Seminggu sekali, saya biasanya menyempatkan diri buat jogging santai di luar ruangan. Dulu, Simpang Lima dan Tri Lomba Juang jadi opsi utama. Tapi, belakangan, kedua tempat tadi sudah sangat padat manusia. Makanya, saya cari alternatif lokasi lain yang agak sedikit minggir dari pusat Kota Semarang. GOR Jatidiri Semarang akhirnya menjadi pelabuhan lari saya berikutnya.
Sejujurnya, saat pertama kali mengarahkan langkah ke sana, ekspektasi saya cukup tinggi. Sebab, kompleks olahraganya megah, luas, dan begitu profesional. Vibes yang dibentuk bisa memotivasi saya buat semangat cari keringat.
Namun, setelah kesekian kalinya rutin menyambangi tempat ini, ada sebuah realita yang perlahan mulai saya sadari. Fitrah GOR Jatidiri Semarang memang dibangun untuk mencetak prestasi para atlet. Namun, kalau amatiran cuma mau jogging sehat, malah bikin sewot.
Nggak ada jalur lari khusus di GOR Jatidiri Semarang, justru banyak ujian tanjakan
Masalah utama di Jatidiri adalah ketiadaan jogging track yang layak. Jangan harapkan adanya karpet karet sintetis yang empuk dan mengurangi potensi luka kalau jatuh. Sebab, lintasan yang datar serta ramah buat lutut saja nggak tersedia di sana.
Saya justru harus menghadapi kontur tanah yang naik turun minta ampun. Belum lagi, nggak ada pemisahan jalur yang tegas antara pejalan kaki dan kendaraan yang lalu lalang. Jadi, saat saya sedang asyik mengatur napas, saya harus tetap sigap menepi kalau ada motor lewat.
Memang, jalur yang menanjak bikin saya lebih cepat membakar kalori. Namun, jujur saja, betis saya sudah teriak minta berhenti di menit ke sepuluh. Bagaimanapun, menahan beban tanjakan sebenarnya nggak perlu-perlu amat buat orang yang cuma mau jogging santai.
BACA JUGA: 5 Alasan Jogging di Simpang Lima Semarang Kini Terasa Menyiksa
Kucing liar hobi berkeliaran dan sisa makanan mereka berserakan
Selain jalur yang kurang mendukung, saya juga harus terbiasa dengan keberadaan kucing-kucing liar yang jumlahnya nggak cukup dihitung dengan jari tangan di Gor Jatidiri Semarang. Problem utamanya bukan pada eksistensi mereka. Tapi, pada kebiasaan orang-orang yang gemar memberi makan kucing di area tersebut tanpa memperhatikan kebersihan.
Akibatnya, di beberapa titik saya sering menemukan sisa-sisa makanan berserakan. Selain nggak enak dilihat dan mengundang lalat, terkadang makanan tadi bisa menempel di alas kaki kalau nggak cermat. Ya, masa saya harus lari sambil menundukkan pandangan terus demi menghindari sisa makanan tadi?
Ujian sabar saat bertemu orang yang nekat belajar setir di GOR Jatidiri Semarang
Ini bagian yang paling bikin saya mengelus dada. Entah apa yang ada di pikiran orang-orang yang nekat membawa mobil untuk belajar setir di area GOR Jatidiri Semarang. Saat banyak orang sedang berusaha fokus mengejar pace lari, mereka harus ekstra waspada terhadap mobil yang melaju tersendat-sendat di jalur yang sama.
Melihat mereka belajar parkir atau memutar setir di tengah area orang berolahraga benar-benar menguji kesabaran. Alhasil, tubuh saya gagal bugar. Yang ada malah banyak-banyak mendaraskan doa lantaran paham betul pengemudi di balik setir mobil itu mukanya terlihat lebih tegang ketimbang atlet yang sedang bertanding.
Drone yang terbang seenaknya, satpam ke mana?
Kejadian ini baru saja saya saksikan beberapa hari lalu. Ada seseorang yang nekat menerbangkan drone. Lucunya, dia malah bertanya kepada atlet yang sedang berlatih di sana soal boleh atau nggaknya. Sebuah gestur yang jelas membuktikan bahwa dia belum mengantongi izin apa pun untuk menerbangkan drone di area GOR Jatidiri.
Persoalannya bukan sekadar suara dengung mesin yang bising dan merusak ketenangan. Yang bikin lebih kesal adalah bagaimana ruang publik ini jadi tempat mainan bagi mereka yang nihil kepedulian terhadap keamanan dan kenyamanan orang lain. Padahal, urusan penggunaan kamera profesional saja sudah ada aturannya, apalagi alat seperti ini.
Lebih parah lagi, saat kejadian itu berlangsung, nggak ada satu pun satpam atau petugas keamanan yang muncul untuk menegur. Seolah-olah area ini memang dibiarkan jadi wilayah bebas bagi siapa saja yang mau berulah. Yang penting, sudah bayar retribusi parkir.
Ambisi untuk hidup sehat sering kali harus berbenturan dengan realita yang nggak selalu satu frekuensi dengan ekspektasi. Datang ke GOR Jatidiri Semarang dengan niat mencari ruang yang aman untuk mengatur napas, malah berujung pulang dengan napas memburu. Bukan karena lelah berolahraga, tapi karena penat menghadapi segala keruwetan di dalamnya.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 3 Spot Jogging di Kota Semarang yang Cocok untuk Pemula
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













