Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Jagabaya Tunabrata dan Kemarahan yang Sia-sia

Suwatno oleh Suwatno
14 Oktober 2021
A A
jagabaya polisi anarki

jagabaya polisi anarki

Share on FacebookShare on Twitter

Kaum jagabaya ini sedang ada di fase lupa akan jati dirinya. Lupa akan hakikat tugas dan amanah dari rakyat yang yang ditaruh di pundak mereka.

“Minum dulu, Kin.” Kanapi mengulurkan botol kaca bekas sirup yang diisi air putih dari kulkas. Dengan cepat Solikin menyambar dan lantas menenggaknya. Hampir setengah botol ia tandaskan, tapi dadanya masih tampak naik-turun, nafasnya sedikit terengah.

“Ini dibakar dulu sebatang, biar nggak kemerungsung lagi, Kin.” Goda Pardi diiringi lemparan sekotak rokok. Menyaksikan pemandangan itu, Cak Narto yang masih bertudung sarung hanya cekikikan di atas jok motornya.

Dari selepas isya sampai menjelang warung Yu Marmi tutup, perdebatan penuh nuansa kemarahan, belum juga usai. Melihat itu Kanapi mengajak forum untuk bergeser ke depan bengkelnya.

“Sampean jangan cuma prengas-prenges, Cak. Ini lho mbok Solikin dihibur, biar nggak ngomel-ngomel terus. Kasihan dia nggak bisa melampiaskan kemarahannya. Hehehe.” Goda Kanapi sambil menggelar tikar.

“Apa lagi yang mau dibahas, Pi. Wong semua sudah jelas gitu, kok.” Cak Narto melompat ke atas tikar, melipat kaki, dan menggosokkan kedua telapak tangan, mengusir dingin hawa kemarau.

“Kalau semua sudah jelas, berarti Sampean sama saja sepakat dengan apa yang mereka telah lakukan, Cak. Kesewenang-wenangan, kekerasan, dan penindasan mereka, polisi-polisi itu” tembak Solikin lugas.

“Lho lho lho, ya nggak gitu dong, Kin. Diam bukan berarti setuju. Aku diam karena menurutku, memang hanya itu yang bisa dilakukan…” Cak Narto menggerus kreteknya yang sisa seisap, “…sebab rasanya semua usaha sudah dicoba, dan nyatanya sia-sia belaka.” Dibakarnya cepat batang kretek baru.

Baca Juga:

Ujian SIM Perlu Direvisi, Harusnya Lebih Fokus pada Etika dan Pengambilan Keputusan di Jalan

Pertigaan Lampu Merah Kletek Sidoarjo, Pertigaan Angker bagi Pengendara yang Tak Taat Peraturan Lalu Lintas

“Ya harus dilawan dong, Cak. Karena diam adalah pengkhianatan” tukas Solikin geram. Kepalannya dipukulkan ke telapak kakinya sendiri.

“Melawan dengan metode apa, Kin? Wong protes lewat unjuk rasa damai, ya digebukin, kayak teman-temanmu mahasiswa itu. Dan seperti yang sudah-sudah, melawan mereka dengan benturan fisik sudah pasti kita, orang sipil begini, pasti kalah telak. Wong mereka terlatih dan dipersenjatai, kok.” Asap dari mulut Cak Narto berhamburan.

“Ibarat pertandingan, metode perlawanan berbasis fisik sudah jelas bukan pertandingan yang seimbang, Kin. Sudah bisa ditebak siapa pemenangnya.” Tambahnya.

“Mau perang gagasan lewat tulisan? Menurutku kok ya percuma. Itu kemarin liputan investigasi yang begitu bernas saja malah distempel sebagai berita hoax sama mereka. Lantas medianya diserang sampai nggak bisa diakses lagi. Besoknya sudah menjadi perang trending dan arak-arakan tagar di medsos. Percuma, Kin. Sia-Sia.” Tandas Cak Narto agak lemas.

Hening menyela. Suara tonggeret dari persawahan menggerus suasana.

“Enggg… kalau aku, Cak, tetap pada posisi melawan. Menurutku metode yang paling pas saat ini, ya itu tadi: anarkisme. Dihapus aja konsep bernegara, toh memang tidak menciptakan kesejahteraan. Dan dihapus juga semua perangkat yang menumbuhsuburkan penindasan itu” ujar Solikin berapi, sambil mengacungkan telunjuk kiri.

“Aish… ra mashoook” Tanpa aba-aba Kanapi dan Pardi menyela argumen Solikin berbarengan. Cak Narto tambah cekikikan.

“Wajar saja, Kin, kamu masih muda. Jiwa berontak dan melawanmu masih meledak-ledak. Nanti seiring bertambahnya usia juga kamu akan ngerti apa yang aku maksud dengan ‘kesia-siaan’ itu tadi.” Cak Narto menyeka linang air mata tawanya, “Dan bahwa melawan kekerasan dengan kekerasan hanya akan menghasilkan kehancuran.” 

“Lagian, Kin…” belum selesai rupanya kalimatnya, “…sehancur apa pun reputasi mereka di media massa, toh nyatanya profesi seorang polisi tetap menjadi salah satu impian sebagian besar masyarakat kita, tho.”

“Iya ya, Cak. Fenomena ini unik juga, ya. Di satu sisi masyarakat menghujat, tapi di sisi lain antrean untuk jadi polisi tetap nggak pernah sepi tiap tahun.” Tukas Pardi heran.

“Termasuk orang-orang sini to, Ndes. Sampai rela jual sawah dan ternak demi mewujudkan cita-cita punya anak berpangkat dan nenteng bedhil.” Tambah Kanapi.

“Iya, ya… lucu juga, ya.” Ujar Pardi sambil menggaruk kepalanya yang tidak benar-benar gatal itu.

“Menurutku jawabannya sederhana, Ndes. Fenomena ini, animo masyarakat untuk jadi polisi itu, adalah salah satu residu Orde Baru.” Jawaban Cak Narto mengambang. Mereka bertiga malah saling berpandangan dengan kening yang mengernyit.

“Gini lho, Ndes, kan Orde Baru berkuasa begitu lama. Dan selama itu supremasi kaum jagabaya bersenjata sangat luar biasa. Narasi superioritas dan kegagahan jagabaya itu dijejalkan sedemikian rupa, dari pusat hingga pelosok desa, sampai akhirnya secara tidak sadar masyarakat, terutama kelas bawah, ingin menjadi bagian dari mereka. Setidaknya mencicipi rasanya hidup dengan kuasa semacam itu.”

“Ooo…” bibir Solikin mecucu, “Narasi gimana maksud Sampean, Cak?” 

“Ya macam-macam, Kin, tapi menurutku yang paling berhasil adalah narasi sejarah. Bahwa kemerdekaan bangsa kita itu semata-mata diraih lewat jalan angkat senjata kaum jagabaya dengan mengabaikan peran diplomasi-diplomasi tokoh sipil.” Cak Narto menjeda, mengisi ulang cangkir kopinya yang mulai kosong.

“Hal itu sedikit banyak berefek ke mimpi-mimpi masyarakat sipil untuk menjadi bagian dari mereka, kaum jagabaya ini. Lain kali deh kita ngomongin sejarah. Hehehe.” Entah mengapa kali ini Cak Narto yang nampak kikuk.

Hening kembali menelusup. Pardi menatap kosong ke arah lampu balai desa di seberang jalan. Tapi, tiba-tiba ia melontarkan tanya, “Meski begitu, Cak, sejarah mencatat keberadaan jagabaya sebagai unsur yang tidak terpisahkan dari masyarakat kita. Majapahit aja punya Bhayangkara, sebagai institusi jagabaya kerajaan.”

“Nah itu dia, Ndes…” Cak Narto mengatur duduknya, “…itulah mengapa gagasan anarkisme nggak relevan bagi bangsa kita. Keberadaan mereka memang sangat penting bagi keberlangsungan hidup bersama. Hehehe.” Mendengar itu air muka Solikin semakin mlotrok.

“Kalau memang sebegitu adiluhungnya peran mereka, kenapa yang terjadi justru sebaliknya, Cak? Penindasan dan kesewenang-wenangan yang menjadi makanan sehari-hari. Sampean jangan pura-pura tidak tahu gitu, dong.” Solikin melengos kesal.

Pardi dan Kanapi yang kali ini cekikikan saling sikut. Melihat Cak Narto dibombardir oleh Solikin selalu menjadi hiburan bagi mereka berdua.

“Berkelindan, Kin. Ruwet.” Kilah Cak Narto, “Lha gimana, Ndes. Memang begitu situasinya. Kaum jagabaya ini sedang ada di fase lupa akan jati dirinya. Lupa akan hakikat tugas dan amanah dari rakyat yang ditaruh di pundak mereka. Mereka seperti seorang tunabrata: tak mampu mengendalikan diri. Lupa akan sumpah dan janji-janjinya. Lupa bahwa pisau kuasa yang sedang ada di tangan adalah titipan dari rakyat. Jangan malah digunakan untuk menusuki rakyat.” Nada putus asa seperti menggantung di ujung kalimat Cak Narto.

“Aishhh, manusia kok ndak solutip. Kalau cuma fafifu wasweswos mah siapa saja bisa, Cak.” Ejek Solikin.

“Iya, Cak, mbok ya dipungkasi dengan solusi gitu lho. Setidaknya biar Solikin pulang nanti nggak mecucu gitu terus. Hehehe.” Pardi malah mengompori.

Cak Narto berdiri, menggerus kreteknya dengan tumit. Sarungnya ditarik menutupi kepala.

“Tidak semua permasalahan ada solusi konkritnya, nDes. Kalaupun ada, tanpa dibarengi kerendahan hati dan kesadaran, semua itu akan sia-sia belaka. Kita cuma bisa berharap dan berdoa supaya mereka, kaum jagabaya ini, sadar dan ingat apa hakikat keberadaan mereka. Meski itu adalah selemah-lemahnya iman.”

Tiba-tiba Cak Narto sudah di atas jok motor, “Akhir kata, matur nuwun kopi dan gorengannya, wassalamualaikum.” Tanpa mengindahkan forum, motor butut itu dipacu menggerus aspal desa, menembus halimun subuh.

***

Iring-iringan sepeda para ibu penjual sayur menuju pasar tampak begitu rapi. Diselingi tawa, lamat-lamat terdengar cerita bangga seorang dari mereka, anaknya minggu depan dilantik menjadi seorang bintara, katanya.

Semburat kemuning pagi membanjiri desa. Di pepohonan, burung bercericit saling beradu bait. “Celakalah nasib orang yang terbuai kuasa dan lupa akan hakikat hidupnya”, kata seekor burung dungu di ujung dahan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 Oktober 2021 oleh

Tags: brutaljagabayapolisi
Suwatno

Suwatno

Penulis adalah bapak (muda) dengan tiga orang anak. Tinggal di Palangka Raya.

ArtikelTerkait

Saya Pendemo yang Usai Demonstrasi, Pulang ke Rumah Seorang Polisi terminal mojok.co

Saya Pendemo yang Usai Demonstrasi, Pulang ke Rumah Seorang Polisi

10 Oktober 2020
Polisi Virtual, Pisau Mata Ganda bagi Pemerintah terminal mojok.co

Anak Tukang Sayur Jadi Polisi Itu Istimewanya di Mana?

22 April 2021
Imbauan jangan pakai sandal jepit (Unsplash.com)

Membela Imbauan Jangan Pakai Sandal Jepit ketika Bawa Motor

17 Juni 2022
satpol PP, polisi

Pengalaman Jadi Satpol PP: Dianggap Penindas Rakyat Sampai Diancam Dibunuh

25 Juni 2020
Orang Inggris Nggak Percaya Polisi, Percayanya sama Siskamling

Orang Inggris Nggak Percaya Polisi, Percayanya sama Siskamling

5 Oktober 2022
Lalu Lintas Australia Bikin Orang Indonesia Iri, Pengendara Tetap Tertib walau Nggak Ada Polisi  Mojok.co

Lalu Lintas Australia Bikin Orang Indonesia Iri, Pengendara Tetap Tertib walau Nggak Ada Polisi 

6 Oktober 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat Mojok.co

Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat

2 Februari 2026
Andai Jadi Warga Tangerang Selatan, Saya Pasti Sudah Pusing Tujuh Keliling. Mending Resign Jadi Warga Tangsel!

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya, dan Jangan Menilai Tangerang Selatan Hanya dari Bintaro, Alam Sutera dan BSD Saja

4 Februari 2026
Mie Ayam Bikin Saya Bersyukur Lahir di Malang, bukan Jogja (Unsplash)

Bersyukur Lahir di Malang Ketimbang Jogja, Sebab Jogja Itu Sudah Kalah Soal Bakso, Masih Kalah Juga Soal Mie Ayam: Mengenaskan!

2 Februari 2026
Stasiun Plabuan Batang, Satu-Satunya Stasiun Kereta Api Aktif di Indonesia dengan Pemandangan Pinggir Pantai

Bisakah Batang yang Dikenal sebagai Kabupaten Sepi Bangkit dan Jadi Terkenal?

1 Februari 2026
Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026
Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh Mojok.co

Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.