Malang itu, kalau boleh jujur, adalah sebuah berkah geografis dan historis yang luar biasa. Kotanya vintage, hawanya masih asri dan warisan sejarahnya melimpah.
Mulai dari Candi Badut di Karangbesuki yang merupakan candi tertua di Jawa Timur, arca-arca megah di Museum Mpu Purwa di kawasan Soekarno-Hatta, sampai situs purbakala Watu Gong yang tersembunyi di Kelurahan Tlogomas. Jangan lupakan juga memorabilia militer di Museum Brawijaya.
Kurang lengkap apa coba? Malang punya modal kuat untuk jadi surga wisata sejarah yang edukatif sekaligus keren. Tapi ya begitu, kadang banyak ide jenius untuk memajukan daerah harus mati muda di tangan pemangku kebijakan yang hobi jalan sendiri-sendiri.
Kerja sama? Koordinasi? Kekompakan? Kadang harus kalah sama ego sektoralnya setinggi langit.
Mari kita ambil contoh konkret potensi wisata Malang yang belum tergarap maksimal. Misalnya fenomena malam hari di depan Museum Brawijaya di Jalan Ijen.
UMKM depan museum: Strategi marketing atau sekadar lapak pasar malam di Malang?
Entah teknik marketing jenius macam apa yang sedang diterapkan oleh pengelola saat ini. Dan entah gimana sejatinya trafik kunjungan ke dalam museumnya sendiri.
Tapi satu hal yang pasti, tiap malam, area depan Museum Brawijaya itu ramai. Depannya berisi barisan tenda orang jualan makanan dan minuman. Polanya mirip kayak keseruan Car Free Day (CFD) setiap hari Minggu, di mana halaman museum dipadati lautan manusia dan kulineran yang menggugah selera.
Sempat terlintas di pikiran saya, apakah ini strategi dari pengelola untuk mengenalkan muka museum ke anak muda? Ya, husnuzan saja dulu. Siapa tahu, sambil membeli kuliner di sentra UMKM, para pengunjung tergerak hatinya untuk melihat tank antik dan meriam di halaman depan, lalu besoknya memutuskan beli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah ke Museum Brawijaya.
Tapi faktanya, tidak sedikit pengunjung akhirnya berhenti di lapak pasar malam tanpa ada kelanjutan edukasi, ya sayang banget. Padahal, potensi keramaian itu bisa banget dikonversi jadi sesuatu yang lebih besar jika Pemkot Malang punya visi taktis.
Ide Macito Hop-On Hop-Off yang bisa jadi daya tarik pengunjung
Pemkot Malang juga bisa mengintegrasikannya dengan armada kebanggaan kota yaitu Bus Malang City Tour (Macito). Bayangkan sebuah skenario idealnya begini:
Bus Macito tidak cuma buat keliling kota non-stop sambil tolah toleh sembari menyimak tour-guide layaknya rombongan sirkus. Bagaimana kalau menambah armada Macito dan mengubah sistem rutenya menjadi hop-on hop-off seperti bus wisata di Kuala Lumpur atau Singapura?
Wisatawan bisa naik dari titik A, turun di Museum Brawijaya, keliling di dalam, lalu naik bus Macito berikutnya untuk menuju ke Museum Mpu Purwa, lanjut ke Candi Badut di Karangbesuki, dan mampir ke Situs Watu Gong di Tlogomas.
Pemkot Malang bisa menyediakan dua opsi. Paket yang gratis (cuma keliling kota aja seperti sekarang) dan paket berbayar murah bagi yang mau rute khusus destinasi budaya. Potensi wisatanya jalan, UMKM lokal hidup, sejarahnya pun lestari.
Tapi balik lagi, Pemkot Malang mau atau tidak. Sebab begitu masuk ranah eksekusi, ide seindah itu langsung membentur dinding tebal bernama birokrasi lintas dinas.
Mari kita urut benang kusutnya. Bus Macito itu resmi dikelola penuh oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang. Sementara itu, Museum Mpu Purwa yang gratis tis itu malah ikut bapak asuh yang lain, yaitu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang.
Belum lagi kalau mau mampir ke Museum Brawijaya yang berada di bawah wilayah kekuasaan Kodam V/Brawijaya alias ranah militer.
Semoga saja ada jalan menyatukan visi Dinas Pariwisata, Dinas Kebudayaan, sama Instansi Militer. Siapa tahu paket wisata terintegrasi bisa menambah alternatif wisata yang ditawarkan ke Kota Malang. Semoga…
Penulis: Ferika Sandra
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Malang Bukan Lagi Kota yang Dingin dan Asri, Kini Ia Menjelma Jadi Kota Panas dan Tak Menyenangkan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
