fbpx

MOJOK.CODesain rumah minimalis di majalah maupun di internet tidak masuk akal dan tidak manusiawi.

Selain jualan online, mendadak gemar memasak, dan keranjingan membagi foto aktivitas bersama, pengantin baru juga tiba-tiba gemar mencari referensi desain rumah minimalis.

Setidaknya itu yang ditunjukkan oleh seorang pengamat-pasif-soal-ciri-ciri-newlywed yang mana adalah saya sendiri. Walau saya tidak bisa menegaskan apakah kesukaan saya untuk mengamati kelakuan orang yang mau nikah dan baru nikah sebagai bentuk kedengkian atau semata sedang memahami pola yang kelak akan saya tiru, setidaknya amatan ini menggelitik saya.

Tak banyak teman-teman saya yang beruntung sudah punya rumah sebelum menikah. Lalu setelah menjalani resepsi yang menguras sebagian besar atau malah semua tabungan, rata-rata mereka akan menyewa atau mencicil sebuah rumah baru–padahal secara ongkos dan pola aktivitas, ngekos tetap lebih masuk akal. Kadang dilakukan karena memang ingin, kadang karena desakan orang tua yang merasa perih menyaksikan anaknya, sudah menikah dan dipestakan tiga hari, masih harus ngekos bersama suami atau istri. Miskin sih miskin, tapi jangan miskin-miskin banget lah. Bisa jadi mikirnya gitu.

Kenyataan di internet, “ide rumah minimalis” adalah topik yang selalu disukai pembaca. Saya bisa membayangkannya jika saya sendiri ada di posisis punya rumah baru. Sebuah kediaman (akhirnya punya rumah sendiri!) yang kelak akan didatangi oleh tamu-tamumu sendiri, yang akan menjadi saksi kelahiran anak demi anak (ehm, apa tidak sebaiknya tunggal saja?), yang perlu ditata untuk menunjukkan pemiliknya adalah istri yang baik (soalnya rata-rata yang terobsesi menata rumah adalah perempuan).

Sangat-sangat bisa dipahami, semua itu bikin tergoda untuk mencari referensi mendandani rumah secantik mungkin.

Oke, saya terdengar sinis kepada pengantin baru. Baiklah, sebagian besar orang memang suka menata rumah atau kamar, mau single, mau taken. Siapa sih yang seumur hidupnya nggak pernah memberi like pada minila satu post tentang ide desain rumah minimalis di media sosial? Menghiasi kamar kos saja terasa menyenangkan, apalagi sebuah rumah.

Bukan tindakan yang buruk sebenarnya, mendesain rumah minimalis atau bahkan membangunnya sendiri. Cuma, ada beberapa kesalahan yang sering diulang ketika orang-orang melakukannya.

Pelajaran moral dari semua kesalahan itu: jangan pernah meniru persis gambar desain rumah minimalis atau ruangan yang kamu lihat di internet. Nyaris semua desain itu tidak manusiawi. Tidak ada manusianya. Tidak masuk akal. Tidak sehari-hari.

Mari saya tunjukkan mengapa.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Desain Interior Rumah (@ide.rumahminimalis) on

Lihat meja kecil di tengah. Terbayang menyajikan minuman untuk 3-5 tamu di meja sekecil itu? Pertama, kamu harus menyingkirkan baki dekorasinya agar gelas bisa ditaruh semua di meja. Kedua, bagaimana kalau ada cemilan?

Rumah di Indonesia mudah berdebu. Cuaca tak menentu kadang bikin kaki kita kotor saat pulang. Karpet di lantai seperti itu tidak praktis untuk orang yang menyapu rumah setiap hari. Belum lagi dekorasi bulu dan kain rajut di dinding. Sebulan atau tiga bulan sekali saya kira harus dicuci/dibersihkan karena kalau tidak, debu-debu pasti segera mengubah warna putih jadi hitam.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Desain Interior Rumah (@ide.rumahminimalis) on

Kamar tanpa lemari pakaian dan gantungan untuk pakaian dan tas-tas. Ruang tamu tanpa meja kerja tempat laptop kita beserta segala kabel yang berseliweran itu. Dapur yang… mana gantungan pancinya? Tong sampahnya? Rak sepatu? Di mana sapu dan pengki diletakkan?

Ada tiga kesalahan besar yang biasanya terus diulangi dalam desain rumah minimalis. Pertama, membuat rumah yang tidak ada jendelanya. Di perkotaan, biasanya ada satu-dua kamar yang dibuat begini. Kedua, menghilangkan semua ventilasi. Menurut saya ini gila. Entah kenapa banyak orang yang membenci ventilasi di hari-hari ini. Atau jika pun ada, ventilasi itu akan kecil sekali. Ya tidak heran rumahnya jadi panas dan pengap dan depresif. Ketiga, ini yang paling esensial: rumahmu tak akan rapi kalau kamu tidak punya gudang. Ingat, gudang. Gambar seperti di atas, menata ruang demi ruang yang tampak sempurna seperti itu, hanya bisa disangga oleh sebuah gudang yang menampung semua barang yang sangat kita butuhkan tapi tak ingin kita lihat.

Saya beri daftar isi gudang: segala kardus barang elektronik yang tak tega dibuang karena “Siapa tahu laptopnya mau dijual lagi”; koleksi tas dan sepatu yang kadang rusak karena terlalu lama tidak dipakai; buku dan kertas-kertas bekas maupun baru; furnitur rongsok yang belum sempat dibuang; alat kebersihan meliputi sapu, alat pel, pengki, dan mungkin penyedot debu; alat pertukangan (hanya orang bodoh yang punya rumah tapi tak sedia obeng, palu, dan paku—barang-barang ini esensial); mesin cuci dan meja seterika, dan selanjutnya kamu pasti bisa menyebutkannya sendiri.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Desain Interior Rumah (@ide.rumahminimalis) on

Di mana pun kamu tinggal, sendiri atau dengan siapa pun, dalam situasi apa pun, pernahkah kamu melihat meja sebersih ini?

Saya hampir tak pernah menyaksikan sebuah meja bisa kosong sama sekali. Di kamar hotel yang saya inapi sendirian sekalipun. Meja adalah tempat kita meletakkan kunci, hape, charger, laptop, tas, gelas, piring, buku, minyak kayu putih, bungkus ciki, rokok, asbak, botol kosong Yakult, undangan rapat RT, undangan pernikahan teman yang keempat dalam tiga bulan terakhir….

Baik, meja itu bisa kosong. Bayangkan ada seseorang yang akan selalu mendisiplinkanmu saban meletakkan segala sesuatu di meja. Oh, bukankah ketika pulang kita hanya ingin beristirahat? Eh, tadi malam kuncinya aku taruh di mana ya?

Poin saya, desain rumah minimalis dengan meja selicin di gambar ini manis untuk dilihat, tak praktis saat dihadapi.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Desain Interior Rumah (@ide.rumahminimalis) on

Oke, meja ini lagi. Saya. Sering. Sekali. Melihat. Meja. Ini. Siapa penjualnya? IKEA? Selamat, tim marketing kalian juara.

Bayangkan kamu punya ruang tamu seperti ini dan sembilan bulan kemudian, ada bayi yang akan sibuk merangkak dan belajar berjalan. Sangat mungkin pot bunga dan segala pepohonan cantik itu hanya berumur pendek dalam ruangan tersebut. Bahkan mungkin cuma di malam hari bantal sofa bisa ditata seharmonis itu.

Dengan jendela tipe demikian, dibuka di bawah dan disangkutkan dengan palang berkait, angin sulit masuk. Ventilasinya mengikuti ukuran jendela, sempit. Saya terpikir sekarang, ini desain rumah ber-AC. Selamat tinggal tanaman-tanaman, sebelum mesti dipindahkan karena akan ditabrak bayi yang belajar berjalan, kalian sudah akan dibuang duluan karena mati kering.

Saya sudah menyampaikan maksud saya: gambar-gambar desain itu memang menarik diamati agar kita belajar logika penataan rumah. Misal, dinding sebaiknya tidak kosong karena memberi kesan pucat. Lalu, rumah yang cantik menyelaraskan warna lantai, dinding, kursi, perabot.

Tapi, rumah terbaik adalah rumah yang tumbuh. Barang-barang ada karena kita membutuhkan kehadirannya. Mengapa membuat ruang tamu, misalnya, sementara kita hidup di perantauan dan tamu-tamu kita adalah kawan dekat yang umumnya lebih sering nongkrong di dapur sambil makan dan merokok? Ruang tamu itu akan merana sendirian, terus dibersihkan dan ditata sempurna, tapi absen dijenguk. Ia ada hanya demi konvensi, bukan untuk dipakai.

Kalau suatu hari kamu merasa tidak nyaman dengan rumahmu sendiri, tidak bebas, tidak leluasa bergerak, bisa jadi kamu telah menata rumahmu dengan logika yang sama dengan foto keluarga yang dipotret di studio, kemudian dipajang di ruang tamu.

Yaitu sebuah pencitraan yang mewah, cantik, dan bahagia. Begitu ideal, begitu ingin kita capai. Tapi itu bukan diri kita karena sebenarnya tak terengkuh.

Super sekali.

BACA JUGA Cara Membereskan Rumah dengan Cepat Langsung dari Pakarnya atau esai PRIMA SULISTYA lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles