Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Bukan Hanya Perpustakaan Daerah, Semua Pelayanan Publik Itu Jam Operasionalnya Kacau Semua!

M. Afiqul Adib oleh M. Afiqul Adib
1 Desember 2025
A A
Bukan Hanya Perpustakaan Daerah, Semua Pelayanan Publik Itu Jam Operasionalnya Kacau Semua!

Bukan Hanya Perpustakaan Daerah, Semua Pelayanan Publik Itu Jam Operasionalnya Kacau Semua!

Share on FacebookShare on Twitter

Saya baru saja membaca tulisan Mochamad Firman Kaisa berjudul Logika Kacau Operasional Perpustakaan Daerah: Buka Saat Orang Sibuk, dan Tutup Saat Orang Punya Waktu. Jujur, saya sangat sepakat dengan isinya. Tak ada satu pembahasan pun yang saya tidak sepakat. Hanya saja, setelah dipikir lagi, operasional yang aneh itu bukan cuma milik perpustakaan daerah, melainkan hampir semua pelayanan publik kita.

Iya, masalah birokrasi ini bukan milik perpustakaan saja. Ini wabah nasional. Layanan publik kita, entah itu perpustakaan, dinas kependudukan, BPJS, sampai Mal Pelayanan Publik, semua sama. Yakni, buka di waktu yang tidak logis bagi mayoritas orang yang butuh layanan.

Iya, entah kenapa mereka buka tepat di jam ketika sebagian besar orang sedang bekerja, kuliah, atau sekolah. Ketika kita akhirnya punya waktu di akhir pekan atau malam hari, pintunya sudah terkunci rapat. Seolah-olah layanan publik ini hanya disediakan untuk makhluk-makhluk yang tidak bekerja dan tidak punya aktivitas lain.

Mal Pelayanan Publik: siapa sebenarnya yang dilayani?

Sedikit cerita, saya pernah ke Mal Pelayanan Publik di Lamongan. Tempat ini digadang-gadang sebagai solusi satu pintu untuk memudahkan urusan administrasi masyarakat. Semua layanan pemerintah dikumpulkan di satu lokasi agar warga tak perlu lagi berpindah dari kantor satu ke kantor lainnya. Secara konsep terdengar menjanjikan.

Tapi ketika saya mencoba sendiri di Lamongan, kenyataannya tidak se-ideal itu. Sebab, Jam operasional pelayanan hanya dari pukul delapan hingga dua belas siang. Setelah itu, yang tersisa hanyalah waktu untuk mengambil berkas sampai pukul dua sore.

Saya yang harus menempuh jarak satu jam setengah untuk sampai ke sini terpaksa harus gigit jari. Saya disarankan untuk datang lagi esok harinya. Remhok gaes.

Lantas, siapa yang benar-benar bisa dilayani jika rentang waktunya sesingkat itu? Kebanyakan warga bekerja di jam yang sama. Mereka yang ingin mengurus dokumen sering kali harus izin dari pekerjaan, mengorbankan pendapatan harian, atau bahkan mengambil cuti. Sementara layanan online pun masih dibatasi durasi yang sama, sehingga tetap saja tak membantu bagi pekerja yang baru bisa mengurus administratif di luar jam kantor. Bagian mananya yang pelayanan publik?

Kenapa tidak disesuaikan saja jam kerjanya?

Coba bayangkan kalau layanan publik dibuka siang sampai malam. Liburnya Senin–Selasa, bukan Sabtu–Minggu. Biar yang kerja nggak perlu drama ambil cuti hanya untuk ngurus fotokopian KTP yang entah kenapa harus difotokopi lagi, padahal mereka sendiri yang punya datanya. Mahasiswa dan siswa juga bisa mampir sepulang aktivitas, tanpa perlu bolos hanya karena negara butuh tanda tangan.

Baca Juga:

Serba-serbi Uang Rokok dalam Pelayanan Publik, Bukti Korupsi di Indonesia Susah Diberantas

Kalau pusat perbelanjaan saja bisa buka sampai larut, bahkan kadang shift pagi–malam demi pelanggan, kenapa kantor layanan publik malah seperti menutup diri dari kenyataan? Bukankah yang dilayani itu publik?

Negara sering bilang ingin dekat dengan rakyat. Tapi kalau jam bukanya cuma pas rakyat lagi sibuk cari nafkah, siapa yang mendekati siapa? Kalau benar ingin melayani, ya fleksibel sedikit dong. Jangan sampai pelayanan publik cuma jadi pelayanan untuk publik yang kebetulan menganggur.

Pelayanan publik itu nyaris eksklusif untuk yang menganggur

Yang sering terlupa dari istilah pelayanan publik adalah kata “publik” itu sendiri. Publik itu bukan hanya mereka yang waktunya lowong dari Senin sampai Jumat. Publik itu ya semua warga yang bayar pajak, ikut pemilu, masih harus antre sembako ketika harga naik, dan pulang kerja dengan punggung pegal demi roda ekonomi tetap muter.

Maksud saya, kalau untuk sekadar memperpanjang KTP saja kita masih harus izin atasan, ngambil cuti, atau pura-pura sakit, ya jelas banyak yang pengin maido, “Negara ini kok melayani hanya saat rakyat lagi nganggur?”

Saya percaya jadwal pelayanan publik masih bisa disesuaikan dengan lebih masuk akal. Tapi harus ada kemauan lebih dulu. Karena slogan “Melayani dengan Sepenuh Hati” itu tidak akan ada artinya kalau pintu pelayanan tidak mudah diakses oleh siapa saja.

Pada akhirnya, layanan publik seharusnya membantu warga menyelesaikan urusan, bukan menambah beban hidup yang sudah penuh tuntutan. Jika negara ingin benar-benar hadir untuk rakyatnya, setidaknya logika operasional ini memang perlu direvisi total.

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Magelang Boleh Kurang Ini Itu, tapi Perkara Kemudahan Birokrasi, Magelang Juara!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 1 Desember 2025 oleh

Tags: jam operasional pelayanan publik pemerintahmall pelayanan publikpelayanan publik
M. Afiqul Adib

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.

ArtikelTerkait

Serba-serbi Uang Rokok dalam Pelayanan Publik, Bukti Korupsi di Indonesia Susah Diberantas

Serba-serbi Uang Rokok dalam Pelayanan Publik, Bukti Korupsi di Indonesia Susah Diberantas

13 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup Pola Pikir Pecundang (Unsplash)

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup untuk Hidup dan Berpotensi Bikin Pekerja Tetap Miskin Adalah Pola Pikir Pecundang yang Nggak Tahu Cara Bertahan Hidup

6 April 2026
Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain Mojok.co

Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain

6 April 2026
Toyota Hiace, Mobil Toyota yang Nyamannya kayak Bawa LCGC (Unsplash)

Derita Pemilik Hiace, Kerap Menghadapi “Seni” Menawar Harga yang Melampaui Batas Nalar

8 April 2026
Rindu Kota Batu Zaman Dahulu yang Jauh Lebih Nyaman dan Damai daripada Sekarang Mojok.co apel batu

Senjakala Apel Batu, Ikon Kota yang Perlahan Tersisihkan. Lalu Masih Pantaskah Apel Jadi Ikon Kota Batu?  

10 April 2026
8 Tipe Mahasiswa KKN yang Menjadi Beban Kelompoknya (Wikimedia Commons)

8 Tipe Mahasiswa KKN yang Menjadi Beban Kelompoknya

10 April 2026
Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Bangun Rumah Istana di Grobogan Gara-gara Sinetron, Berujung Menyesal karena Keadaan Aneh dan Merepotkan
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit
  • Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.