Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Indomie Bukan Makanan Legendaris, Ia Cuma Simbol Krisis dan Kemiskinan Kolektif

Budi oleh Budi
21 September 2025
A A
Indomie Bukan Makanan Legendaris, Ia Cuma Simbol Krisis dan Kemiskinan Kolektif

Indomie Bukan Makanan Legendaris, Ia Cuma Simbol Krisis dan Kemiskinan Kolektif (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau ada yang menyebut Indomie sebagai “makanan legendaris Indonesia”, saya ingin tertawa getir. Legendaris dalam arti apa? Dari segi rasa, memang tak bisa dimungkiri bahwa Indomie punya cita rasa yang kuat, bumbunya menggugah selera, dan harganya terjangkau untuk kantong masyarakat kebanyakan. Akan tetapi klaim bahwa mie instan ini adalah simbol kehebatan kuliner nasional justru mengaburkan realita yang sebenarnya.

Popularitas Indomie bukanlah cerita tentang kesuksesan sebuah merek, melainkan cerminan dari kegagalan sistemik yang membuat rakyat bergantung pada makanan murah, instan, dan miskin gizi. Indomie menjadi begitu dekat dengan keseharian bukan karena inovasi rasanya, melainkan karena ia adalah produk dari kondisi ekonomi yang tidak kunjung membaik. Sial.

Indomie, sang legenda yang dibangun dari keterpaksaan

Indomie mulai dianggap legendaris bukan karena keunikannya, melainkan karena ia lahir dan tumbuh dalam bayang-bayang krisis. Pada 1998, ketika nilai rupiah anjlok dan harga kebutuhan melambung tinggi, mie instan menjadi penolong bagi banyak keluarga. Orang tua bercerita bagaimana mereka bertahan dengan Indomie ketika beras tak lagi terjangkau.

Cerita-cerita itu lalu diwariskan, dikenang, dan akhirnya dinormalisasi seolah itu adalah bagian dari perjuangan yang patut dibanggakan. Namun, yang terjadi sebenarnya adalah sebuah tragedi yang berulang. Setiap kali daya beli melemah, Indomie selalu menjadi pilihan pertama. Di banyak negara, mie instan adalah makanan darurat untuk situasi bencana.

Tetapi di Indonesia, ceritanya berbeda. Indomie telah berubah menjadi menu sehari-hari. Mahasiswa mengandalkannya untuk bertahan hidup dengan budget minim. Karyawan yang lembur menjadikannya makan malam yang cepat dan murah.

Kita tidak lagi melihatnya sebagai tanda darurat, tetapi sebagai hal yang normal. Padahal normalisasi konsumsi mie instan harian justru menunjukkan betapa kita telah lama terbiasa hidup dalam keadaan setengah darurat.

Glorifikasi kemiskinan dalam bungkus rasa

Satu lagi yang paling menyedihkan adalah ketika kemiskinan yang dipaksakan ini dijadikan bahan glorifikasi. Iklan-iklan Indomie menampilkan gambar hangat keluarga yang berkumpul, perantau yang rindu kampung halaman, atau sahabat yang berbagi cerita di atas semangkuk mie instan. Narasinya seolah mengatakan bahwa kebahagiaan bisa hadir dari hal-hal sederhana. Media dan budaya pop turut serta memolesnya. Mulai dari meme, konten YouTube, hingga lagu-lagu indie yang menjadikan Indomie sebagai ikon generasi.

Namun di balik semua romantisme itu, yang terjadi sebenarnya adalah pemakluman terhadap kemiskinan. Kita membungkus keterbatasan dengan bumbu rasa ayam bawang atau rendang instan, lalu menyebutnya sebagai kebanggaan nasional.

Baca Juga:

Jurusan Ekonomi Pembangunan Menyadarkan Saya kalau Kemiskinan Itu Bukan Sekadar Orang yang Tidak Punya Uang

Tak Ada Mie Instan yang Tetap Enak Dimakan Mentah selain Mie Sedaap Goreng

Budaya mengandalkan Indomie juga melahirkan pola “hemat yang semu”. Banyak orang merasa bangga bisa hidup dengan belasan ribu rupiah per hari berkat mie instan. Mereka mengira telah berhasil mengatur keuangan dengan bijak, padahal yang mereka lakukan adalah menukar kesehatan jangka panjang dengan kepraktisan sesaat.

Cermin kegagalan sistem yang dirayakan

Indomie seharusnya tidak menjadi legenda. Ia adalah cermin yang memantulkan wajah asli Indonesia, sebuah negara yang masih bergumul dengan kemiskinan, ketimpangan, dan sistem pangan yang rapuh. Kita mungkin tersenyum ketika mengenang kenangan makan Indomie saat masa sulit, tetapi di balik senyum itu ada kepahitan yang tidak bisa disangkal.

Makanan legendaris Indonesia semestinya adalah nasi uduk, soto, rendang, sate, atau gado-gado. Itu adalah hidangan yang lahir dari kekayaan alam dan kreasi budaya, bukan dari lini produksi pabrik.

Kita perlu berhenti membanggakan mie instan sebagai simbol perjuangan, dan mulai mempertanyakan mengapa selama puluhan tahun, rakyat masih harus bergantung pada makanan instan untuk bertahan hidup. Jika benar Indomie adalah legenda, maka legenda itu dibangun dari air mata, keringat, dan rasa lapar yang terus diwariskan.

Ia bukan kebanggaan. Ia adalah pengingat bahwa kita masih punya banyak pekerjaan rumah untuk membangun sistem yang lebih adil dan memastikan bahwa setiap warga negara bisa makan layak tanpa harus bergantung pada sebungkus mie instan. Anatema i kyvernisi!

Penulis: Budi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Kasta Mie Goreng Instan Paling Enak, Indomie Bukan di Urutan Pertama!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 September 2025 oleh

Tags: indomieKemiskinanKuliner legendarismakanan legendarisMi Instanmiemie instan
Budi

Budi

Seorang montir tinggal di Kudus yang juga menekuni dunia kepenulisan sejak 2019, khususnya esai dan fiksi. Paling suka nulis soal otomotif.

ArtikelTerkait

Bihunku, Bihun Instan yang Sulit Disaingi

Bihunku, Bihun Instan yang Sulit Disaingi

19 Agustus 2025
Mi Javara dan Mi Daai: Mana Mi Vegan yang Rasanya Lebih Menggugah Selera? terminal mojok.co

Mi Javara dan Mi Daai: Mana Mi Vegan yang Rasanya Lebih Menggugah Selera?

20 Agustus 2021
Lebak Masih Miskin dan Menderita, Tak Kunjung Berubah sejak Max Havelaar Menyindir Belanda

Lebak Masih Miskin dan Menderita, Tak Kunjung Berubah sejak Max Havelaar Menyindir Belanda

29 Januari 2024
Sarimi Isi 2 Ayam Kremess, Mi Goreng Underrated yang Layak Dicicipi Terminal Mojok

Sarimi Isi 2 Ayam Kremess, Mi Goreng Underrated yang Layak Dicicipi

6 November 2022
Jangan Makan Indomie Tanpa 6 Bahan Tambahan Ini terminal mojok

Jangan Makan Indomie Tanpa 6 Bahan Tambahan Ini

12 Desember 2021
mie gelas mi terbaik penderita maag mi instan aman di lambung indomie mie sedaap mojok.co

Mie Gelas Sebagai Mi Instan Terbaik Adalah Kenyataan yang Tak Banyak Disadari Orang

18 Mei 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dominasi Motor Honda Akan Segera Berakhir, sebab Motor Keluaran Baru Yamaha Harus Diakui Lebih Berkualitas!

Dominasi Motor Honda Akan Segera Berakhir, sebab Motor Keluaran Baru Yamaha Harus Diakui Lebih Berkualitas!

9 Januari 2026
7 Aturan Tak Tertulis Tinggal di Kebumen (Unsplash)

7 Aturan Tak Tertulis ketika Menetap di Kebumen yang Harus Kamu Tahu Biar Nggak Kaget

4 Januari 2026
Muak 30 Tahun Menyandang Nama Acep Saepulloh dan Diejek “Abdi Kasep Sumpah Demi Allah” Mojok.co

Muak 30 Tahun Menyandang Nama Acep Saepulloh karena Sering Diejek “Abdi Kasep Sumpah Demi Allah”

6 Januari 2026
3 Hal yang Sebaiknya Jangan Diunggah di LinkedIn kalau Tidak Ingin Menyesal Mojok.co

Bukannya Upgrade Diri, Malah Nyalahin dan Bilang LinkedIn Aplikasi Toksik, Aneh!

5 Januari 2026
Laweyan, Kecamatan Bersahaja di Kota Solo yang Nggak Mau Kalah sama Banjarsari dan Pasar Kliwon

Laweyan, Kecamatan Bersahaja di Kota Solo yang Nggak Mau Kalah sama Banjarsari dan Pasar Kliwon

8 Januari 2026
Omong Kosong Rumah di Desa dengan Halaman Luas Pasti Enak (Unsplash)

Punya Rumah di Desa dengan Halaman Luas Itu Malah Menjadi Sumber Keresahan, Hidup Jadi Nggak Tenang

8 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19
  • Derita Anak Bungsu Saat Kakak Gagal Penuhi Harapan Orang tua dan Tak Lagi Peduli dengan Kondisi Rumah
  • Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja
  • Mengajari Siswa Down Syndrome Cara Marah, karena Dunia Tidak Selalu Ramah
  • Dari Coffee Shop “Horor”, Nira, hingga Jam Tangan Limbah Kayu: Pasar Wiguna Menjaga Napas UMKM Lokal
  • Curhatan Guru BK Hari Ini: Profesi Dipandang “Sepele”, Padahal Harus Hadapi Gen Z yang Masalahnya Makin Kompleks

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.