Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Awas! 2030 Harga Properti di Jogja Berpotensi Hancur Bersama Rakyatnya!

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
20 November 2024
A A
Awas! 2030 Harga Properti di Jogja Berpotensi Hancur Bersama Rakyatnya!

Awas! 2030 Harga Properti di Jogja Berpotensi Hancur Bersama Rakyatnya!

Share on FacebookShare on Twitter

“Tidak mungkin Prabu bisa beli rumah! Generasi dia hanya bisa mengharapkan warisan!”

Ujar bapak saya saat diliput salah satu media. Awalnya sih saya geram karena merasa direndahkan. Tapi setelah dipikir, bapak saya tidak salah. Dengan realitas hari ini, saya tidak mungkin bisa membeli properti di Jogja.

Jangankan beli lunas, KPR saja bisa meredupkan api dapur saya. Harga properti di Jogja terus menggila, dan upah tetap menyedihkan. Tapi kenaikan harga properti ini membuat saya penasaran. Apakah akan terjadi fenomena gelembung pecah? Apakah harga properti Jogja bisa jatuh?

Saya analisis perkara ini lebih dari 1 tahun. Berkonsultasi sana-sini sambil terus memantau kondisi pasar properti Jogja. Jawabannya: ya, ada kemungkinan harga properti hancur. 2030 bisa jadi momen pecahnya gelembung investasi paling laris di Jogja ini. Sialnya, warga Jogja yang akan jadi korban!

Kegilaan 1 dekade terakhir

Mungkin Anda penasaran, “emang segila apa harga properti Jogja?” Ini gambarannya: kenaikan harga tanah Jogja tembus 340% selama satu dekade! Menurut Realoka, harga tanah di pusat Kota Jogja naik dari 2,5 juta/m2 pada 2014 menjadi 11 juta/m2 pada 2024. Tapi harga 11 Juta ini bukan yang paling mahal ya. Dari yang saya pantau, harga tanah di Kota Jogja bisa tembus 20 juta/m2.

Tapi jangan dikira wilayah kota saja yang mengalami kenaikan. Harga di kabupaten lain juga sama meroketnya. Setiap tahun, rerata kenaikan harga adalah 15% per tahun. Puncaknya di tahun 2013 dan tidak mengalami penurunan signifikan meskipun dihajar COVID-19.

Kenaikan properti ini tidak hanya di sektor rumah tapak. Justru makin meroket di lini investasi seperti kos-kosan, villa, dan ruko. Rumah tapak memang terus naik dengan konsumen utama pensiunan.

Sialnya, tidak ada data pasti perihal kepemilikan properti hari ini. Namun dari yang saya teliti, 50% lebih pembeli properti Jogja berasal dari luar daerah. Motivasi mereka juga jelas: investasi. Sialnya, motivasi ini mendorong spekulasi harga. Pada akhirnya, tren ini yang akan memicu fenomena gelembung pecah.

Faktor penyumbang fenomena pecahnya gelembung harga properti di Jogja

Saya pernah berspekulasi bahwa harga properti Jogja akan mengalami penyesuaian pada era pandemi. Ternyata saya salah. Kenaikan harga properti tetap stabil. Harga tanah Jogja tetap naik, bahkan tidak pernah menyentuh di bawah 10% selama satu dekade. Tentunya, kenaikan ini tidak sebanding dengan kenaikan upah minimum.

Baca Juga:

Sebagai Warga Jogja, Saya Punya Empat Permintaan Kecil untuk Pendatang agar Bisa Beradaptasi dengan Baik

Bekas Pasar Burung dan Hal-hal Lain yang Jarang Dibicarakan Soal Pasar Ngasem, Tempat Sarapan Paling Kalcer di Jogja

Inilah faktor pertama yang bisa memicu pecahnya gelembung. Ketika pasar lokal dengan kebutuhan riil tidak bisa membeli. Akhirnya pasar properti Jogja bergantung pada investor luar. Namanya juga investor, pasti bermain harga. Dampaknya adalah konsistensi naiknya harga secara tidak sehat.

Tidak adanya regulasi untuk membatasi spekulasi menyempurnakan fenomena ini. Bahkan kehadiran Sultan Ground (SG) tidak menjawab masalah ini. Area yang katanya menjaga kesejahteraan rakyat terbukti malah sering dipermainkan. SG juga menumbuhkan keraguan berlebih investor di masa mendatang.

Tapi faktor ini belum cukup. Karena ada ancaman dari para tikus yang menggerogoti bangsa ini. Isu cuci uang di Jogja ikut menyumbang kegilaan harga properti. PUKAT UGM juga menyoroti fenomena ini. Cuci uang hasil korupsi dan dana panas lain menyebabkan distorsi pasar. Harga properti Jogja bisa naik dengan tidak wajar. Bahkan berpotensi mengulang kenaikan harga era 2014-2019  yang menyentuh 25%.

Fenomena spekulasi dan melemahnya pasar lokal inilah yang bisa memicu fenomena pecahnya gelembung properti. Puncaknya adalah kehancuran harga properti dan ekonomi Jogja. Saya memperkirakan, fenomena ini terjadi pada 2030. Tentu dengan berkaca dari situasi hari ini.

Simulasi hancurnya properti Jogja

Kemungkinan pecahnya gelembung properti Jogja tidaklah besar. Banyak pengamat memperkirakan pasar properti Jogja hanya mengalami stagnasi. Namun potensi ini tetap ada. Terutama jika tidak ada intervensi langsung dari pemerintah daerah. Sialnya, kita sama-sama tahu kinerja pemerintah Jogja.

Saya membuat simulasi sederhana ini berdasarkan realitas yang ada. Yaitu; kenaikan harga tanah yang stabil 10-15% per tahun; fokus pasar pada investasi, dan; tidak ada intervensi pemerintah. Pada tahun 2025, harga tanah akan naik 10% seperti 2024. Permintaan tertinggi berasal dari investasi.

Pembangunan kos-kosan dan villa terus meningkat sampai 2027. Tanah kavling juga ikut mengalami kenaikan harga seturut masuknya pendatang dari kelompok pensiunan. Selain properti tadi, hotel dan objek wisata baru juga ikut naik.

Tahun 2027-2028 adalah zenit dari pasar properti Jogja. Investor akan mendominasi pasar, lebih besar dari 50%. Pembeli lokal jelas tersingkir dengan kenaikan upah tidak sampai 7% per tahun. Pasar properti Jogja akan makin bergantung pada pembeli luar daerah. Sialnya, harga properti Jogja juga tidak lagi terjangkau investor.

2029 terdengar suara menggelegar! Gelembung meletus! Akan terjadi panic selling. Investor tidak lagi menemukan pembeli sejak 2027. Kos-kosan dan villa makin sulit bersaing dan terjebak strategi banting harga. Akhirnya harga properti terjun bebas hingga 20-30%. Sialnya, pasar lokal masih belum bisa menjangkau harga ini. Apalagi properti yang turun harga bukan hunian.

2030 menjadi momen mengerikan. Harga properti jatuh sampai 50%. Selain hancurnya harga, ancaman ekonomi lain mengintai. Dari ekonomi lokal yang terpukul, sampai pengangguran. Terutama dari lini yang terpapar langsung dari sektor properti investasi. Misal pariwisata maupun pendidikan.

Rumah tapak yang akan selamat dari pecahnya gelembung ini. Terutama karena fungsi rumah tapak benar-benar dimanfaatkan. Harga rumah tapak dan hunian lain akan tetap tinggi. Pastinya, makin tidak bisa diakses warga lokal.

Sekali lagi, Rakyat Jogja jadi korban!

Pecahnya gelembung properti jelas menghajar rakyat Jogja. Termasuk mereka yang tidak secara langsung bergerak dalam lini investasi. Saya saja ngeri ketika membuat simulasi ini. Bahkan sudah saya buat seoptimis mungkin.

Apakah kita bisa terhindar dari fenomena ini? Sangat bisa, asal pemerintah melakukan intervensi. Pemerintah Jogja harus melindungi akses masyarakat lokal pada properti. Sehingga spekulasi berlebihan dan cuci uang bisa dicegah. Pada kasus cuci uang, penegakan hukum bisa mencegah harga artifisial yang tidak masuk akal.

Harus ada regulasi tegas perihal properti investasi. Termasuk mencegah tanah maupun bangunan menganggur menanti harga naik. Berbagai program relaksasi untuk warga Jogja harus dijalankan agar pasar lokal tetap bertahan. Selain itu, tentu saja harus ada program cepat peningkatan kesejahteraan. Salah satunya, naikkan UMR secara signifikan!

Saya berharap simulasi di atas tidak terjadi, dan berharap pemerintah Jogja punya strategi untuk mencegah pecahnya gelembung. Saya berharap pemerintah pusat lebih tegas melawan korupsi dan kecurangan lain yang jadi penggerak cuci uang di Jogja. Juga, saya berharap banyak agar kita semua tetap selamat dari potensi krisis.

Tapi melihat realitas, saya hanya tersenyum pahit. Kita tahu apa yang terjadi hari ini di Jogja. Sekarang, kita tinggal menunggu ledakan itu menghancurkan penghidupan kita. Pelan tapi pasti, habis setiap detik.

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Hancurnya Mimpi Saya Punya Rumah di Jogja karena Harga Rumah di Jogja Begitu Tinggi!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 November 2024 oleh

Tags: harga properti di jogjaharga tanah di jogjaJogjarumah di jogja
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Kopi Klotok Jogja Punya 3 Menu Penghilang Selera (Unsplash)

3 Menu Kopi Klotok Jogja yang Sebaiknya Dihindari Biar Selera Makan Tidak Hilang

23 Maret 2024
menggugat pagar alun-alun utara jogja mojok.co

Wawancara Eksklusif dengan Korban Kebakaran Alun-alun Utara Jogja

29 Mei 2021
Wisata Palang Pintu Kereta Api, Bukti Warga Jogja Kekurangan Tempat Hiburan

Wisata Palang Pintu Kereta Api, Bukti Warga Jogja Kekurangan Tempat Hiburan

7 November 2023
Jika Warga Jogja Antikritik, Siapa yang Senang?

Jika Warga Jogja Antikritik, Siapa yang Senang?

12 Mei 2022
Bangunjiwo Bantul Problematik: Daerahnya Makin Modern, tapi Infrastruktur Nggak Memadai bantul jogja

Bantul, Daerah yang Isinya Kejadian Aneh, Hal Aneh, dan Orang Aneh. Semuanya Aneh!

26 Februari 2024
Jogja Bikin Saya Menyesal dan Ingin Kembali untuk Mencoba Lagi (Pexels)

Jogja Membuat Saya “Menyesal” dan Kelak Ingin Kembali untuk Mencoba Lagi

23 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Barang Unik yang Saya Temukan di Facebook Marketplace, Surga yang Underrated

Facebook Marketplace, Titik Kumpul Barang Unik dan Berguna, sekaligus Surganya para Penipu

4 Juni 2026
Blora Bukan Tempat Tinggal yang Tepat untuk 4 Orang Ini

Mampukah Blora Bangkit dari Julukan Pelosok dan Daerah Tersepi?

10 Juni 2026
4 Catatan untuk Pemkab Bangkalan Madura agar Program Satu Desa Satu Sarjana Tidak Sia-Sia Mojok.co

4 Catatan untuk Pemkab Bangkalan Madura agar Program Satu Desa Satu Sarjana Tidak Sia-Sia

10 Juni 2026
6 Siasat Bertahan Kelas Menengah Saat Ekonomi Nggak Waras seperti Sekarang Terminal

6 Siasat Bertahan Kelas Menengah Saat Ekonomi Nggak Waras seperti Sekarang

8 Juni 2026
Bukan Jakarta, Tempat Paling Cocok untuk Memulai Karier Adalah Cilegon. Ini Alasannya!

Cilegon, Kota Industri yang Nggak Kompetitif dan Terlihat Miskin

8 Juni 2026
Andai Suzuki Burgman Street 125 Ganti Logo Jadi Honda, Pasti Laris di Indonesia

Suzuki Burgman 150 Terbaru yang Rilis di Kolombia Jadi Bukti Bahwa Suzuki Makin Persetan dengan Penjualan dan Tampilan. Desainnya Jelek Banget!

5 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.