Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Personality

Jangan Mendidik Anak dengan Ketakutan-Ketakutan

Andrian Eksa oleh Andrian Eksa
17 Juni 2019
A A
ketakutan pada anak

ketakutan pada anak

Share on FacebookShare on Twitter

Mau tidak mau, bermain bersama anak-anak mesti menjadi anak-anak. Kalau tidak, biasanya seseorang hanya akan melihat dari sudut pandangnya. Padahal sudut pandang anak-anak sering beraneka rupa.
Sedikit pengalaman bermain bersama anak-anak di Dolanan Anak Jogja—komunitas yang bergerak di bidang edukasi permainan tradisional—membuat saya terbiasa menjadi anak-anak. Setiap bertemu dengan anak-anak, rasanya ingin jadi teman mereka. Berkenalan dengan malu-malu, lantas bermain sampai lupa waktu. Bukan lupa waktu sih, cuma menyibukkan diri untuk mengisi waktu, agar segera melupakanmu.

Kemarin—di sebuah kereta—saya bertemu dengan Dek Nayla. Pipinya adalah impian para gadis, karena cubit-able. Matanya bening dan tatapannya menenangkan. Rambutnya lembut dan pendek. Senyumnya begitu manis dan tawanya gurih. Gadis yang menggemaskan.

Menyenangkannya lagi, Dek Nayla duduk di samping saya. Dia tepat di samping jendela. Meskipun begitu, dia lebih memilih bersandar di bahu saya. Kami memang baru kenal di kereta, tapi keakraban kami seperti kawan lama.

Jujur saya takut tergoda. Saya sudah punya kekasih dan inginnya setia. Untung, Dek Nayla masih berumur 1,5 tahun. Kalaupun saya tunggu, tentu masih lama. Jadi, saya putuskan untuk tetap setia. Syukurlah saya masih bisa amanah.

Saya naik kereta dari Surabaya sendirian. Sedangkan Dek Nayla tidak sendiri. Dia naik dari Stasiun Jombang dan hendak pergi ke Yogyakarta. Ibu dan kakaknya duduk di kursi lain. Sedangkan ayahnya duduk di samping Dek Nayla. Jadi Dek Nayla ada di tengah, tapi suka sekali polah. Inginnya pindah-pindah. Sebentar ikut ibu, sebentar kemudian ikut ayah.

Orangtuanya pun jengah. Dek Nayla dipaksa untuk tetap duduk di tengah. Tidak boleh ikut ibu, apalagi ikut yang lain. Nanti bikin orangtua pusing. Kalau sudah pusing, bisanya cuma muring-muring.
Dalam momen kepolahan Dek Nayla, saya mengamati sikap orangtuanya. Cara mereka menenangkan Dek Nayla, saya rasa kurang pas. Mereka memang cemas karena Dek Nayla terus-menerus seperti pegas, tuing sana tuing sini. Tapi kan tidak harus ditakut-takuti.

Saya perhatikan, Dek Nayla ketakutan dengan kecoa dan Nenek Grandong. Saya melihat, setiap kali Dek Nayla hendak beranjak, orangtuanya menakut-nakuti dengan mengatakan kalau di lantai ada kecoa. Dek Nayla pun akhirnya duduk kembali. Ekspresi wajahnya menampakkan rasa tidak percaya diri.

Begitu pula ketika Dek Nayla hendak pergi. Dia sudah berdiri dan bersiap lari. Tiba-tiba ibunya bilang, “Jangan ke sana. Ayo ke sini. Nanti diculik Nenek Grandong lho. Ayo! Ayo!” Dek Nayla pun segera mendekat ke ibunya. Mendekapnya seperti orang ketakutan. Kayaknya sama seperti ketakutan yang kamu rasakan ketika melihat mantan gandengan sama gebetan. Betapa menyeramkan!

Baca Juga:

Mindfulness Parenting Mengajari Saya untuk Tidak Menurunkan Trauma kepada Anak Masa Depan Saya

30 Kosakata Parenting yang Njelimet, tapi Sebaiknya Dipahami Orang Tua Zaman Sekarang

Kejadian menakut-nakuti itu terjadi beberapa kali. Pokoknya setiap Dek Nayla mulai rewel dan hendak pergi. Saya prihatin. Mendidik anak seharusnya tidak seperti itu. Anak-anak yang dididik dengan ketakutan, hanya akan menjadi penakut dan bisa jadi mengganggu kesehatan—fisik maupun mental.

Akhirnya saya mencoba untuk berkomunikasi dengan Dek Nayla. Meski belum lancar berbicara, dia mampu merespon saya dengan senyum dan tawa. Kami pun bermain dengan gembira.
Dek Nayla mengambil tutup dot dan memfungsikannya sebagai gelas-gelasan. Tutup tersebut diberikan kepada saya untuk diisi minum-minuman. Saya memfungsikan sebuah earphone—yang ada di depan saya—sebagai alat pengisi minuman.

Dengan sebuah suara “Ces… Ces… Ces….”, saya mengisi penuh gelas-gelasan. Saya berikan minum-minuman itu kepada Dek Nayla. Dia pun langsung meminumnya dengan penuh dahaga. Setelah dirasa habis, diberikan lagi kepada saya.

“Neh!” katanya sambil tertawa.

Permainan ini kami lakukan sampai Dek Nayla kehilangan rasa haus. Dagangan saya pun ludes. Kami sama-sama bahagia, karena mendapatkan hal yang diharapkan bersama. Betapa menyenangkannya membiarkan imajinasi kami apa adanya.

Dek Nayla ternyata tidak habis akal. Setelah puas minum, langsung ganti permainan. Tutup yang semula jadi gelas-gelasan, kini jadi hewan-hewanan. Kebetulan sekali, tutup dot tersebut ada gambar muka kucing. Dek Nayla memainkannya sambil menirukan suara, “Meong… Meong… Meong….”

Saya meresponnya dengan kata “pus”, lalu Dek Nayla tertawa lepas—ngglegik. Orangtuanya yang sempat tertidur sampai terbangun. Mereka tidak menyangka anaknya bisa begitu gembira. Padahal baru saja kenal dengan saya.

Orangtuanya kemudian berterima kasih kepada saya. Begitupun dengan saya, betapa beruntungnya bertemu Dek Nayla. Sudah cantik, menyenangkan pula. Akhirnya, setelah permainan selesai, Dek Nayla istirahat. Dia ngedot sambil duduk di pangkuan ayah. Mereka berdua terlihat lelah.

Sampai di Solo, saya tak sempat pamit pada mereka. Semuanya sudah tertidur. Termasuk Dek Nayla yang membuat saya bersyukur. Sayang sekali, saya belum sempat minta nomor WhatsApp-nya. heu~

Terakhir diperbarui pada 14 Januari 2022 oleh

Tags: KetakutanMendidik AnakParenting
Andrian Eksa

Andrian Eksa

Kelahiran Boyolali, 15 Desember. Saat ini menjadi seorang guru Bahasa Indonesia yang memilih tidak hanya sekadar mengajarkan kata, tapi juga merawatnya. Menyukai isu-isu terdekat di sekitarnya.

ArtikelTerkait

Ide Konten yang Lebih Waras buat Ria Ricis

3 Ide Konten yang Lebih Waras buat Ria Ricis

7 Januari 2023
Opini Goblok 2024 Sesat Pikir Anak Pasangan Guru Harus Cerdas (Unsplash)

Anak Pasangan Guru Harus Cerdas Adalah Sesat Pikir yang Menyiksa Anak

15 Januari 2024
dibully

Apa yang Harusnya Orang Tua Lakukan kalau Anaknya Dibully?

20 September 2019
Ketimbang Pengin Jadi Maudy Ayunda, Mending Belajar Jadi Orang Tuanya Saja terminal mojok

Ketimbang Pengin Jadi Maudy Ayunda, Mending Belajar Jadi Orang Tuanya Saja

13 Juni 2021
parenting MOJOK

Sebenarnya, Seberapa Penting Rewarding dalam Parenting Itu?

20 Desember 2020
Memuji Anak dengan 'Kamu Pintar, Nak!' Adalah Alasan Anak Jadi Mudah Menyerah MOJOK

Memuji Anak dengan ‘Kamu Pintar, Nak!’ Adalah Alasan Anak Jadi Mudah Menyerah

23 Juli 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Yamaha Vega Force: Takhta Tertinggi Motor Entry Level yang Tak Boleh Dilewatkan

Yamaha Vega Force: Takhta Tertinggi Motor Entry Level yang Tak Boleh Dilewatkan

9 Maret 2026
Perang Iran vs Amerika Buat Kelas Menengah Indonesia Makin Tertekan

Perang Iran vs Amerika Buat Kelas Menengah Indonesia Makin Tertekan

8 Maret 2026
Gudeg Adalah Makanan Khas Jogja Paling Mengecewakan (Unsplash)

Gudeg Adalah Makanan Khas Jogja Paling Mengecewakan, Mending Makan Mangut Lele atau Bakmi Jawa kalau Pertama Kali Kulineran di Jogja

9 Maret 2026
4 Hal yang Bakal Hilang kalau Kursi Berhadapan Kereta Ekonomi Lenyap Mojok.co

4 Hal yang Bakal Hilang kalau Kursi Berhadapan Kereta Ekonomi Lenyap

9 Maret 2026
Ulukutek Leunca, Makanan Sunda Paling Nggak Normal dan Rasanya Bikin Pusing Pendatang  Mojok.co

Ulukutek Leunca, Makanan Sunda Paling Nggak Normal dan Rasanya Bikin Pusing Pendatang 

13 Maret 2026
Sebenarnya Siapa sih yang Memulai Tradisi Uang Baru Saat Hari Raya? Bikin Repot doang!

Sebenarnya Siapa sih yang Memulai Tradisi Uang Baru Saat Hari Raya? Bikin Repot doang!

8 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”
  • Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto
  • Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah
  • Mahasiswa UGM Belajar Kehidupan dari Kepala Suku di Raja Ampat, Merasa “Kecil” karena Ilmu di Kuliah Sebatas Teori tanpa Aksi Nyata
  • Perantau Minang Gabut Mudik Bikin Tanduk Kerbau dari Selimut KAI, Tak Peduli Jadi Pusat Perhatian karena Suka “Receh”
  • Pengalaman Brengsek Naik Travel dari Jogja ke Surabaya, Dapat Sopir Amatiran Membahayakan Nyawa dan Semburan Muntahan Penumpang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.