IKEA Ciputra World Surabaya, Tempat yang Cocok untuk Melepas Penat Tanpa Takut Melarat

IKEA Ciputra World Surabaya, Tempat yang Cocok untuk Melepas Penat Tanpa Takut Melarat mojok.co

IKEA Ciputra World Surabaya, Tempat yang Cocok untuk Melepas Penat Tanpa Takut Melarat (unsplash.com)

Tinggal tak jauh dari mal Ciputra World Surabaya punya keuntungan tersendiri. Saya dapat dengan mudah mampir ke sana tanpa melewati jalanan yang menyebalkan. Terlebih, saya tipe orang yang suka ke mal kalau pas lagi gabut. Walau tak membeli apa-apa, kadang melihat pengunjung dan barang-barang saja sudah refreshing, terutama produk-produk di IKEA Ciputra World Surabaya.

Sebenarnya tak hanya produk-produk IKEA yang bikin betah berlama-lama di sana. Secara keseluruhan, pengalaman menelusuri IKEA itu positif, termasuk interaksi dengan satpam dan karyawannya. 

Baca juga 4 Rekomendasi Produk IKEA yang Layak Dipertimbangkan untuk Dibeli.

IKEA Ciputra World Surabaya setara satpam BCA, responsif dan informatif

Pertama, mari kita bicara soal satpam. Ini terdengar sepele, tapi justru di situlah letak pentingnya. Satpam IKEA ramahnya setara satpam BCA, dan ini adalah pujian tinggi di negeri ini. Bukan ramah basa-basi, tapi ramah yang sigap dan membantu. Saat saya kebingungan menghadapi mesin pembelian es krim (yap, mesin es krim pun bisa membuat orang merasa bodoh), seorang satpam langsung menghampiri tanpa diminta, menanyakan apakah saya perlu bantuan. Tidak menghakimi, tidak mendesah, dan tidak memasang wajah “kok beginian aja nggak bisa”.

Lebih dari itu, satpam IKEA juga informatif. Ketika melihat antrian panjang di kasir, mereka dengan cekatan mengarahkan pengunjung yang hanya ingin menukar struk es krim gratis ke kasir lain. Tidak ada papan petunjuk besar, tidak ada pengumuman ribet. Tapi pendekatan personal semacam ini justru terasa lebih efektif dan manusiawi. Rasanya seperti dilayani, bukan sekadar diawasi saja.

Inspo untuk dekorasi tata ruang

Kedua, IKEA memberi kesempatan langka, yaitu melihat inspirasi set ruangan rumah secara nyata. Bukan sekadar katalog dua dimensi saja. IKEA mensetting ruang-ruang rumah mulai dari kamar tidur sempit sampai dapur mungil dengan detail yang realistis. Printilan kecilnya diperhitungkan, tata letaknya masuk akal. Jadi pengunjung IKEA tidak hanya disuruh membeli barang, tapi diajak membayangkan hidup di dalamnya.

Tak ketinggalan, pengunjung juga dipersilakan mencoba langsung perabot yang ada, mulai dari berbaring di kasur, duduk di kursi, hingga menyentuh detail furniturnya. Seolah-olah, ketika ketertarikan muncul untuk membeli, mereka sudah lebih dulu mengenal material dan fungsi yang paling sesuai dengan kenyamanan masing-masing.

Bagi pengunjung yang sedang atau akan menata rumah, ini adalah pengalaman belanja yang menyenangkan sekaligus edukatif. Setiap barang yang dipajang dilengkapi tag harga dan deskripsi singkat kegunaannya. Tidak terasa menggurui, tapi cukup informatif untuk membuat kita berpikir, “Oh, ternyata begini ya fungsinya.” Tanpa sadar, otak kita juga digiring untuk tertarik. Dan menurut saya, memang IKEA pintar menggoda konsumen.

IKEA Ciputra World Surabaya tempat aman bagi kaum mendang-mending

Ketiga, ini poin penting bagi kaum mendang-mending dan pengunjung yang punya rasa sungkan tinggi. Di IKEA, kamu masih bisa keluar dengan barang belanjaan tanpa harus menjual ginjal. IKEA memang dikenal dengan furniturenya, tapi yang sering luput dibicarakan adalah printilan-printilan murahnya. Kamu masih bisa menemukan printilan serba guna di IKEA dengan harga mulai dari Rp5.000.

Bagi kamu yang tidak enak hati jika masuk toko tapi keluar dengan tangan kosong, IKEA adalah tempat yang ramah mental. Tidak membeli lemari pun tidak masalah. Kamu bisa membeli satu mangkuk kaca sepuluh ribu rupiah, set mangkuk enam biji seharga Rp19.999, pengharum ruangan kering seharga Rp19.900 yang jujur saja, wanginya seperti wangi orang kaya, atau bantal kursi super empuk dengan harga Rp29.900, dan masih banyak lagi. Murah, fungsional, dan tidak memalukan. Kamu tidak akan merasa kecil saat melangkah keluar.

Baca juga Mengintip Strategi Kesuksesan IKEA di Indonesia.

Bistro dan kafe Swedia destinasi yang melegenda

Keempat, dan ini yang hampir selalu jadi penutup manis, yaitu bistro dan kafe Swedia. Area ini seperti oase bagi pengunjung mal. Selepas berkeliling atau bahkan tanpa berkeliling IKEA sama sekali, pengunjung bisa langsung mengakses bistro IKEA dari pintu keluar. Menunya sederhana, harganya masuk akal. Jajanan ringan mulai dari delapan ribuan, dan tentu saja ikon legendarisnya: es krim cone vanilla seharga Rp4.000. Iya kalian nggak salah dengar, empat ribu rupiah! Lebih murah dibanding parkir mal.

Pengunjung cukup menukar koin di kasir bistro untuk mendapatkan cone kosong, lalu menuju mesin es krim sendiri. Sensasinya mirip main mesin capit di zona 2000, deg-degan, receh, tapi nagih. Jujur saja, ini salah satu pengalaman dan bagian paling menyenangkan. Bukan cuma karena murah dan enak, tapi karena ada rasa senang kecil yang ikut dibawa pulang.

Pengalaman berkeliling IKEA Ciputra World Surabaya membuat saya sedikit termotivasi untuk membayangkan masa depan memiliki rumah dengan furnitur cantik beserta perintilannya. Atau setidaknya saya menemukan hiburan kecil yang relatif ramah kantong. Duduk, makan es krim, mengamati orang lalu-lalang, tanpa harus cemas memikirkan sisa saldo di rekening ketika akhir bulan.

Dan, mungkin IKEA akan menjadi salah satu gerai mal yang akan sering saya kunjungi ke depannya. Kalau bukan untuk belanja furnitur, setidaknya untuk menikmati es krim di tengah teriknya udara Surabaya.

Penulis: Ferika Sandra
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 5 Tipe Orang yang Nggak Cocok Masuk Mal Tunjungan Plaza Surabaya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version