Ide Keren Fahri Hamzah yang Jarang Diketahui Publik – Terminal Mojok

Ide Keren Fahri Hamzah yang Jarang Diketahui Publik

Artikel

Rofii Zuhdi Kurniawan

Terlepas dari kontroversi yang menyelimuti, Fahri Hamzah tetap salah satu politisi cerdas di Indonesia. Setiap kata yang keluar dari mulut Fahri, terutama di forum informal, selalu terselip teori-teori sosial politik dengan penjelasan runtut.

Simak saja video Fahri Hamzah di channel Asumsi.co, lalu lihat betapa hebatnya penguasaannya akan teori sosial politik. Mulai dari teori sistem negara ala Montesquieu hingga teori totalitarian ala Arendt. Saya malah curiga, jangan-jangan ketika tampil di televisi atau media sosial, Fahri Hamzah sengaja tidak menampilkan kecerdasannya dan lebih memilih wajah kontroversialnya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa menjadi politisi berarti pintar berubah-ubah wajah alias berkamuflase.

Barangkali memang sisi kecerdasan Fahri kurang menarik khalayak sehingga media lebih suka menyorot kontroversi yang dia buat. Padahal, di balik setiap pernyataan Fahri Hamzah selalu tersimpan banyak ide besar. Berikut beberapa ide Fahri yang baik bagi sistem sosial politik Indonesia di masa depan:

Jangan sampai menggunakan kekerasan

Pernyataan ini sempat beliau ulang-ulang ketika aksi #reformasidikorupsi merebak di seluruh Indonesia. Aksi yang dimotori oleh mahasiswa, intelektual kampus, dan aktivis ini disebut-sebut sebagai aksi terbesar selama era Reformasi. Aksi ini merupakan respons masyarakat terhadap banyaknya RUU bermasalah. Propaganda via media sosial yang tepat membuat aksi ini berhasil mengerahkan puluhan ribu orang untuk turun ke jalan. Sayangnya, aksi di beberapa daerah berakhir ricuh.

Di situ Fahri Hamzah muncul mengingatkan kita semua untuk berperang via kata-kata, tanpa menggunakan senjata. Demokrasi adalah wujud perang melalui kata-kata, jangan sampai menggunakan senjata, begitu kira-kira inti ucapan Fahri.

Bagi Fahri, jika senjata mulai ikut campur dalam demokrasi, bukan lagi dialog yang tercipta, namun siapa lebih kuat itulah pemenangnya. Padahal, demokrasi membutuhkan dialog untuk mengerti satu sama lain.

Perihal perdebatan, itu wajar jika masih dalam ranah kata-kata. Konsep Pendiri KAMMI ini sesungguhnya memang harus kita terapkan ketika berdebat mengenai sebuah persoalan. Boleh berdebat, namun cukup dalam kata-kata saja, jangan sampai bawa-bawa senjata.

Baca Juga:  Memang Cuma Yang Terhormat Arteria Dahlan CS yang Tahu, Lainnya Tempe

Pendirian mimbar bebas di DPR

Ide Fahri Hamzah untuk menciptakan sebuah ruang dialog yang sehat di Gedung DPR tergolong cemerlang. Beliau mengusulkan bahwa sudah seharusnya di kompleks gedung DPR, dibuat sebuah mimbar bebas dengan luas 1ha untuk menampung massa aksi. Jadi, ketika demo tak perlu menutup jalan tol seperti demo besar di gedung DPR selama ini. Mimbar bebas itu nantinya digunakan rakyat untuk menemui wakil rakyatnya, lalu berdialog tentang sebuah persoalan.

Konsep mimbar bebas Fahri mirip dengan Town Hall Meeting di Amerika. Sebuah forum untuk menyelesaikan suatu permasalah dengan dialog yang sehat. Mulai dari persoalan upah, hingga persoalan undang-undang. Sayangnya, hingga jabatan Fahri Hamzah habis, ide cemerlang ini tak kunjung terealisasi.

Entah, karena banyak DPR yang takut dialog dengan rakyat atau memang anggarannya habis buat beli mobil dinas baru dan kunjungan kerja ke luar negari. Padahal, mimbar itulah yang membuat demokrasi Indonesia tak hanya berhenti pada ranah retorika. Masak wakil rakyat takut membuat forum dialog dengan rakyat hmmm.

Perwakilan diperkecil

“Kalau sudah begini, rakyat mau mengadu pada siapa?” Begitu ucap Fahri Hamzah melihat kebingungan masyarakat terhadap siapa perwakilan daerahnya yang harus dimintai pertolongan. Selama ini memang demo terhadap DPR, selalu mengatasnamakan keseluruhan DPR sehingga sulit melacaknya satu per satu. Padahal, banyak juga wakil rakyat yang benar-benar berjuang untuk rakyat, namun kalah suara ketika di gedung DPR. Fahri Hamzah punya solusi menarik untuk permasalahan tersebut.

Beliau punya ide bahwa idealnya, anggota DPR cukup 1 dari masing-masing kabupaten sehingga rakyat tahu siapa wakilnya dan wakil tersebut juga tahu siapa konstituennya. Di sini fungsi pengawasan tercipta, rakyat mudah untuk mengawasi kinerja wakilnya. Mengunggatnya pun lebih gampang, tinggal lihat kinerjanya dan ketika dipandang tidak benar ya tinggal ganti saja dengan figur lain.

Kejelasan untuk mengadukan suatu permasalahan tentang legislasi pun mudah, tinggal datangi saja rumah DPR terkait. Sayangnya, usulan ini tak pernah dibahas oleh media-media, apalagi para wakil rakyat kita. Mereka terus membiarkan masyarakat kebingungan, proses pengaduan sengaja di bikin rumit. Biarlah demo DPR tetap atas nama institusi DPR, biar para maling itu terus bersembunyi di balik ketiak institusi DPR, tanpa takut disebut namanya secara pribadi.

Baca Juga:  Suka Duka Saya Ketika Menjadi Fans DPR RI. Biasmu Siapa, Hyung?

Dari ketiga ide Fahri Hamzah di atas, kita jadi tahu bahwasanya beliau juga masih pejuang demokrasi. Menarik kita tunggu kiprah Fahri Hamzah selanjutnya bersama Partai Gelora. Mampukah Gelora menjadi partai besar di tangan Fahri Hamzah. Dahulu, beliau mendirikan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan berhasil menjadikan organisasi itu besar, bahkan sekarang menjadi penguasa politik kampus di beberapa kampus ternama, liat saja BEM UNY, sudah hampir satu dekade dikuasai KAMMI. Kita liat saja, sejauh mana Fahri Hamzah melangkah dengan organisasi barunya.

Sumber gambar: YouTube Fahri Hamzah Official.

BACA JUGA Panduan Mengawali Pembicaraan Bagi Kalian yang Pengin Ngechat Gebetan Duluan dan tulisan Rofi’i Zuhdi Kurniawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
18


Komentar

Comments are closed.