Ibadah Haji dan Waiting List yang Semakin Panjang

Artikel

Avatar

Panggilan Haji

Ibadah haji adalah bagian dari Rukun Islam. Namun ibadah ini punya keistimewaan bagi umat Islam. Bahkan karena ibadah haji merupakan Rukun Islam yang kelima, dianggap sebagai puncak kesempurnaan sebagai seorang muslim. Seorang muslim masih merasa belum sempurna kalau belum menunaikan ibadah haji.

Maka tak heran banyak yang bermimpi dan berusaha dengan keras untuk melakukan ibadah yang satu ini. Kita pernah mendengar ada orang yang menabung selama puluhan tahun untuk bisa menunaikan haji. Kita juga sering mendengar istilah Haji “Wahyu” atau Haji Sawahe Payu (sawahnya laku). Artinya orang yang rela menjual sawahnya, yang merupakan sumber penghidupan untuk dapat menunaikan ibadah haji.

Kita sering membaca kisah heroik untuk bisa menunaikan ibadah haji. Kisah Veteran berusia 91 tahun yang bekerja sebagai penjaga makam di Desa Gumelar Lor Kecamatan Tambak Kabupaten Banyumas Jawa Tengah yang harus menabung 30-an tahun untuk bisa beribadah haji. Beliau mendaftar haji tahun 2011 dan akhirnya berangkat menunaikan ibadah haji tahun 2018.

Demikian juga perjuangan nenek penjual tempe asal Bumijawa RT06/RW01 Bojong Kabupaten Tegal Jawa Tengah. Nenek bernama Tarunah itu lebih dari 20 tahun menabung dari hasil usahanya untuk bisa menunaikan ibadah haji. Cita-citanya terwujud pada tahun 2018. Tak beda dengan kisah Sukartini (63) yang bisa berangkat haji tahun 2018 setelah menabung puluhan tahun dari hasil berjualan Tahu Lontong. Penjual Tahu Lontong yang tiggal di Desa Rengel, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur harus bekerja keras menghidupi keluarganya karena posisi sebagai janda beranak tiga.

Keputusan kami—saya dan istri—untuk menunaikan ibadah haji berlangsung sangat spontan. Tidak direncanakan beberapa tahun atau bulan. Betul-betul spontan dalam hitungan jam atau bahkan menit. Pada tahun 2011 terjadi perubahan kebijakan di perusahaan tempat saya bekerja. Mulai tahun 2011 perusahaan menyediakan mobil untuk operasional pekerjaan. Akibatnya di rumah ada dua mobil. Persoalan utama adalah kapasitas garasi rumah saya yang tidak memadai. Dalam jangka pendek memang ada jalan keluar yakni menggunakan halaman masjid di belakang rumah sebagai garasi. Tapi penyelesaian itu tentu saja tidak bisa permanen.

Sempat muncul ide untuk menitipkan mobil tersebut di perusahaan rental. Kebetulan ada beberapa teman yang mengelola usaha rental. Tapi setelah mempertimbangkan terutama resiko dari menitipkan mobil tersebut di perusahaan rental. Pertimbangan lain adalah prinsip kita melakukan sesuatu secara serius dan tidak suka melakukan sesuatu sebagai kegiatan sampingan. Akhirnya kami memutuskan untuk menjual saja mobil tersebut. Dan dalam waktu kurang dari dua minggu mobil tersebut terjual.

Baca Juga:  Mempermasalahkan Logika Film Kartun Adalah Sebuah Bentuk Penyimpangan Logika

Persoalan kemudian muncul. Uang hasil penjualan mobil tersebut akan digunakan untuk apa. Pertanyaan ini tidak pernah kami pikirkan sebelumnya. Muncul beberapa alternatif seperti renovasi rumah, investasi properti, investasi di sektor keuangan, dan lain lain. Tapi kami tidak mencapai kesepakatan untuk apa hasil penjualan mobil tersebut. Tiba-tiba secara spontan muncul ide untuk membayar setoran awal BPIH bagi kami berdua. Ide itu secara cepat dalam hitungan menit mencapai kesepakatan. Alhamdulillah.

Waiting List yang Semakin Panjang

Perjuangan untuk menunaiakan ibadah haji semakin berat. Memiliki uang untuk membayar Biaya Penyelenggarakan Ibadah Haji (BPIH) belum jaminan untuk bisa menunaikan ibadah haji. Begitu bisa membayar setoran awal BPIH sebesar Rp 25.000.000,- dari hasil kerja keras dan ketabahan, belum bisa segera menunaikan haji. Masih dibutuhkan kesabaran untuk menunggu waktu menunaikan ibadah haji.

Setelah membayar BPIH masih harus sabar menunggu waktu untuk menunaikan ibadah haji. Jumlah jamaah haji yang bisa menunaikan ibadah haji setiap tahun dibatasi dengan kuota. Kuota ditentukan dari 1 permil atau 1 dari seribu) penduduk muslim suatu negara. Kebijakan pembatasan ini bertujuan agar menjamin kenyamanan jamaah haji dalam pelaksanaan ibadah karena keterbatasan fasilitas yang tersedia.

Ketika kami mendaftar haji dengan membayar setoran awal BPIH pada tahun 2019, menurut daftar antriannya sudah tahun 2019. Ketika pada tahun 2013-2017 pemerintah Kerajaan Arab Saudi menurunkan kuota haji 20% sebagai akibat pembangunan di Masjidil Haram daftar antrian kami sempat turun menjadi tahun 2020. Alhamdulillah sejak tahun 2019 kuota jamaah haji Indonesia kembali 100% dan mendapatkan tambahan kuota 10.000 sehingga daftar antrian kami kembali naik tahun 2019. Jadi kami harus menunggu selama 8 tahun.

Saat ini masa tunggu sudah semakin panjang. Berdasarkan laman Kemenag.

View this post on Instagram

Assalamualaikum #SahabatReligi. Berikut adalah gambaran lama antrean jemaah haji atau waiting list per provinsi. . Lalu kenapa antrean terus bertambah panjang? Ibadah haji adalah kewajiban umat Islam. Negara menjamin tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. . Jumlah pendaftar setiap tahunnya melampaui kuota haji yang diberikan Pemerintah Saudi Arabia. Kuota per tahun untuk haji reguler 204.000 sementara pendaftar mencapai 600.000 orang. Jelas antrean akan terus memanjang. . Lalu mengapa pemerintah Indonesia tidak meminta tambahan kuota? Ibadah haji adalah ibadah yang dibatasi ruang dan waktu. Hanya sekali sepanjang tahun, dan salah satu tempat adalah Mina, untuk mabit 2-3 malam. . Kapasitas Mina saat ini sudah maksimal. Rasanya sulit menampung bila terjadi tambahan kuota. Area tidak mungkin lagi diperluas. Fasilitas tenda dan toilet sudah melewati ambang batas maksimal. Jika kuota ditambah, justru berpotensi tragedi kemanusiaan. . Usia manusia hanya Allah yang tahu. Antre pendek atau panjang, bila Allah berkehendak, niscaya akan diberikan kemudahan. Semoga. . Tetaplah tersenyum. Mari #TebarkanKedamaian kapan pun, dimana pun, dan kepada siapa pun. . #Kemenag #BersihMelayani . ——————————— Kementerian Agama Website: kemenag.go.id Twitter: @kemenag_ri Instagram: @kemenag_ri Fanpage: Kementerian Agama RI Youtube: Kemenag RI ———————————-

A post shared by Kementerian Agama RI (@kemenag_ri) on

Ada dua faktor yang membuat antrian calon jamaah haji semakin panjang. Faktor pertama adalah meningkatnya kesadaran beragama di kalangan umat Islam. Sebenarnya fenomena seperti terjadi pada semua agama. Perkembangan kehidupan yang semakin kompetitif membuat kebutuhan akan agama semakin meningkat. Hal ini ditandai dengan bertambahnya pembangunan rumah ibadah. Di kalangan umat Islam gejala ini sangat terasa. Masjid atau musala bermunculan bukan hanya di permukiman tetapi juga di fasilitas umum seperti bandara, stasiun, terminal, mal, tempat wisata atau perkantoran. Bertambahnya pembangunan rumah ibadah ini adalah bukti bahwa kesadaran umat beragama untuk mengamalkan ajaran agamannya menngkat. Setidaknya mengamalkan ajaran agama secara ritual.

Faktor kedua meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Pembangunan ekonomi yang dilakukan telah secara nyata meningkatkan pendapatan dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan warganya. Meningkatnya kesejahteraan dapat dilihat dari indikator PDB perkapita.

Panggilan haji dan juga waiting list yang semakin panjang membuat ibadah haji membutuhkan kesabaran hingga waktunya tiba. Selama masa penungguan maka tidak ada salahnya kita saling introspeksi dan memperbaiki ibadah sebagai persiapan untuk nantinya di tanah suci. Tentang iman manusia yang sering kali pasang surut, maka bijaklah kiranya kita untuk mengambil hikmah dari keadaan ini. Semoga. (*)

BACA JUGA Impian Masa Kecil Saya Hancur Seketika Setelah Ngerasain Naik Mitsubishi Lancer Evolution atau tulisan Nanang Priyana lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
1


Komentar

Comments are closed.