Hukum Catur Haram dan Kegemaran Menyusahkan Diri dengan Selalu Bertanya “Hukumnya Apa?”

Catur disebut haram karena dianggap tidak bermanfaat. Ya bisa aja sih, kegiatan main catur waktu ronda diganti zikir atau salat tahajud sekalian. Tapi kan potensi ngantuknya lebih besar.

Featured

Ahmad Khadafi

Bapak saya sangat jago main catur. Jago banget malah. Mungkin karena itu pula, sampai sekarang satu kampung tak ada yang berani duel main catur sama Bapak saya. Entah nggak berani karena sungkan takut kena stempel halal atau memang kalah ilmu beneran.

Dulu ada cerita, kalau ada mahasiswa bimbingan skripsi ke bapak saya, salah satu kunci agar bimbingan lancar adalah sebaiknya si mahasiswa bisa main catur. Makin bagus lagi kalau main caturnya jago. Bapak saya suka tuh. Bimbingan jadi lancar pasti.

Hal ini bisa dibuktikan dengan kenyataan kalau Bapak cuma hafal sama mahasiswa-mahasiswa yang (hampir) bisa mengalahkannya. Soalnya, memang nggak ada mahasiswa yang bisa ngalahin. Takut nggak di-ACC paling.

Begitu jagonya Bapak saya, bahkan dulu sekitar tahun 1990-an ada turnamen catur antara dosen-dosen UGM vs IAIN Suka vs UII. Dan hasilnya? Bapak saya yang juara. Sampai sekarang, Bapak sering cerita kisah itu. Dan selalu bangga kalau sudah cerita. Kadang Ibu saya sering nambah-nambahi, tampak ada kebanggaan juga dari Ibu saya.

Meski saya sering bingung kalau dengar cerita bapak saya itu, “Apa menariknya sih menang main catur?” Lawan UGM sama UII lagi. Tanding main futsal sih saya juga dulu sering, Pak. Cuma nggak menang aja sih bedanya.

Tentu saja, karena Bapak saya demen sekali sama catur, tak pernah pula saya kepikiran untuk bertanya, “Pak, hukum main catur apaan ya?” Karena dengan jelas saya bisa menduga jawabannya. Yang pasti nggak mungkin haram, karena Bapak saya sendiri suka sekali main catur. Oleh karena itu, sangat sulit untuk tidak terkejut ketika ramai-ramai kabar Ustaz Abdul Somad–katanya–mengharamkan catur.

Melihat kabar itu, saya coba cek videonya. Jebul itu video dua tahun silam. Dan setelah melihat video itu, saya kok jadi kurang setuju dengan narasi yang sudah menjadi bola liar ini. Iya itu, narasi: “Abdul Somad haramkan catur”. Dalam video itu, dalam penangkapan saya, Ustaz Abdul Somad cuma menyampaikan pendapat mazhab Hanafi.

“Mazhab Hanafi mengharamkan dadu dan catur.” Nah, harusnya narasi yang berkembang ini dong? Ini kenapa jadi “Abdul Somad mengharamkan dadu dan catur” sih?

Kalau kemudian banyak masyarakat kita pada emosi mendengar pendapat itu, ya wajar. Lha wong kita di Indonesia ini pakai Syafii. Wajar kalau merasa asing dengan pendapat Mazhab Hanafi.

Lalu perdebatan ini akhirnya menyasar ke sosok Ustaz Abdul Somadnya langsung. Menganggap kalau catur haram ini murni dari beliau. Terutama soal pemahaman bahwa kalau catur haram karena bisa melalaikan salat, ya bukan di caturnya yang haram, tapi di perilaku melalaikan salatnya yang haram. Lalu muncul narasi karena catur adalah permainan yang tak bermanfaat. Lebih baik mengerjakan hal lain yang lebih bermanfaat.

Baca Juga:  Kabinet Kasih Sayang untuk Indonesia yang Lebih Halu

Nah soal ini tentu bisa jadi perdebatan panjang. Soalnya, tingkat kebermanfaatan orang bisa beda-beda.

Bagi orang yang tak suka main catur, boleh saja menganggap main catur itu sesuatu yang haram. Wajar dan itu aturan yang sangat mudah dilakukan. Ya ini kan sama kayak kamu nggak doyan makan spageti, lalu kamu mengharamkan spageti (misalnya). Ya itu guampang banget dong. Emang dasarnya nggak suka kok. Di mana posisi nafsu yang dibatasi dari adanya aturan haramnya coba? Toh mau haram atau halal kamu juga nggak doyan.

Oke, bali ke catur.

Harus diakui, kalau mau bicara soal manfaat, ada banyak kok situasi yang bikin main catur jadi bermanfaat. Misalnya dengan main catur, orang yang ronda di poskampling jadi terjaga semalaman sehingga kampungnya aman.

Ya bisa aja sih, kegiatan main catur waktu ronda diganti zikir atau salat tahajud sekalian. Tapi kan potensi ngantuknya lebih besar. Dan bukankah lebih baik kegiatan zikir dan salat itu dilakukan di masjid saja? Bukan di pos ronda?

Toh, kebermanfaatan main catur–pada kenyatannya–juga sangat krusial bagi mahasiswa-mahasiswa bapak saya. Sebab, dengan main catur Bapak saya malah bisa rileks. Jadi nggak begitu galak kalau bimbingan skripsi. Memperlancar urusan bimbingan skripsi dong? Padahal skripsi ini bagian dari tholabul ilmi. Daaaan… tholabul ilmi kan wajib.

“Tholabul ‘ilmi faridhotun ‘alaa kulli muslimin wal muslimat minal mahdi ilal lahdi”.

Dari lahir sampai mati lagi wajib menuntut ilmunya. Nah, lho. Catur ternyata bisa memperlancar urusan wajib.

Tapi apakah catur bisa juga memperlancar urusan haram? Ya bisa, kalau caturnya buat taruhan. Buat judi, bikin jotos-jotosan, atau mungkin bikin orang jadi lalai sama salatnya. Artinya, catur memang bisa haram. Tapi tidak menutup kemungkinan catur bisa jadi halal.

Kalau ada yang bikin ruwet dari ini semua, sebenarnya simpel: ya orang yang tanya yang kurang kerjaan. Apa ya orang yang nanya ini nggak pernah denger kisah Bani Israil? Disuruh menyembelih sapi betina oleh Nabi Musa. Malah tanya, sapinya tua atau muda? Dijawab, eh tanya lagi, sapinya warnanya apa? Dijawab, tanya lagi. Begitu seterusnya, sampai sangat mendetail ke urusan sapi betina yang tak pernah dipakai buat bajak sawah, tidak ada belangnya, dll.

Baca Juga:  Tiga Tahapan Kegilaan Para Bibliomania

Begitu sulitnya detail sapi yang harus disembelih, bahkan hampir saja Bani Israil umat Nabi Musa nggak jadi menyembelih. Tanya-tanya sendiri, bikin susah sendiri. Hadeeeh. Bahkan dialog ini sampai diabadikan di Al-Quran lagi, ada tuh di Surat Al-Baqarah. Ayat berapanya lupa, hehe.

Ini yang namanya kalau ibadah ogah sebentar saja pakai ilmu. Nggak mau pakai mantiq sejenak untuk membaca hukum dan aturan. Jadi hidup pinginnya semua serba ada aturan bakunya dari atas ke bawah. Ketika ada betulan, jadi ribet sendiri, lalu jadi ribut sendiri.

Gejala ini sebenarnya mulai muncul dengan munculnya model mematerialkan hukum agama pada satu kasus, lalu membuat hukum itu jadi patokan untuk kasus-kasus lain. Dan yang begini dimulai dari munculnya pertanyaan nggak bermutu, pada forum yang salah. Masalahnya, model pertanyaan kayak gini semakin sering muncul belakangan ini pada forum yang bukan pada tempatnya.

Kalau pertanyaan ini waktu kelas Madrasah Ibtidaiyah di kelas ya wajar, tapi kalau di forum terbuka begitu kan ya aneh jadinya. Alih-alih memulai pertanyaan yang bisa menimbulkan diskusi dan dialog, model pertanyaan malah menyandarkan pada satu aturan baku yang berpotensi dianggap jadi kebenaran absolute sama pihak si penanya. Dan, yaaaah…. ini jelas berbahaya sekaleee.

Apalagi kalau orang yang diceramahi soal catur kaya tadi itu nggak paham kalau sebagian masyarakatnya, atau tetangga-tetangga itu pakai mazhab Syafi’i. Hayaaa sudah pasti asing lah dengan pendapat imam-imam lain. Terutama pendapat mazhab Hanafi yang haramkan catur.

Lha wong nggak pernah diamalin kok? Mana pernah kita tahu ya kan? Bisa aja malah muncul pendapat… “Aha, saya baru tahu iniiih! Ini pasti hukum yang paling benar.” Ambyar, Pak De. Ambyar.

Itulah yang bikin saya gemas, dengan model pertanyaan di video Ustaz Abdul Somad itu….

“Apa hukum domino?”

Pertanyaan awal yang ujung-ujungnya sampai ke polemik catur haram tadi itu. Nggak aneh kalau ke depan kita akan menemui pertanyaan model…

“Apa hukum naik motor?”, “Apa hukum pakai baju?”, Nggak sekalian, “Apa hukumnya selalu menanyakan hukum?” Ealaaah.

BACA JUGA Nonton Drama Korea tidak Termasuk Bagian dari Kafir atau tulisan Ahmad Khadafi lainnya. Follow Facebook Ahmad Khadafi.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
781 kali dilihat

21

Komentar

Comments are closed.