Jika Masked Deuce Beri Surat Wasiat Portgas D. Ace untuk Monkey D. Luffy

Artikel

Gusti Aditya

Nama Ace dalam jagad One Piece memang sudah mengambil hati terlampau dalam. Ia dikenal sebagai sosok kakak yang baik untuk Luffy dan gambaran kesetiaan untuk sosok Whitebeard. Untuk menambal lubang kesedihan atas kematian tragis sosok ini, sebuah mini novel One Piece novel A berjudul, One Piece: Ace’s Story pun diterbitkan. Total ada tiga volume, semua menceritakan lebih dalam mengenai sosok Ace.

Novel ini kemudian diadaptasi menjadi manga yang digambar oleh Boichi, mangaka Dr. Stone. Dari sini, kita bisa mengenal sosok Ace lebih dalam. Kita juga mendapatkan fakta-fakta menarik, salah satunya sosok Masked Deuce yang menjadi partner pertama Ace dalam membangun karier bajak lautnya.

Novel ini diawasi langsung oleh Oda Sensei agar penceritaan tetap runtut dan sistematis. Nah, bisa saja, Ace telah lama mengirimkan sebuah wasiat mengenai nasibnya di dunia bajak laut yang kian menghimpitnya. Bisa juga, Ace mempercayakan surat tersebut kepada Masked Deuce agar sampai langsung ke tangan Luffy. Jika itu terjadi, begini jadinya isi surat tersebut.

Untuk adikku, Luffy.

Entah di mana pun dirimu kini berada. Masihkah di Grand Line? Tempat kita kembali bersua di sebuah meja bar di Alabasta, memakan daging dan meminum arak? Atau sudah di New World? Tempat dengan segala kepicikan dan kekejaman di dalamnya? Entah di mana pun, aku bangga melihat dirimu tumbuh secepat ini, Adikku.

Entah surat ini sampai padamu atau tidak. Namun, jika dirimu menerima surat ini, berarti dirimu telah berjumpa secara baik dengan Masked Deuce. Entah bagaimana perjumpaanmu dengan Masked Deuce kelak. Entah melalui aliansi besar antara armada Papa (Whitebeard) atau Deuce menjadi sosok panutan bagi krumu kelak. Biarlah semesta yang menjawab. Aku tak mau terlibat terlalu banyak. Yang bisa aku katakan, Deuce adalah orang yang baik.

Adikku, jika dirimu membaca ini, aku tidak bisa menerka diriku masih ada atau sudah enyah dari jagad pramudita yang indah ini. Kau tahu, Adikku, api tak mungkin bertahan selamanya. Ia akan mati atau setidaknya melemah. Dalam gelap yang akan melahap sinar dan panasku secara perlahan.

Bagaimanapun caraku mati kelak, aku akan mengupayakan kematianku dengan cara sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Aku hanya ingin melihat keluargaku—baik Papa, Deuce, anak-anak Papa lainnya, dan tentunya dirimu—tidak menangis dan bersedih terlalu dalam. Harus ada arak di acara pemakamanku. Harus ada sorak di pusaraku.

Baca Juga:  Di Kampung Saya Dulu, Kangen Band Adalah Band yang Sangat Dipuja

Beberapa malam aku merasakan kebas luar biasa. Api-apiku terus mendidih tak tertahan. Seakan, beberapa waktu yang akan datang, aku akan terjebak dalam sebuah lingkaran yang tidak bisa aku lalui. Lagi-lagi, Adikku, aku bermimpi dikejar-kejar oleh kegelapan. Apiku dilahap secara perlahan. Parahnya, aku justru mati melawan “panas” yang kurang lebih sama dengan apa yang aku miliki.

Tidak, Dik, aku tidak mau membuatmu merasakan apa yang aku rasakan. Lewat surat ini, aku hanya ingin bersyukur lantaran dilahirkan dalam sebuah keluarga yang mengesankan. Aku terlahir dari sejarah panjang kebusukan dunia, dirawat oleh pahlawan yang salah tempat, dan tumbuh kembang dalam badan pahlawan besar yang dianggap jahat. Jika surga itu ada, apakah aku layak berada di sana, Dik?

Ah, lagi-lagi aku membuatmu berpikir. Aku tahu betul, selain lapar, kamu tidak suka berpikir. Namun, semisal boleh mengungkapkan rasa yang aku resahkan, jika surga adalah tempat yang membosankan, sepertinya aku memilih ke neraka saja. Setidaknya, di sana, aku menunggu dirimu, Dik. Setidaknya aku memilih reinkarnasi, menjadi sosok yang lebih baik lagi.

Aku sangat menyayangi Papa, kau pun tahu itu, Dik. Aku menjadi bagian terperih dari gelora yang diemban oleh Yonkou sekaliber Shirohige dengan segala penyakit yang menyertainya. Sepenjuru lautan, berdosa jika tak tahu namanya. Tak ada mata yang berani menatapnya secara langsung. Kau juga tahu, Dik, orang yang mendorongmu masuk dunia bajak laut—Akagami no Shanks—kala melihat mata Papa, langit langsung terbelalak lebar.

Dadaku membusung, punggungku tersemat sebuah pahat abadi yang aku kultuskan untuk bajak laut Papa. Lambang kumis putih disertai salib adalah kegagahan yang elok di mataku. Segalanya untuk Papa. Bahkan, jika ada sebuah pertanyaan begini, “Nyawa Papa atau nyawaku?” Aku akan meludahi si penanya itu. Bukan karena apa-apa. Hanya saja, pertanyaan itu terlalu bodoh. Sangat mudah aku jawab karena aku akan mengorbankan nyawaku!

Bahkan, namaku tidak lagi penting, Dik. Armada Papa segalanya bagiku. Kebanggaan, nilai, luhur, pekerti, hingga etika yang tak akan aku temui dari sosok kakek kita walau blio juga banyak berpengaruh untuk hidupku. Seluruh anak Papa, adalah saudaraku. Dan ketika si bajingan bernama Kurohige membunuh Thatch, aku kejar dirinya sampai aku hilang akal sehat bahwa aku sedang kalap.

Kita pernah kehilangan saudara, Dik. Betapa perihnya ditinggal Sabo. Kita pernah bermimpi yang sama, tujuan yang serupa. Kita pernah berjanji menggulingkan dunia, makan daging sebanyak-banyaknya. Tapi harapan hanya harapan, Papa pasti merasakan didihan emosi yang sama ketika anaknya saling membunuh demi kedudukan.

Baca Juga:  Maunya Denny Siregar Membela Gibran, Kok Malah Rasis ke Anies Baswedan?

Ah, aku terlalu banyak bercerita mengenai internal bajak laut milik Papa. Tapi kamu harus tahu, Dik. Aku harap dirimu memperlakukan—dan diperlakukan—krumu sebagaimana Papa memperlakukan kami dan kami memperlakukan Papa. Ambisimu di mata khalayak ramai tak lebihnya dari sebuah lelucon, Dik. Setidaknya aku—juga mendiang Sabo—akan mendukung dan percaya bahwa kamu bisa meraih apa yang orang kira tak akan pernah bisa diraih olehmu.

Aku sudah melalang buana di seluruh penjuru bumi, Dik. Aku bertemu dengan anak kecil berambut ungu di Wano Kuni. Ia ingin bergabung denganku, entah apa tujuannya. Namun, setelah melihat lingkungannya yang tak adil, aku menganggap bahwa salah apa bocah sekecil ini?

Mengapa kuasa bisa diduduki oleh orang yang jahat? Tak ada yang sebijak Papa! Tak ada! Dan anehnya, aku melihat secerah cahaya itu pada dirimu, Dik. Namun, dirimu akan terbentur beribu-ribu kali, Dik. Entah apa benturan terbesarnya, apakah kematian krumu atau malah kematianku. Aku tak menakut-nakutimu, yang jelas benturan itu akan memberimu bahan bakar yang tak akan pernah habis.

Dik, dunia itu kejam. Namun jangan kamu balas dengan kekejaman yang lainnya. Aku adalah bentuk kegagalan dari sebuah ambisi. Aku adalah contoh terbaik untukmu kala sebuah mimpi tak pernah tercapai. Contohlah aku sebagai hal kemungkinan terburuk itu. Gunakan aku sebagai loncatan terbesarmu. Lihat apiku, Dik! Lihatlah! Apiku memudar, Dik, dengan cara yang tidak baik.

Majulah dan temukan ambisimu, Dik. Langkahmu tidak akan pernah sendiri, aku jamin itu. Dan pada satu titik, aku berada di belakangmu, entah di dunia atau di tempat lainnya. Dengan sebuah harapan, semoga kita dipertemukan dalam keadaan yang lebih baik.

Dengan penuh kasih, Portgas D. Ace. Dalam masa pelarian.

BACA JUGA No Debat! One Piece Lebih Baik daripada Naruto dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
13


Komentar

Comments are closed.