Saya pernah mengeluhkan kondisi jalur selatan Jawa di Terminal Mojok. Tepatnya jalan nasional antara Purworejo dan Kulon Progo. Kalian bisa membacanya di Jalan Nasional Purworejo vs Kulon Progo Ketimpangannya Begitu Terasa: Dalam Hitungan Meter, Dunia Begitu Berbeda.
Di situ saya mengeluhkan kondisi jalan nasional yang begitu berbeda di 2 kabupaten yang bertetangga. Saking bedanya, seolah-olah pengguna jalan pindah dunia, bukan pindah kabupaten.
Ada satu hal yang luput dari tulisan itu. Saya hanya membandingkan mulus tidaknya jalan nasional yang berada di Purworejo dan Kulon Progo. Apakah jalannya mulus, bergelombang, atau banyak tambalan? Hanya itu pembandingnya.
Padahal, sebagai jalan penghubung yang vital untuk sisi selatan Jawa, ada hal lain yang tidak kalah penting: lampu penerangan. Terang tidaknya jalan nasional jadi poin penting demi kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan.
Bagi kalian yang melewati jalan ini di siang hari, lampu penerangan mungkin tidak jadi persoalan. Namun, bagi mereka yang sering melintas di malam hari, lampu penerangan di jalan nasional Purworejo dan Kulon Progo jadi persoalan serius. Terlebih bagi pengendara sepeda motor seperti saya. Mau tidak mau, mata jadi lebih awas ketika melintas.
Pengalaman buruk di Jalan Nasional Purworejo Kulon Progo
Saya beberapa kali melewati jalur itu di malam hari menggunakan motor. Dan, kalau boleh jujur, sensasinya kadang lebih mirip latihan refleks daripada perjalanan santai. Salah satu pengalaman yang tidak pernah terlupa adalah hampir terjatuh karena sebuah lubang di jalan yang tidak terlihat jelas.
Waktu itu kondisi jalan gelap. Tidak ada penerangan jalan yang benar-benar membantu. Sementara, dari arah berlawanan sesekali melintas truk besar dengan lampu yang menyilaukan. Dalam situasi seperti itu, lubang di jalan baru benar-benar terlihat ketika motor sudah sangat dekat. Untung saja waktu itu refleks masih cukup cepat untuk menghindar, meskipun sedikit oleng.
Pengalaman seperti itu membuat saya sadar satu hal. Jalan nasional Purworejo–Kulon Progo ini bukan hanya soal aspal yang bergelombang atau jalan yang kadang menyempit tiba-tiba. Penerangan yang jarang di beberapa titik juga jadi sangat mengkhawatirkan.
Cuma daerah sekitar Bandara YIA yang baik
Uniknya, kondisinya berbeda di jalanan sekitar Bandara YIA. Di sekitar bandara, penerangan jalan bisa dibilang sangat baik. Lampu-lampu jalan berdiri rapi dan terang. Jalan terasa jelas terlihat bahkan dari jarak cukup jauh.
Akan tetapi, begitu sedikit menjauh dari kawasan bandara, kondisi penerangan mulai berubah. Lampu jalan memang masih ada, tapi tidak sebanyak dan seterang yang ada di sekitar bandara. Jalan masih terlihat, tapi tidak sejelas sebelumnya.
Dan, ketika perjalanan berlanjut ke arah Purworejo, perbedaannya terasa semakin nyata. Di beberapa titik, penerangan jalan terasa sangat minim. Bahkan ada bagian jalan yang benar-benar gelap, seolah lampu jalan hanya konsep yang sesekali muncul lalu menghilang lagi.
Ini sekaligus jadi pesan kepada mereka yang masuk Jogja atau Purworejo lewat Bandara YIA. Pesannya jangan kaget dengan jalanan menuju Jogja maupun Purworejo. Jalan yang normal, mulus dan terang, cuma sekitar bandara saja. Selebihnya seperti jurit malam.
Hanya mengandalkan mata yang awas
Dalam kondisi gelap seperti itu, jalan yang bergelombang atau lubang yang sudah ditambal tetap bisa menjadi masalah. Apalagi jalur ini juga cukup sering dilalui truk-truk besar. Lampu kendaraan yang saling berhadapan kadang justru membuat pengendara motor semakin sulit melihat kondisi jalan di depan.
Iya, kondisinya mengkhawatirkan seperti itu. Ini kita tidak sedang membicarakan jalan di dalam desa ya. Ini adalah jalan nasional yang menghubungkan wilayah penting di selatan Jawa. Jalur yang dilewati kendaraan dari berbagai daerah setiap hari.
Setiap kali melewati jalur itu di malam hari, saya selalu teringat satu hal. Ketimpangan di jalan nasional Purworejo dan Kulon Progo bukan hanya soal mulus atau tidaknya aspal. Soal terang dan gelapnya jalan pun, perbedaannya terasa cukup nyata.
Penulis: Riko Prihandoyo
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Bukit Menoreh, Tempat Wisata Kulon Progo yang Bikin Kapok untuk Kembali Lagi.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
