Jangan Syok, Ini Solusi Saat Nasi Kotak di Kereta Menyentuh Harga 45 Ribu – Terminal Mojok

Jangan Syok, Ini Solusi Saat Nasi Kotak di Kereta Menyentuh Harga 45 Ribu

Artikel

Avatar

Saat saya membuka #PTKAI di Twitter, lewat sebuah sambatan seseorang perihal komplain harga nasi kotakan yang ia beli di dalam kereta. Katanya harganya cukup mahal yakni Rp45.000. Dalam hati saya, “Wah, udah hampir Rp50.000 aja nih.”

Salah satu argumennya yang menganggap harga nasi tersebut mahal adalah karena nasi itu dijual di kereta api ekonomi. Yang mana harga tiketnya sendiri hanya dibanderol Rp80.000. Spontan akun tersebut syok kali ya, gara-gara harga nasinya lebih dari setengah harga tiket satu kali jalan.

Harga nasi tersebut lumayan berbeda dengan pengalaman saya dua kali ke Jogja kisaran satu-dua tahun lalu. Jadi, dari Jogja-Bandung, saya pilih untuk menggunakan kereta yang sama dengan si empu akun Twitter di atas: sama-sama pakai Kahuripan. Dan di tahun tersebut, harga seporsi nasi di Kahuripan hanya kisaran Rp30.000-35.000. Jika dibandingkan dengan saat ini yang katanya sudah mundak jadi Rp45.000, ya… memang bisa dibilang mahal, sih.

Gimana saya nggak mau bilang mahal. Wong, waktu harganya masih Rp30.000-an aja, saya nggak pernah beli, kok. Karena mikirnya duit segitu lumayan kalau dijajanin hal yang lain, bakal dapet banyak. Tapi ya… kebutuhan orang kan beda-beda. Dan mahal tidaknya nasi Rp45.000 tersebut juga menjadi barang relatif.

Bagi saya pribadi harga segitu ya memang mahal. Wong namanya juga harga di perjalanan. Air mineral yang Rp3.000-an aja bisa jadi Rp6.000 sampai Rp10.000. Saya yang duitnya pas-pasan ya seringnya cuma bisa dibikin maklum dan… cerdas tentunya. Hiyahiyahiya.

Ada banyak cara menyiasati harga makanan kereta yang “mahal” tersebut agar tidak mentung batinmu. Sini saya beri solusinya ketika kamu terlalu syok mendengar nasi kotak kereta yang nyentuh harga Rp45.000.

Pertama, pastikan bertanya dulu sebelum membeli. Kalau malu buat langsung ke gerbong resto, kamu bisa nanya ke attendant yang hilir mudik nawarin apa aja. Kalau di Kahuripan setahu saya mereka nawarin sewa bantal, Pop Mie, air, juga nasi kotakan.

Daripada malu pas tau harganya mihil tapi sudah kadung nyampe gerbong resto, mending tanya aja attendant yang bolak-balik. Syukur-syukur harganya balik turun maning.

Kedua, bawa bekel. Hal ini jauh lebih baik untukmu, ketimbang beli nasi kotakan di kereta tapi ujung-ujungnya nggrutu. Nggak baik. Takut nanti fesesnya ikutan keras seperti hatimu.

Dari beberapa kali kesempatan naik kereta, saya nggak pernah beli apa pun di dalam kereta. Soalnya saya miskin selalu bawa bekel.

“Halah, bekel ya ribet.”

Bekel itu ya nggak melulu kudu nasi, lauk ayam, pepes tahu, rendang, ketupat sayur. Nggak, nggak gitu. Kamu bisa bawa cemilan atau apa pun yang penting lapermu beres. Tapi perlu diingat, bawalah bekel yang kira-kira tahan “lama” sehingga bisa tetap enak dimakan kapan aja.

Waktu itu saya sempet ngebekel buat perjalanan menuju Jogja. Karena keretanya berangkat Magrib dan kebetulan saya sudah makan nasi pakai gorengan sebelumnya, saya bawa bekel gorengan sisa makan sore itu. Pasalnya, saya nggak bakal laper-laper banget. Dari Isya tidur, tengah malemnya saya kebangun. Laper. Saya ambil gorengan dari tas. Pas dibuka, mambuneee….

Gorengannya udah keburu apek, Gaes. Ya maklum, namanya juga gorengan siang.

Buru-buru saya ambil gorengannya secuil buat ganjel laper. Selepas itu, saya iket rapet-rapet lagi kresek gorengannya. Takut kanan-kiri-depan-belakang saya kebangun gara-gara baunya yang udah tengik banget. Hahaha.

Ketiga, beli Pop Mie. Kalau kamu terlanjur lapar, tidak membawa bekal, tapi tahu bahwa harga nasi kereta kemahalan. Wes nggak usah kakehan mikir. Sikat ae Pop Mie. Meskipun kamu tau harga Pop Mie mentah di warung cuma Rp5.000 sedangkan di kereta bisa jadi Rp10.000 sampai Rp15.000, Pop Mie jelas lebih mungkin dibeli ketimbang nasi kotak yang harganya menjulang tinggi seperti anganku bersamanya.

Keempat, ambil tawaran emak-emak. Yang ini sih, opsi paling nganu. Tapi bener, dah. Di Kereta Kahuripan, paguyuban penumpangnya itu masih tinggi sekali. Pasalnya, Kereta Kahuripan ini nggak jarang diisi oleh orang tua desa dan orang baik lainnya. Ajigileee.

Saya beberapa kali sempat duduk di samping dan depan ibu-ibu. Meskipun biasanya rada rempong, tapi ibu-ibu itu baik. Kami saling sapa, tanya pergi ke mana, masih sekolah atau udah kerja, pacarnya siapa, dan ngobrolin banyak hal (meskipun saya lebih iya-iyain aja ketimbang cerita balik). Durasi obrolan pun bervariatif. Kadang sebentar, kadang lumayan lama. Nah kalau lama begini nih, biasanya saya bisa nyampe ke momen di mana ibunya haus. Kalau udah haus, biasanya nggak cuma air doang yang dikeluarin, tapi juga beserta jajan-jajanannya.

Merasa sudah terjalin kedekatan singkat yang hangat, sambil nyodorin jajanannya, si ibu bilang, “Neng, hayu ini diambil, Neng. Ini mah jajanan cuma ada di kampung ibu.”

Jadi, selama membeli nasi kotak kereta adalah opsi, harusnya sih nggak perlu banget-banget dibikin pusing.

BACA JUGA Mengamati Perilaku Penumpang Kereta Api dan tulisan Nuriel Shiami Indiraphasa lainnya.

Baca Juga:  Review Chapter 1010 'One Piece': Narasi tentang Kaido yang (Ternyata) Berlebihan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
9


Komentar

Comments are closed.