lalu, bagaimana dengan nasib warga Gunungkidul sendiri?

Saya tidak cukup berani mengatakan bahwa tanah Gunungkidul sebenarnya telah dijual oleh mereka para pemilik modal dan mereka yang memiliki kepentingan. Saya hanya ingin mengabarkan kepada wisatawan, bahwa di balik keindahan panorama alam Gunungkidul, tersimpan keluh-kesah dan luka terpendam yang diam-diam dirasakan sebagian warga.

Mungkin banyak orang berpikir bahwa banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Gunungkidul akan membawa berkah bagi para pedagang di kawasan wisata. Jelas, anggapan tersebut tidak salah. Namun, hal tersebut hanya dirasakan segelintir orang yang punya cukup energi untuk mengelola serta memanfaatkan peluang untuk hidup.

Beberapa waktu lalu, saya sempat menanyakan kepada sejumlah pedagang yang memiliki toko kelontong pinggir jalan di salah satu pantai di Gunungkidul. Menurut penuturan pedagang tersebut, tidak banyak warga sekitar yang beruntung sepertinya. Bahkan, ia menyebut bahwa warga di sekitar berprofesi sebagai nelayan, buruh, dan kuli bongkar ikan. Sementara, mayoritas para tengkulak ikan bukan berasal dari Gunungkidul, melainkan dari luar daerah.

Ya, begitulah realitas yang tengah dialami sebagian masyarakat Gunungkidul, terutama mereka yang tinggal di kawasan pesisir pantai selatan. Yang mana mayoritas para pemilik hotel, tengkulak ikan, dan toko-toko besar, bukan warga Gunungkidul.  Sementara, warga asli Gunungkidul berprofesi sebagai kuli, buruh kasar, dan menggantungkan nasibnya di tanah perantauan.

UMK paling rendah se-DIY

Meski daerahnya diserbu wisatawan dan pembangunan, UMR Gunungkidul adalah salah satu yang paling rendah. Bahkan, UMR Jogja kota masih mendingan ketimbang kabupaten ini. Jogja Istimewa bangetz.

Pesatnya perkembangan sektor wisata di Gunungkidul membuat para pemilik modal berjejal-jejal datang ke Gunungkidul untuk mengembangkan bisnisnya, mulai dari membangun wisata baru, hotel, hingga kafe. Banyaknya lahan yang masih luas di kawasan wisata, tentu sangat mudah bagi kaum berduit untuk berbuat apa saja di Bumi Handayani ini.

Ya, di saat para investor berbondong-bondong datang ke tanah kelahiran dengan wajah sumringah, justru sebagian kawula muda Gunungkidul pergi merantau ke luar daerah. Tidak sedikit warga yang tinggal di pesisir pantai memutuskan untuk mengadu nasib di perkotaan. Alasannya cukup sederhana, apa yang mau diharapkan tetap tinggal di wilayah ini, selain jadi kulinya kaum berduit?

Situasi yang dihadapi sebagian warga perantau Gunungkidul memang simakalama atau istilah orang Jawa “maju tatu, mundur ajur”. Meninggalkan keluarga dan orang tua yang rata-rata sudah lansia tentu tidak mudah, tetapi kita tahu bahwa UMK Gunungkidul menempati posisi paling bontot se-DIY dan masuk 15 besar UMK terendah se-Indonesia, yaitu Rp1.900.000. Jadi, tidak ada pilihan lain selain merantau atau jadi kuli di tanah sendiri.

Harus diakui ketimpangan sosial tampak begitu nyata di Gunungkidul. Meski banyak tempat wisata yang mendapatkan omzet ratusan juta per bulan, tetapi masih banyak warga sekitar masih melarat dan tidak terlibat dalam pengelolaan obyek wisata. Hal ini yang kemudian kerap memicu konflik di tengah-tengah masyarakat dan akhirnya membuat warga cukup merana.

Terlepas dari itu semua, sampai sekarang warga masyarakat Gunungkidul masih tetap guyup-rukun dan suka gotong-royong. Ini bisa dilihat dari banyaknya kegiatan kolektif yang sering dilakukan masyarakat, seperti sambatan, rewangan, kelompokan, dan lainnya. Hal ini yang kemudian menjadi modal utama warga untuk tetap bertahan hidup dan tidak bergantung dengan sistem yang semakin amburadul.

“Adoh Ratu, cedhak watu”, mungkin kalimat itulah yang paling tepat menggambarkan Gunungkidul. Mereka jauh dari gemerlap Jogja Istimewa yang menyilaukan mata, dan yang mereka lihat adalah pedihnya dunia. Mereka, bahkan, jadi turis di tanah kelahiran sendiri.

Penulis: Jevi Adhi Nugraha
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Gunungkidul Adalah Sebaik-baiknya Kabupaten untuk Tempat KKN

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 20 Juli 2022 oleh

Tags: eksploitasiGunungkidulJogjaketimpanganpantaipariwisatapilihan redaksi
Jevi Adhi Nugraha

Jevi Adhi Nugraha

Lulusan S1 Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang berdomisili di Gunungkidul.

ArtikelTerkait

Safari Dharma Raya, Bus Paling Menjengkelkan Rute Malang Jogja (Unsplash)

Safari Dharma Raya Bus Terbaik untuk Rute Malang Jogja yang Mulai Mengecewakan Banyak Penumpang Setianya

17 Agustus 2024
pengumuman pemenang ifortepreneur 4.0 terminal mojok.co

Ikutan Kompetisi Itu Lebih dari Sekadar Ajang Rebutan Hadiah!

27 Desember 2021
Review Djarum King: Rokok Ringan Teman Pekerja Kreatif

Review Djarum King: Rokok Ringan Teman Pekerja Kreatif

16 November 2022
5 Bukti Jogja Tempat Paling Layak Ditinggali sampai Tua

5 Bukti Jogja Tempat Paling Layak Ditinggali sampai Tua

14 Agustus 2024
Nggak Semua Perantau di Jogja Doyan Gudeg hingga Sering ke Sarkem! Mojok.co

Nggak Semua Perantau di Jogja Doyan Gudeg dan Sering ke Sarkem!

9 November 2023
Jogja Adalah Kota Paling Keramat di Dunia (Unsplash)

Tahun Ini, Jogja Menjadi Kota Paling Keramat di Dunia

7 Oktober 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

Jalan-jalan ke Pantai saat Libur Panjang Adalah Pilihan yang Buruk, Hanya Dapat Capek Saja di Perjalanan

1 April 2026
Mempertanyakan Efisiensi Syarat Administrasi Seleksi CPNS 2024 ASN penempatan cpns pns daerah cuti ASN

Wajar kalau Masyarakat Nggak Peduli PNS Dipecat atau Gajinya Turun, Sudah Muak sama Oknum PNS yang Korup!

7 April 2026
Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN (Shutterstock)

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN

3 April 2026
Kata Siapa Tinggal di Gang Buntu Itu Aman dan Nyaman? Rasakan Sensasinya Ketika Gang Buntu itu Ditumbuhi Kos-kosan

Kata Siapa Tinggal di Gang Buntu Itu Aman dan Nyaman? Rasakan Sensasinya Ketika Gang Buntu itu Ditumbuhi Kos-kosan

1 April 2026
Suzuki Katana Adalah Mobil yang Menyalahi Logika, Banyak Orang Menyukainya walau Jadul dan Kerap Bikin Sakit Pinggang Mojok.co

Suzuki Katana Adalah Mobil yang Menyalahi Logika, Banyak Orang Menyukainya walau Jadul dan Kerap Bikin Sakit Pinggang

1 April 2026
Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup Pola Pikir Pecundang (Unsplash)

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup untuk Hidup dan Berpotensi Bikin Pekerja Tetap Miskin Adalah Pola Pikir Pecundang yang Nggak Tahu Cara Bertahan Hidup

6 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak
  • Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial
  • Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus
  • Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer
  • Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga
  • Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.