Promosi dan tawaran Kredit Pemilikan Rumah atau KPR semakin gencar, ada di mana-mana. Narasi yang digaungkan pun mirip, kurang lebih mending KPR daripada ngekos. Kalau KPR rumahnya nanti jadi milik sendiri, sementara kalau ngekos rumahnya tetap milik yang punya.
Sekilas kalimat marketing itu terdengar benar dan meyakinkan. Semakin mantaplah ambil KPR, apalagi teman-teman sejawat sudah posting pegang kunci rumah. Namun, ada banyak hal terselubung di balik KPR yang nggak dibicarakan banyak orang, apalagi orang-orang marketing-nya.
Kondisi tiap orang berbeda dan nggak semua siap ambil KPR
Narasi yang digunakan tim marketing KPR tidaklah salah. Hanya saja, calon pembeli hendaknya menyadari betul kondisi masing-masing. Jangan hanya karena gengsi teman-teman sudah KPR atau sudah punya rumah, kalian lalu ngotot pengin juga. Padahal kondisi tiap orang itu berbeda.
Apabila kondisi finansial belum sehat jangan berani-beraninya ambil KPR. Kalau tabungan kalian masih tipis, dana darurat belum ada, penghasilan nggak stabil, pengeluaran bulanan masih kejar-kejaran dengan pendapatan, lebih baik pikirkan ulang ambil KPR.
Ayo kita bedah narasi yang kerap dipakai orang-orang marketing itu. Pertama, ambil KPR tidak otomatis berarti rumah itu benar-benar milik kita. Selama cicilan belum lunas, rumah tersebut secara hukum masih milik bank.
Kita hanya menempati sambil membayar. Kalau di tengah jalan ekonomi terguncang kena PHK, sakit, usaha mandek dan cicilan macet, rumah bisa disita. Uang yang sudah dibayar bertahun-tahun bisa lenyap begitu saja.
Kedua, soal waktu. Banyak KPR ditawarkan dengan tenor 10, 15, bahkan 25 tahun. Artinya, ada kemungkinan rumah baru benar-benar “punya sendiri” saat usia sudah tidak muda lagi. Itu pun dengan catatan kondisi ekonomi stabil selama puluhan tahun sesuatu yang tidak bisa dijamin di dunia kerja yang makin tidak pasti.
Sekali lagi. tidak ada yang salah dengan KPR. Punya rumah adalah impian yang wajar. Yang keliru adalah ngotot mengusahakannya saat kondisi belum siap. Cicilan mungkin terlihat kecil di awal, tapi hidup tidak hanya soal cicilan. Ada listrik, air, perawatan rumah, pajak, transportasi, makan, kesehatan, dan kebutuhan tak terduga lain. Semua itu berjalan bersamaan, tidak menunggu kita siap.
Baca juga 3 Penderitaan Punya Rumah Dekat Sawah yang Nggak Disadari Kebanyakan Orang Kota.
Pengantin baru berhati-hatilah
Sejauh pengamatan saya, mereka yang kerap terjebak gengsi untuk ambil KPR adalah para pengantin baru. Banyak pasangan muda yang sebenarnya belum mapan akhirnya ambil KPR hanya karena dipaksa keadaan, atau lebih tepatnya dipaksa gengsi keluarga.
Orang tua atau mertua takut dengan kata-kata tetangga. Takut dibilang anaknya sudah menikah, tapi masih kos. Takut dibandingkan dengan keluarga lain yang rumahnya sudah permanen.
Pasangan baru yang seharusnya fokus membangun pondasi rumah tangga justru langsung dibebani cicilan puluhan tahun. Bulan madu belum selesai, stres cicilan sudah mulai. Rumah tangga yang masih rapuh dipaksa kuat oleh beban ekonomi yang sebetulnya bisa ditunda.
Di sisi lain, sewa kos atau ngontrak sering dianggap pilihan orang miskin. Padahal, di banyak kondisi, itu pilihan paling rasional. Sewa memberi fleksibilitas. Ketika pekerjaan berpindah, kita bisa ikut pindah. Ketika penghasilan turun, kita bisa menyesuaikan tempat tinggal. Tidak ada tekanan jangka panjang puluhan tahun. Tidak ada rasa waswas setiap akhir bulan karena cicilan yang tidak bisa ditawar.
Baca juga Beli Rumah Subsidi Cuma Bikin Hidupmu Jauh Lebih Sengsara dalam Waktu yang Lama.
KPR nggak menjamin kalian punya rumah
Banyak orang bilang uang sewa itu “hilang”. Tapi, cicilan KPR juga bukan jaminan investasi kalau diambil di waktu yang salah. Stres berkepanjangan, hidup serba ditekan, tidak punya ruang berkembang, bahkan tidak berani ambil peluang baru karena takut cicilan, semua itu juga biaya, hanya saja tidak tertulis di kertas.
Lebih baik sewa kos tapi punya tabungan, dana darurat, dan ruang bernapa daripada punya rumah tapi hidup penuh kecemasan. Kadang kita lupa, tujuan punya rumah itu untuk rasa aman dan tenang. Kalau justru membuat stres setiap bulan, mungkin memang waktunya belum tepat.
Kesiapan finansial bukan cuma soal sanggup bayar DP dan cicilan pertama. Finansial sehat itu tentang cadangan, perencanaan, dan kemampuan bertahan ketika kondisi berubah. Kalau semua masih goyah, KPR bisa berubah dari mimpi menjadi beban jangka panjang.
Menunda bukan berarti gagal. Mengakui belum siap justru tanda kedewasaan. Tidak semua orang harus punya rumah di usia yang sama. Hidup bukan lomba siapa paling cepat pegang sertifikat.
Sewa kos bukan simbol kegagalan. Kadang justru tanda sadar diri. Tanda bahwa kita memilih bertahan, menata, dan memperkuat fondasi sebelum membangun rumah yang sesungguhnya bukan cuma bangunan, tapi kehidupan di dalamnya.
Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Ambil KPR di Tanah Rantau: Sebuah Keputusan Berujung Penyesalan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
