Jatinom, sebuah tempat rahasia yang akan membuatmu jatuh cinta berkali-kali sama Klaten

Jatinom, tempat rahasia yang bikin kamu jatuh cinta berkali-kali (Mojok.co/Audina Safira)

Jatinom, tempat rahasia yang bikin kamu jatuh cinta berkali-kali (Mojok.co/Audina Safira)

Beberapa minggu lalu, saya datang ke Jatinom, Klaten, untuk menghadiri Tradisi Sebaran Apem Yaa Qowiyyu. Acara itu memang menjadi alasan awal perjalanan saya, tetapi saya tidak ingin berhenti pada cerita tentang tradisi tersebut. 

Setelah berada di Jatinom, saya justru menemukan kesan lain yang lebih personal: sebuah daerah yang terasa sejuk, tertata, dan menyimpan banyak kemungkinan untuk wisata singkat.

Sebagai orang Jogja, saya cukup sering menyusuri daerah-daerah penyangga kota yang menawarkan suasana berbeda dari pusat keramaian. Namun, Jatinom memberi kejutan kecil. 

Pesona “rahasia” Jatinom

Ketika memasuki kawasan ini, saya sempat merasa seperti sedang berada di Magelang. Jenis dan warna trotoarnya mengingatkan saya pada beberapa kawasan kota di kaki Merapi. Trotoar itu memberi kesan rapi dan membuat ruang jalan terasa lebih nyaman.

Kesamaan suasana dengan Magelang tidak hanya datang dari tampilan jalan. Saya juga merasakan karakter udara Jatinom yang khas. Matahari siang tetap menyengat, tetapi angin yang berembus membawa hawa sejuk. Letak Jatinom di kaki Gunung Merapi menjelaskan perpaduan itu. 

Daerah ini menerima panas matahari dengan terbuka, tetapi bentang lereng, pepohonan, dan ruang hijau di sekitarnya tetap memberi napas yang lebih ringan. Saya tidak merasa sedang berada di kawasan pegunungan yang dingin, tetapi saya juga tidak merasakan pengap seperti di kota yang padat.

Jatinom menunjukkan pesona yang tidak selalu berteriak untuk menarik perhatian. Daerah ini tidak mengandalkan bangunan besar atau pusat hiburan yang serba modern. 

Sebaliknya, Jatinom menawarkan ritme yang pelan. Warga menjalankan aktivitas sehari-hari, pedagang melayani pembeli, kendaraan melintas, dan pengunjung datang dengan tujuan masing-masing. Semua unsur itu membentuk suasana yang terasa hidup tanpa membuat saya lelah.

Cocok untuk short gateaway

Bagi wisatawan lokal dari Jogja dan Solo, Jatinom sangat layak menjadi tujuan perjalanan sehari. Wisatawan dari Jogja dapat memilih Jatinom ketika ingin mencari suasana baru tanpa harus melakukan perjalanan jauh ke luar wilayah DIY dan Jawa Tengah bagian selatan. 

Warga Solo pun dapat memanfaatkan Jatinom sebagai tujuan akhir pekan yang berbeda dari wisata kota. Kedua kota itu memiliki hubungan budaya yang dekat dengan Klaten, sehingga pengunjung tidak akan merasa asing dengan bahasa, makanan, maupun suasana sosialnya.

Akses yang relatif mudah juga menjadi kelebihan Jatinom. Wisatawan dapat datang dengan sepeda motor atau mobil, lalu menyusun perjalanan sesuai minat. Mereka bisa berangkat pagi, menikmati wisata air atau pemandangan alam, makan siang di warung lokal, dan pulang sebelum malam. 

Pola perjalanan seperti ini sangat cocok bagi keluarga, kelompok teman, atau pasangan yang ingin berlibur tanpa harus menyiapkan anggaran besar. Jatinom menawarkan pengalaman yang sederhana, tetapi kesederhanaan itu justru terasa menenangkan.

Umbul Gedaren, kekhasan Klaten sebagai kota 1000 umbul

Salah satu titik yang patut dipertimbangkan ialah Umbul Gedaren. Mata air ini menawarkan air yang jernih dan lingkungan yang lebih rindang. Pengunjung dapat mengajak anak-anak bermain air, berendam, atau duduk santai di area sekitar. 

Pepohonan membantu menjaga suasana tetap teduh, sedangkan kedai-kedai di sekitarnya memudahkan pengunjung mencari makanan dan minuman. Bagi saya, wisata air seperti ini menarik karena memberi ruang bagi pengunjung untuk menikmati waktu tanpa perlu mengejar banyak wahana.

Jatinom juga dapat menjadi pintu masuk untuk menjelajahi lanskap lereng Merapi di wilayah Klaten. Pengunjung yang menyukai perjalanan alam bisa melanjutkan rute ke arah Kemalang, Kali Talang, Deles Indah, atau Kampung Girpasang. Perjalanan itu menyuguhkan jalan yang naik perlahan, sawah, kebun, serta pemandangan lereng yang berubah mengikuti cuaca. 

Saat langit cerah, Merapi dapat menjadi latar yang kuat untuk foto dan perjalanan santai. Saat kabut turun, kawasan itu justru menampilkan suasana yang lebih hening dan teduh.

Potensi besar Jatinom

Saya melihat potensi besar pada pola wisata yang menghubungkan Jatinom dengan daerah-daerah tersebut. Jatinom dapat mengambil peran sebagai tempat singgah: wisatawan bisa sarapan, membeli bekal, mengenal suasana kecamatan, lalu melanjutkan perjalanan ke kawasan yang lebih tinggi. 

Setelah menikmati alam, mereka dapat kembali ke Jatinom untuk makan dan beristirahat. Pola ini juga membuka peluang bagi warung, kedai kopi, pengrajin, dan usaha kecil milik warga untuk tumbuh bersama kegiatan wisata.

Kuliner menjadi alasan lain untuk tidak terburu-buru meninggalkan Jatinom. Apem tentu menjadi makanan yang paling mudah melekat dalam ingatan pengunjung, terutama setelah tradisi Yaa Qowiyyu. 

Namun, Jatinom tidak hanya menawarkan apem. Pengunjung dapat mencari soto ayam atau soto sapi, sate, tengkleng, tongseng, mi godhog, serta nasi-nasi tradisional di warung sekitar. Pilihan itu terasa dekat dengan lidah orang Jogja maupun Solo, tetapi suasana makannya memberi pengalaman yang berbeda.

Saya selalu percaya bahwa makanan lokal dapat memperkenalkan watak sebuah daerah. Di Jatinom, warung sederhana dan pasar menjadi ruang perjumpaan yang penting. 

Pengunjung tidak hanya membeli makanan. Mereka juga berbincang dengan penjual, melihat aktivitas warga, dan merasakan ritme daerah secara lebih dekat. Saat sore atau malam, wedang hangat, gorengan, dan angkringan dapat menjadi penutup yang pas setelah sehari menjelajah. Wisatawan tidak perlu mencari tempat makan yang mewah untuk menikmati Jatinom.

Bikin kamu jatuh cinta berkali-kali

Kelebihan Jatinom justru terletak pada sifatnya yang apa adanya. Daerah ini menawarkan jalan yang tertata, hawa kaki Merapi, wisata air, akses menuju wisata alam, dan kuliner rumahan dalam satu perjalanan. 

Jatinom juga memberi pengalaman yang terasa ramah bagi pengunjung lokal. Saya tidak merasa menjadi orang asing ketika berada di sana. Sebagai orang Jogja, saya menemukan banyak hal yang akrab, tetapi Jatinom tetap menunjukkan warna Klaten-nya sendiri.

Kunjungan saya berawal dari sebuah tradisi, lalu berkembang menjadi pengalaman yang lebih utuh. Saya pulang dengan kesan bahwa Jatinom tidak hanya layak ramai pada hari perayaan. 

Jatinom pantas dikunjungi pada akhir pekan biasa, ketika orang ingin menghirup udara yang lebih sejuk, makan dengan santai, bermain air, atau melanjutkan perjalanan ke lereng Merapi. Bagi warga Jogja dan Solo, Jatinom dapat menjadi pilihan wisata dekat yang hangat, sederhana, dan selalu mengundang keinginan untuk kembali.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Klaten: Bukan Sekadar Kota untuk Mampir Menikmati Sop Ayam, tapi Tulang Punggung dan “Dapur” Masa Depan Indonesia

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version