Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Jembatan Deng-Deng, Potret Siratalmustakim di Dunia Fana Sekaligus Ironisnya Pemda Mojokerto

Achmad Fauzan Syaikhoni oleh Achmad Fauzan Syaikhoni
20 Februari 2024
A A
Jembatan Deng-Deng, Potret Siratalmustakim di Dunia Fana Sekaligus Ironisnya Pemda Mojokerto

Jembatan Deng-Deng, Potret Siratalmustakim di Dunia Fana Sekaligus Ironisnya Pemda Mojokerto (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada satu jembatan paling berbahaya di Kabupaten Mojokerto, namanya Jembatan Deng-Deng. Berani lewat sini?

Kalau ngomongin infrastruktur peninggalan Belanda di Indonesia, kita mungkin bisa membahasnya sampai mulut berbusa. Tapi, kalau ngomongin infrastruktur peninggalan Belanda yang tak tahan lama, kita pasti kewalahan. Karena memang infrastruktur peninggalan Belanda terkenal kuat dan kokoh. 

Seperti di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, tempat tinggal saya. Meski daerahnya kecil banget, kabupaten ini juga punya banyak bangunan peninggalan Belanda yang masih bertahan lama. Hanya saja, setahu saya, ada satu infrastruktur yang tak tahan lama, yakni Jembatan Deng-Deng yang terletak di Desa Perning, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. 

Jembatan itu memang masih berdiri sampai sekarang. Tapi, kondisinya betul-betul memprihatinkan. Dan sialnya, jembatan itu masih (terpaksa) digunakan warga sekitar hingga sekarang.

Kondisi Jembatan Deng-Deng Mojokerto seperti jembatan siratalmustakim

Kalau saya boleh membuat personifikasi, Jembatan Deng-Deng ini sudah kayak jembatan siratalmustakim yang digambarkan di beberapa ayat dalam Al-Qur’an. Jika jembatan siratalmustakim lebarnya seperti rambut dibelah sampai tujuh kali, maka Jembatang Deng-Deng lebarnya hanya satu meteran. Betul-betul jembatan yang sempit dan menyeramkan.

Ya meski nggak sesempit jembatan siratalmustakim, tapi buat saya Jembatan Deng-Deng Mojokerto sudah bisa dikatakan siratalmustakimnya dunia fana. Sebab, selain lebarnya hanya satu meteran, jembatan yang panjangnya sekitar 25 meter itu juga nggak punya lampu penerangan dan pembatas di bagian sisi kanan dan kirinya. Serius, benar-benar los dol.

Sebagai intermezzo, dinamakan Jembatan Deng-Deng karena jembatan tersebut kalau dilewati memunculkan bunyi “deng-deng”. Bunyi itu hasil dari benturan papan beton dan tiang besi yang menjadi penopang jembatan. Konon, Jembatan Deng-Deng ini dulunya sebagai jembatan kereta lori pengangkut tebu saat zaman penjajahan Belanda.

Namun, seiring berjalannya waktu, Jembatan Deng-Deng berfungsi sebagai jalur penghubung antardesa di Mojokerto. Tapi kondisinya ya gitu, sempit dan tak ada pembatas. Melewatinya betul-betul harus penuh konsentrasi. Kalau nggak, besar kemungkinan akan terjatuh ke dalam Sungai Kalimas di bawahnya yang alirannya itu cukup deras. 

Baca Juga:

Jalan Mojokerto Mulai Banyak yang Berlubang, Gus Barra, Njenengan di Mana?

Membayangkan Pensiun di Madiun, Kota yang Nggak Banyak Drama dan Cocok untuk Hari Tua

Jalur alternatif penghubung antardesa yang masih sering dipakai warga

Persoalan masih digunakannya Jembatan Deng-Deng ini tentu bukan tanpa alasan. Warga sekitar, khususnya di Desa Perning dan Desa Jetis Mojokerto, menggunakan Jembatan Deng-Deng ini sebagai jalur alternatif penghubung antardesa. Dari Desa Jetis ke Desa Perning, ataupun sebaliknya. 

Sebenarnya, warga sekitar terpaksa melewati Jembatan Deng-Deng ini, sebab tak ada jalur alternatif lain untuk dilewati. Kalau mau menghindari Jembatan Deng-Deng sebenarnya bisa. Tapi, warga harus menempuh jarak puluhan kilometer untuk bisa menyeberangi Desa Jetis dan Desa Perning atau sebaliknya. 

Karena Jembatan Deng-Deng dekat sumber kehidupan, maka kalangan warga yang melintasi jembatan ini pun bermacam-macam. Ada yang dari pelapak pasar, pekerja pabrik, petani, guru, hingga anak-anak sekolah. Mereka semua terpaksa berdamai dengan jembatan mengerikan itu demi akselerasi dalam menyambung hidup.

Pemda Mojokerto kurang serius memperhatikan Jembatang Deng-Deng

Sebenarnya, Jembatan Deng Deng ini pernah mendapat perhatian dari pemda Mojokerto. Dulu, Jembatan ini hanya beralaskan papan kayu, yang itu hasil dari inisiatif warga sekitar. Kemudian Pemda Mojokerto, entah pada tahun berapa, mengganti papan itu menjadi papan beton.

Tapi menurut saya, upaya itu masih belum cukup. Sebab, sekalipun diganti papan beton, nyatanya Jembatan Deng-Deng masih sering memakan korban hingga sekarang. Nggak ada lampu penerangan jalan, pembatas jembatan, dan sempitnya luas jembatan menjadi faktor pemicu orang-orang gagal melintasi Jembatan Deng-Deng.

Saya rasa, Jembatan Deng-Deng Mojokerto sudah seharusnya mendapat perhatian lebih oleh pemda. Atau lebih baik ditutup saja. Jangan malah seolah-olah membiarkan warga terpaksa melintasinya sekaligus mempertaruhkan nyawa. Kasihan mereka.

Tapi, kalau Pemda Mojokerto tak mau dinilai buruk, saran saya memperbaiki dan membangun jembatan tersebut adalah hal yang amat sangat baik. Jangan sampai jembatan yang awalnya berfungsi sebagai jalur untuk menyambung hidup, tapi nyatanya malah menjadi jembatan untuk mengakhiri hidup.

Penulis: Achmad Fauzan Syaikhoni
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 3 Alasan Utama Mojokerto Masih Asing di Telinga Orang.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 Februari 2024 oleh

Tags: jawa timurjembatanJembatan Deng-Dengkabupaten mojokertoMojokerto
Achmad Fauzan Syaikhoni

Achmad Fauzan Syaikhoni

Pemuda setengah matang asal Mojokerto, yang selalu ekstase ingin menulis ketika insomnia. Pemerhati isu kemahasiswaan, lokalitas, dan hal-hal yang berbau cacat logika.

ArtikelTerkait

Jalan Pucuk-Blimbing Lamongan, "Raja Terakhir" Jalur Berbahaya di Lamongan

Jalan Pucuk-Blimbing Lamongan, “Raja Terakhir” Jalur Berbahaya di Lamongan

18 Februari 2024
Nonton Film Bioskop di Jember Tak Lagi Sama (Unsplash)

Nonton Film Bioskop di Jember Tak Lagi Sama

30 Juni 2023
6 Rekomendasi Street Food Surabaya yang Laris Diserbu Pembeli Terminal Mojok

6 Rekomendasi Street Food Surabaya yang Laris Diserbu Pembeli

19 Agustus 2022
Malang Hari Ini Adalah Definisi Cantik tapi Toxic (Unsplash)

Sisi Gelap Malang Hari ini: Masih Cantik, tapi Semakin Toxic

25 Januari 2026
Makanan Malang Banyak Kurangnya di Lidah Orang Depok dan Bandung

Makanan Malang Banyak Kurangnya di Lidah Orang Depok dan Bandung

10 Januari 2024
5 Akibat Seandainya Kabupaten Tulungagung Tidak Memiliki Marmer

5 Akibat Seandainya Kabupaten Tulungagung Tidak Memiliki Marmer

9 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pulang ke Lembata NTT Setelah Lama Merantau di Jawa, Kaget karena Kampung Halaman Banyak Berubah Mojok.co

Momen Pulang ke Lembata NTT Setelah Sekian Lama Merantau di Jawa Diliputi Rasa Kaget, Kampung Halaman Banyak Berubah

25 Februari 2026
Saya Kapok Ikut Bukber! Cuma Kenyang Dipameri Lanyard Kantor dan Kesuksesan Teman-teman Mojok.co

4 Alasan yang Bikin Saya Malas Datang Bukber, Bukan Cuma karena Jadi Ajang Pamer

21 Februari 2026
Flyover Kalibanteng: Labirin Aspal yang Lebih Ruwet daripada Alasan Putus Mantan Saya

Flyover Kalibanteng: Labirin Aspal yang Lebih Ruwet daripada Alasan Putus Mantan Saya

25 Februari 2026
Alasan Vespa Matic Dibenci Tukang Servis Motor Mojok.co

Alasan Vespa Matic Dibenci Tukang Servis Motor

23 Februari 2026
Alas Purwo Banyuwangi Itu Nggak Semenyeramkan Itu kok, Kalian Aja yang Lebay alas roban

Alas Roban Terkenal Angker, tapi Alas Purwo Lebih Misterius dan Mencekam

19 Februari 2026
Trio Senator AS Roma: Mancini, Pellegrini, Cristante

Trio Senator AS Roma

23 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • 8 Tahun Pakai iPhone, Ternyata Saya Dibutakan Gengsi padahal Android Lebih Praktis dan Nyaman
  • Adhit & Carlo Jikustik Gandeng Klaten Project Rilis Lagu Religi “Tuhan itu Ada”
  • User Bus Sumber Selamat Pertama Kali Makan di Kantin Kereta, Niat buat Gaya dan Berekspektasi Tinggi malah Berakhir Meratapi
  • Penerima LPDP Dalam Negeri Terkena Getah Awardee Luar Negeri yang “Diburu” Seantero Negeri, padahal Tak Ikut Bikin Dosa
  • Kumpul Keluarga Justru bikin Ortu Makin Kesepian dan Terabaikan, Anak Sibuk sama HP dan Tak Saling Bicara
  • Makan Mie Ayam, “Quality Time” Orang Surabaya dan Balas Dendam Terbaik untuk Melampiaskan Getirnya Hidup

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.