Rem biasa, fitur setengah hati
Honda memang menambahkan fitur seperti ISS, keyless, dan panel digital pada generasi terbaru Scoopy. Tapi semua itu terasa kosmetik, bukan solusi. Rem Scoopy standar, tidak istimewa. Untuk motor yang menyasar pemula dan pengguna muda, sistem pengereman seharusnya menjadi prioritas.
Scoopy justru tetap bermain aman. Scoopy tumbuh dengan spesifikasi yang minimum. Fitur-fitur yang ditawarkan tidak benar-benar meningkatkan pengalaman berkendara. Namun, hanya mempercantik brosur penjualan.
Kekurangan motor ini tak berhenti di situ saja. Sebagai skutik, Scoopy seharusnya unggul dalam kepraktisan. Tapi ruang bagasinya biasa saja. Tidak cukup luas untuk helm tertentu. Apalagi, kebutuhan harian yang lebih kompleks.
Posisi duduk juga tidak senyaman yang dibayangkan. Jok memang terlihat lebar. Tetapi untuk perjalanan agak jauh, Scoopy cepat membuat pegal. Ergonomi terasa dipaksakan demi desain. Sekali lagi, desain menang, fungsi kalah.
Konsumen dijadikan objek, bukan subjek
Masalah terbesar Honda Scoopy bukan pada satu-dua kekurangan teknis. Melainkan pada filosofi produknya. Honda seolah menganggap konsumen Indonesia tidak butuh motor yang benar-benar mumpuni. Honda hanya menganggap bahwa cukup motor yang terlihat bagus dan “Honda”.
Scoopy adalah bukti bahwa Honda terlalu percaya diri dengan nama besar mereka. Mereka tahu motor ini akan tetap laku meski spesifikasinya medioker. Akibatnya, inovasi berhenti, kualitas stagnan, dan konsumen dipaksa puas dengan standar rendah.
Dengan harga Scoopy yang terus naik dari tahun ke tahun, konsumen seharusnya mendapat peningkatan signifikan. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kenaikan harga lebih banyak diimbangi dengan kosmetik, bukan peningkatan performa atau kenyamanan.
Di kelas harga yang sama, banyak kompetitor menawarkan tenaga lebih baik, handling lebih stabil, dan fitur yang lebih relevan. Scoopy tetap bertahan hanya karena logo sayap di bodinya.
BACA JUGA: Honda Scoopy: Motor Mahal yang Nggak Kuat Nanjak, Cocok untuk Dataran Rendah
Scoopy adalah simbol stagnasi
Honda Scoopy hidup subur di tengah budaya konsumen yang pasrah. Selama masih Honda, dianggap aman, awet, dan layak beli.
Pola pikir inilah yang dimanfaatkan produsen untuk terus menjual produk setengah matang. Scoopy bukan motor buruk dalam arti rusak atau gagal total, tapi motor yang tidak menawarkan apa-apa selain tampang. Dan itu terlalu mahal untuk motor yang seharusnya menjadi alat mobilitas, bukan aksesori fesyen.
Honda Scoopy adalah bukti nyata kebobrokan Honda dalam membaca kebutuhan dan keinginan konsumen. Motor ini tidak unggul dalam performa. Motor ini juga tidak istimewa dalam kenyamanan. Bahkan, ada yang tidak benar-benar praktis sebagai skutik harian.
Scoopy hanya unggul dalam satu hal yaitu branding. Selama konsumen masih menerima produk seperti ini tanpa kritik, Honda tidak punya alasan untuk berubah. Scoopy akan terus diproduksi, terus dijual, dan terus dipuji. Meskipun, sebenarnya tidak ada yang benar-benar bisa diandalkan dari motor ini.
Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















