Di saat teman-teman seangkatan saya merantau ke Jakarta, saya malah ke Gresik. Terdengar kurang keren sih, tapi mau bagaimana lagi, saya keterima kerja di sana.
Awal saya menginjakkan kaki pertama kali di Gresik, daerah ini tidak ada yang spesial. Malah muncul kesan sulit untuk jatuh cinta pada kota industri ini. Jangankan jatuh cinta, bakal betah aja syukur.
Nyatanya, tinggal di sana membuat saya terbiasa. Dan, setelah meninggalkan Gresik, saya malah kangen pada kota ini, rutinitas biasa saja yang saya lakukan dan tidak terlalu diperhatikan malah membuat rindu.
#1 Kuliner khas Gresik ternyata bisa bikin kangen
Walaupun bukan kota kuliner, makanan khas Gresik sukses membuat saya kangen. Tentu kuliner favorit saya adalah nasi krawu buk tiban, bagi yang belum tahu, nasi krawu adalah nasi dengan campuran suwiran daging sapi dan dilengkapi dengan sambal terasi. Nasi krawu buk tiban ini berlokasi tepat di tengah kota di Jalan Veteran. Selain itu kamu juga bisa pesan nasi krawu campur dengan jeroan. Tidak seperti rawon Surabaya atau Soto Lamongan. Kuliner yang satu ini jarang ditemukan di kota lain.
Selain itu nasi krawu, saya juga kangen dengan nasi goreng khas Gresik, yang membedakan dengan nasi goreng pada umumnya adalah warna merah yang berasal dari saus. Selain itu saya juga kangen bihun di bakso komplit. Bihunnya ini berwarna biru, namun setelah terkena kuah bihun tersebut akan berubah warna menjadi putih. Tentu bihun model seperti ini susah ditemui di Tegal, tempat dimana saya tinggal sekarang.
#2 Suasana yang islami tak banyak ditemukan di daerah lain
Selain kota industri, Gresik juga memiliki sebutan sebagai kota santri. Keberadaan makam Sunan Giri dan Sunan Gresik membawa warna tersendiri. Tak jarang kita menemui orang berlalu-lalang memakai sarung. Yang paling saya kangeni adalah Haul Akbar Gresik, dimana satu tahun sekali Jalan Veteran ditutup dan dipenuhi jamaah dengan dress code putih-putih. Dulu sih jengkel karena karena Jalan Veteran ditutup, sekarang kok malah kangen.
#3 Nongkrong di warkop
Warung kopi atau warkop yang dimaksud bukan warkop kekinian ya, Gaes, yang harga tiap cup kopi bisa menyentuh angka puluhan ribu. Yang dimaksud warkop di Gresik adalah warung kopi pinggir jalan yang sederhana. Yang mejanya terbuat dari kayu dan kursinya berbahan plastik. Banyak yang datang dengan memesan kopi sambil menunggu jadwal masuk shift kerja atau sebaliknya butuh asupan kopi setelah pulang shift kerja sebelum bertemu anak dan istri di rumah.
Inilah yang saya kangenin dari wakop di Gresik, pesan mie instant sembari menonton bola ramai-ramai. Atau sebagai tempat menepi dari hiruk-pikuknya pekerjaan.
#4 Jogging dan nonton voli di stadion dan GOR Tri Dharma Gresik
Jauh sebelum olahraga lari populer, saya sudah rutin jogging dengan teman sekos. Salah satu tempat untuk berlari di Gresik adalah Stadion Tri Dharma Gresik. Stadion ini terletak di dalam Kawasan Petrokimia. Yang membuat stadion ini unggul dari tempat lari yang lain adalah bebas dari kendaraan. Tentu lari dibawah pohon rindang dan bebas dari klakson adalah dambaan bagi para pelari. Tidak jauh dari Stadion Tri Dharma terdapat GOR Tri Dharma, rutin diadakan liga voli nasional di GOR tersebut, masyarakat Gresik memiliki alternatif hiburan menonton pertandingan voli bertaraf nasional di malam hari dan di akhir pekan.
Itulah empat hal yang membuat saya kangen Gresik bukan sesuatu yang besar atau spektakuler, tapi justru hal-hal sederhana yang dulu terasa biasa. Mungkin memang begitu, sesuatu baru terasa berarti setelah kita tidak lagi memilikinya.
Penulis: Arief Nur Hidayat
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
