Daisuke Kobayashi dan Svay Rieng FC: Idola dan Raksasa Baru Liga Kamboja – Terminal Mojok

Daisuke Kobayashi dan Svay Rieng FC: Idola dan Raksasa Baru Liga Kamboja

Artikel

Puluhan orang berbaju biru menabuh bass drum dan mengibarkan bendera. Di hadapannya, berderet dengan rapih bangku-bangku kosong nihil penonton. “Markas yang sebenarnya bukan markas,” kata salah satu penonton yang hadir sore itu. Sebelas duabelas dengan apa yang terjadi kepada PSM di AFC Cup musim ini sebelum pandemi karena Stadion Mattoanging Makassar tidak lolos kualifikasi untuk menghelat pagelaran tingkat Asia ini. Svay Rieng, tim dari Kamboja pun mengalami hal serupa, mereka tidak bisa menggunakan Svay Rieng Stadium dengan alasan yang sama.

PSM harus melewati beberapa pulau guna menjalani laga kandang, tepatnya di Jakarta. Sedangkan jarak Svay Rieng menuju Phnom Penh tidaklah jauh. Sama seperti jarak Jakarta-Bandung. Namun tetap saja, perbedaan antusias sepakbola kita dan Kamboja menjadi titik pangkal yang melingkupinya. Alhasil, hanya segelintir saja yang hadir dan mendukung Svay Rieng FC di Phnom Penh.

Sore di Phnom Penh harusnya menjadi sore yang sempurna untuk Bali United. Selain mengambil keuntungan karena stadion tuan rumah berasa seperti “tanpa penonton”, Bali yang tampil dengan kekuatan penuh pun bagai bumi dan langit dengan komposisi pemain Svay Rieng. Namanya juga sepakbola, Daisuke Kobayashi dan beberapa pemain Svay Rieng justru menjadi nama yang sering disebut komentator.

Tentu nama ini seakan menyimpan kenangan pahit atas rapatnya pertahanan Svay Rieng dalam lanjutan AFC Cup Grub G matchday kedua. Daisuke malam itu tampil mengesankan. Meredam seorang Melvin Platje di sisi kanan Bali, Daisuke memaksa gelandang flamboyan itu bermain kurang baik dan digantikan oleh Stefano Lilipaly pada menit ke-70.

Dengan kenyataan ini, Bali United harus mengakui keunggulan tuan rumah dengan skor 2-1. Memang, masalah penguasaan bola maupun tendangan mengarah ke gawang, Bali United adalah pemenangannya. Namun, sayangnya, hal yang mampu memberikan poin tiga dalam sepakbola adalah jumlah gol yang masuk ke jala lawan.

Bagai membuka luka lama, bukan? Memang, luka ini sempat menutup luka Bali United dalam kancah Asia, namun kompetisi AFC Cup akan kembali dihelat pada 21 Oktober mendatang. Ya, anggap saja tulisa ini sebagai penyambutan sekaligus pemanasan penyambutan wakil Kamboja.

Baca Juga:  Jas Hujan Ponco Itu Terbaik buat Pemuda Kasmaran

Svay Rieng, kekuatan baru sepakbola Kamboja

Svay Rieng sedang menjalankan musim yang benar-benar di luar perkiraan siapapun juga. Kala nama-nama luhur seperti Phnom Penh Crown dan Boeung Ket terselip dengan khidmat dalam peta sepakbola Kamboja, Svay Rieng berani-beraninya hadir sekaligus tapil dengan bayang-bayang sejumlah rekor yang mengagumkan di musim 2019. Yakni rekor invincible pertama dalam sejarah sepakbola Kamboja dan impian tersebut harus pupus di pekan terakhir C-League 2019 kala mereka bersua dengan Nagaworld FC. Skor berkesudahan 2-1, rekor hilang namun juara liga patut mereka rayakan.

Mereka bisa saja mencetak rekor double winner pertama dalam sejarah. Namun cerita hanya tinggal cerita. Mimpi mereka harus pupus karena Boeung Ket berhasil menang dalam babak tos-tosan. Svay Rieng gagal membungkus sejarah yang tersaji di depan mata hanya dalam dua pertandingan saja.

Terlepas dari semua itu, penampilan Svay Rieng musim ini benar-benar di luar ekspektasi siapapun juga. Svay Rieng menunjukan performa digdaya musim ini.

Ada beberapa masa dalam pertumbuhan sepakbola Kamboja. Pertama, pada awal di mana sepakbola Kamboja dipupuk, yakni 1965 dengan berpartisipasi dalam liga adalah tim perwakilan dari institusi negara. Pada masa ini, terhenti cukup lama karena Kamboja dikuasai oleh rezim keji bernama Partai Khmer Merah dan sepakbola seakan hilang begitu saja. Kedua, memasuki babak baru pada tahun 2000-an, mulai hadir tim-tim baru maupun lama yang dirombak mengatasnamakan sebuah perusahaan yang menggandeng mereka seperti Nagaworld dan Samart Communications yang kelak merubah namanya menjadi Phnom Penh Crown.

Ketiga adalah masa di mana panji-panji kedaerahan mulai muncul sebagai nilai tersendiri. Tujuannya adalah menggaet pasar penonton yang bergairah hanya ketika Timnas Kamboja bermain. Bahkan, Stadion Olimpic Phnom Penh bisa penuh sesak atas nama patriotisme. Svay Rieng merombak pada fase ini, tepatnya pada tahun 2007, mereka merubah nama menjadi Preah Khan Reach FC. Tujuannya adalah agar mereka diakui FFC agar mereka diijinkan mengikuti liga dalam naungan federasi. Dirasa kurang cukup, mereka menambah identitas kedaerahan pada tahun 2013. Dan di tahun inilah mereka memenangkan gelar liga untuk pertama kalinya.

Baca Juga:  Balas Budi kepada Orang Tua Itu (Katanya) Merepotkan, Menyebalkan, dan Nggak Perlu

Internal, staf kepelatihan, dan tujuan yang terarah

Mereka seakan serius dalam mengarungi musim 2020 ini. Sempat melakukan pemusatan latihan di Malaysia, dari tiga laga, mereka memenangkan semuanya dengan rincian menang 4-3 melawan Terengganu FC, menang 2-1 atas Felda United dan Selangor FA dihajar dengan skor 4-0. Christopher Grant dalam wawancaranya bersama Goal menyebutkan bahwa ia akan membawa tim ini ke dalam tahap yang lebih tinggi lagi. Ia menyadari bahwa Svay Rieng FC tidak sebesar Phnom Penh Crown, pun anggaran mereka yang juga terbatas. Namun, ada beberapa hal pokok yang mereka garis bawahi, setidaknya ada tiga hal, yakni;

Pertama, Grant tidak hanya mengandalkan strategi konvensional, namun juga akan melibatkan statistik dan informasi analitis dari tiap lawan yang akan dilawan, baik sebelum pertandingan dan evaluasi setelahnya. Kedua, pengawasan transfer pemain secara ketat dan mendukung secara penuh akademi mereka. Terdapat 10 pemain sebagai representasi Timnas Kamboja, dengan empat pemain yang menjadi tulang punggungnya. Pun Soeuy Visal yang didapuk menjadi kapten Svay Rieng FC adalah kapten Timnas Kamboja pula.

Svay Rieng FC memiliki beberapa kelas usia dalam sepakbola di Provinsi Svay Rieng, yakni U-18 dan U-16. Semua diperhatikan laiknya tim senior mereka, dibuktikan dengan jeda kompetisi pun mereka terus diberikan menu uji coba, sama dengan senior mereka yang pergi ke Malaysia. Di usia bawahnya, mereka mendirikan sekolah sepakbola dengan biaya per minggunya 2,50 USD atau jika dikonversi menjadi rupiah sebesar 34 ribu.

Ketiga, Grant mengutarakan bahwa hubungan baik dengan pemilik klub, Dy Vichea adalah salah satu kunci kesuksesannya. Ditambah Dy adalah orang yang paham akan sepakbola sehingga membuat Svay Rieng memiliki arah yang jelas. Dikutip sedari Goal, ia mengatakan, “terkadang kita harus melawannya sedikit untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, tetapi dia umumnya menerima ide-ide kami.”

Daisuke Kobayashi dan keinginannya menyicipi Liga Satu

Salah satu pilar tak tergantikan dalam tubuh Svay Rieng ialah Daisuke Kobayashi. Ia juga merupakan sosok yang menjadikan Svay Rieng sebagai tim yang menakutkan. Pemain kelahiran Niigata 27 tahun silam ini sempat bermain dengan nomor punggung 4 sebelum berganti menjadi 20 pada musim 2020. Memiliki posisi asli gelandang tengah, namun selama membela Svay Rieng dirinya malah dan di tempatkan di posisi bek tengah. Pun dalam laga melawan Bali United, ia menjadi pemain sayap kanan.

Baca Juga:  Sejarah ‘Ayang-ayang Gung’, Lagu Anak Sunda tentang Bangsawan yang Haus Kekuasaan

Saya sempat menghubungi Daisuke pada tahun 2019 melalui akun sosial media Facebook karena kegemilangannya bersama Svay Rieng. Saya menghubungi dirinya dalam rangka proyek kepenulisan sepakbola Indocina. Ia pun membalas pesan saya dengan ramah. Ketika saya tanyai tentang bagaimana lingkup sepakbola Kamboja dalam perkembangan karirnya, katanya, ia senang di Kamboja karena banyak pemain asal Jepang yang menyebar ke seluruh Liga Kamboja. Ia menuturkan, rasanya sepakbola Kamboja sangat baik untuk pemain Jepang untuk berkarir.

Ketika saya bertanya, “apa yang dirasa masih kurang dalam karir sepakbolamu?” Daisuke menjawab bahwa selama ini ia bermain sepakbola dengan dukungan yang masih minim. Ia berkomentar bahawa sepakbola Kamboja sejatinya sangat bergairah, namun kebanyakan dukungan itu mereka tumpahkan hanya untuk tim nasional, bukan tim kedaerahan. Daisuke pun berharap bahwa menngkatnya penampilan Svay Rieng bisa menghadirkan lebih banyak penonton lagi ke Svay Rieng Stadium.

Pemain yang sempat membela Surat Thani FC dan Nakhon Phanom asal Thailand ini menuturkan kekagumannya terhadap sepakbola Indonesia. Terutama antusias penontonnya ketika mendukung tim lokal. “So happy play Indonesia!” katanya.

Dan kesempatan itu tentu ada ketika Svay Rieng bersua dan dihelat di Dipta. Namun, semua tetap berisi tanda tanya. Lantaran pandemi dan jeda kompetisi ini, sekaligus venue lanjutan AFC Cup sampai saat ini belum ditentukan.

BACA JUGA Kritik untuk Desain Rumah Minimalis yang Sering Dicontoh Pengantin Baru dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.