Bagi orang yang paham sejarah, sering ada candaan. “Kamu kalau hidup di zaman pra-kemerdekaan, besar kemungkinan ikut penjajah.”
Candaan tersebut sebetulnya bisa dipertanggungjawabkan. Karena para pejuang dan pemikir kemerdekaan bagi Indonesia saat itu, sangat minor. Mungkin hanya sekitar 3-5% dari jumlah populasi orang saat itu. Kecil sekali, bukan?
Ada satu kesalahpahaman besar dalam cara kita membayangkan sejarah Indonesia: seolah-olah seluruh rakyat sejak awal sudah menginginkan kemerdekaan. Gambaran itu terasa heroik, tetapi tidak sepenuhnya akurat. Jika kita kembali ke kenyataan sosial Hindia Belanda pada awal abad ke-20, kita akan menemukan fakta yang mungkin mengejutkan: lebih dari 95 persen penduduk Indonesia pada masa itu bukan pendukung aktif kemerdekaan.
Pernyataan ini bukan untuk merendahkan perjuangan bangsa, justru sebaliknya. Ini menunjukkan betapa luar biasanya proses lahirnya Indonesia sebagai sebuah negara.
Indonesia Belum Ada di Kepala Banyak Orang
Pada tahun 1920-an, “Indonesia” belum menjadi identitas umum. Sebagian besar penduduk Nusantara tidak hidup dalam kesadaran nasional seperti sekarang. Mereka mengenal diri sebagai orang Jawa, Minangkabau, Bugis, Bali, Ambon, atau Sunda. Kesetiaan sosial melekat pada desa, kerajaan, agama, atau komunitas lokal, bukan pada negara bernama Indonesia.
Bagi seorang petani di pedalaman Jawa atau Sumatra, gagasan tentang republik modern adalah konsep yang sangat jauh dari kehidupan sehari-hari. Politik nasional bukan urusan mereka. Yang penting adalah panen berhasil, keluarga selamat, dan kehidupan tetap berjalan.
Kemerdekaan, pada tahap ini, masih merupakan ide intelektual, bukan kebutuhan massa.
Minoritas Kecil yang Berani Membayangkan Republik
Kelompok yang benar-benar memperjuangkan kemerdekaan hanyalah minoritas kecil — sekitar dua hingga lima persen penduduk. Mereka berasal dari kalangan terdidik: guru, mahasiswa, wartawan, pegawai muda, dan aktivis organisasi modern.
Mereka membaca buku-buku politik dunia, mengenal nasionalisme Eropa, sosialisme, dan gerakan anti-kolonial internasional. Dari kelompok kecil inilah muncul tokoh-tokoh seperti Soekarno, Mohammad Hatta, dan Tan Malaka.
Mereka melakukan sesuatu yang revolusioner: menciptakan sebuah imajinasi bersama bernama Indonesia.
Kemerdekaan, sebelum menjadi fakta politik, terlebih dahulu menjadi gagasan yang diyakini oleh segelintir orang.
Kelompok yang Justru Mendukung Sistem Kolonial Sangat Besar
Di sisi lain, terdapat kelompok yang tidak menginginkan kemerdekaan total. Jumlahnya tidak kecil. Sekitar sepuluh hingga dua puluh persen penduduk berada dalam posisi yang relatif nyaman dalam sistem kolonial.
Mereka termasuk elite priyayi, birokrat lokal, pegawai pemerintah, serta kelompok masyarakat yang memperoleh stabilitas ekonomi dan status sosial dari pemerintahan Belanda. Banyak di antara mereka tidak membenci Indonesia, tetapi menganggap perubahan radikal terlalu berbahaya.
Bagi kelompok ini, reformasi bertahap dalam sistem kolonial terasa lebih rasional dibanding revolusi yang penuh ketidakpastian.
Mayoritas Besar yang Hanya Diam
Kelompok terbesar — sekitar 75 hingga 85 persen penduduk — sebenarnya tidak berada di dua kubu tersebut. Mereka bukan pendukung kolonialisme, tetapi juga bukan aktivis kemerdekaan.
Mereka apolitis. Mayoritas rakyat hidup dalam dunia agraris dengan tingkat pendidikan sangat rendah. Informasi politik terbatas, mobilitas sosial kecil, dan akses terhadap wacana nasional hampir tidak ada. Dalam kondisi seperti itu, kemerdekaan bukanlah isu utama.
Sejarah sering bergerak bukan karena mayoritas telah siap, tetapi karena mayoritas belum memiliki alasan untuk memilih.
Mengapa Minoritas Bisa Mengubah Sejarah?
Di sinilah keajaiban sejarah Indonesia terjadi. Kaum terdidik awal abad ke-20 berhasil melakukan sesuatu yang jauh lebih kuat daripada pemberontakan bersenjata: mereka mengubah cara orang membayangkan diri mereka sendiri.
Melalui sekolah, surat kabar, organisasi, dan bahasa Indonesia yang sedang tumbuh, gagasan nasionalisme perlahan menyebar. Krisis ekonomi global, runtuhnya prestise Eropa, serta pendudukan Jepang mempercepat proses itu.
Dalam waktu singkat, sesuatu yang sebelumnya hanya diyakini minoritas berubah menjadi kesadaran kolektif.
Ketika Proklamasi 1945 dibacakan, Indonesia sebenarnya bukan hasil kehendak mayoritas sejak awal, melainkan hasil kemenangan sebuah ide yang akhirnya diterima oleh mayoritas.
Kemerdekaan Bukan Titik Awal, Melainkan Titik Balik
Fakta bahwa lebih dari 95 persen penduduk awalnya tidak mendukung kemerdekaan justru memperlihatkan betapa revolusionernya para pendiri bangsa. Mereka tidak mengikuti arus rakyat; mereka menciptakan arus itu.
Indonesia lahir bukan karena seluruh rakyat sudah siap merdeka, tetapi karena segelintir orang berani percaya pada sesuatu yang belum dipercaya banyak orang.
Sejarah kemerdekaan Indonesia dengan demikian bukan sekadar kisah perlawanan terhadap penjajah. Ia adalah kisah tentang bagaimana sebuah bangsa pertama-tama dibayangkan, kemudian diperjuangkan, dan akhirnya menjadi kenyataan.
Dan mungkin pelajaran terpentingnya adalah ini: perubahan besar hampir selalu dimulai dari minoritas kecil yang berani berpikir berbeda sebelum mayoritas memahami arah zaman.



















