Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Gini Lho, Jangan Percaya Sama Metode Cepat Baca Alquran Secara Otodidak

Agus G. Ahmad oleh Agus G. Ahmad
2 November 2019
A A
Gini Lho, Jangan Percaya Sama Metode Cepat Baca Alquran Secara Otodidak

https://unsplash.com/photos/xblw4PBIlAk

Share on FacebookShare on Twitter

Saat mengingat-ingat masa kecil, yang saya lihat hanyalah bayangan samar-samar, ingatan itu tak pernah utuh. Ibu dan ayah mungkin akan lebih teliti dan fasih saat bercerita tentang masa kecil saya. Hanya tertinggal beberapa momen penting, atau genting, yang berbekas di memori.

Misalnya saat mbah kakung menawarkan segelas air kelapa, yang saya tolak dan bilang tidak enak. Saya menyesalinya karena beberapa waktu setelah itu mbah meninggal. Ada lagi yang saya ingat, kenangan-kenangan saat belajar mengaji bersama mas dan mbak.

Tempat ngaji pertama saya dekat rumah, tak sampai lima menit jalan kaki. Saya pakai buku Iqra, dan hanya mentok sampai jilid 3. Lalu ustad di sana pindah keluar kota, tempat ngaji saya ganti ke masjid yang agak jauh. Kalau jalan kaki bisa seperempat jam. Saya belum sampai khatam ngaji buku Iqra, keburu keluar. Alasannya cuma karena jauh, dan saya tak lagi berangkat ngaji.

Lalu ayah memanggil ustad ke rumah, yang ternyata muridnya, biar anak-anaknya yang bandel ini bisa ngaji. Mas Firman namanya. Beliau langsung mengajari kami baca Alquran, dan saya sempat kelimpungan. Saya bisa menghabiskan waktu bermenit-menit hanya untuk membaca habis dua-tiga baris.

Karena masih anak kecil, saya sampai mikir kalau saya tidak ada bakat baca Alquran. Sampai suatu waktu Mas Firman datang ke rumah, pintu depan tidak saya bukakan. Lalu saya ngumpet dalam kamar. Durhaka betul kalau diingat-ingat lagi.

Mungkin untuk penebusan dosa, saya memilih untuk mondok selulusnya dari sd. Ayah mengirim saya ke Singosari buat nyantri selama 6 tahun di sana. Saya belajar membaca Alquran dari awal. Sebelum dibagi per kelas, santri baru diajari untuk membaca surat Al-Fatihah.

Saya cukup percaya diri awalnya. Meski bacaan Alquran saya belepotan, tapi Al-Fatihah kan selalu saya ulang bertahun-tahun sejak saya mulai salat. Dugaan saya salah. Di pondok itu, saya sadar bacaan Al-Fatihah saya—yang saya kira cukup fasih—ternyata berantakan.

Lalu, berapa waktu yang dibutuhkan santri baru untuk kelas persiapan itu? Untuk membaca Al Fatihah dengan benar, satu bulan. Barulah kami dibagi per kelas, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Saya balik lagi ke jilid 1. Jilid 1 itu sama dengan belajar mengeja I-NI BU-DI, I-NI I-BU BU-DI dalam kelas membaca.

Baca Juga:

Saya Muslim, tapi Saya Enggan Tinggal Dekat Masjid dan Musala

3 Lagu Natal Paling Enak Versi Pendengar Muslim

Ada 6 jilid sebelum saya bisa masuk kelas membaca Alquran. Setiap habis satu jilid, kami diuji untuk naik ke jilid berikutnya. Bagi kami waktu itu, lulus tes kenaikan tingkat sudah seperti dapat doorprize tv berwarna, senangnya minta ampun. Dan karena juga susahnya minta ampun. Mungkin terdengar agak dramatis, tapi begitulah yang terjadi. Kalau ada santri yang mukanya mengerut semalaman, boleh jadi sedang tanggal tua dan kirimannya terlambat datang, atau boleh jadi ia tidak lulus tes kenaikan tingkat.

Sebenarnya apa yang begitu susah dari belajar membaca Alquran—selain beraksara Arab? Tajwid, atau cara membaca Alquran dengan baik. Ilmu tajwid ini nanti bakal membahas tentang makhraj, sifat huruf, hubungan antar huruf, panjang-pendek huruf, sampai kapan harus memulai dan menghentikan bacaan.

Makhraj adalah tempat keluarnya bunyi dari setiap huruf, artikulasi. Ada huruf-huruf yang keluar dari kerongkongan (halqi), lidah (lisani), bibir (syafawi), rongga mulut (jaufi), dan rongga hidung (khaisyum).

Ini dalam prakteknya sungguh payah. Misalnya huruf jim (ج), saat melafalkannya, bagian tengah lidah mesti menekan langit-langit rongga mulut. Indikator berhasilnya: sampai tak ada angin yang keluar saat membaca. Cara mengeceknya? Telapak tangan dihadapkan depan mulut. Kalau masih ada angin yang meniup di tangan, berarti pelafalan huruf jim masih kurang fasih. Sedangkan masih ada 28 huruf lagi dengan cara baca masing-masing.

Belum lagi setiap huruf punya sifat. Ada yang dibunyikan sambil bersamaan mengembuskan nafas, seperti berbisik (hams). Ada lagi yang sambil menahan nafas (jahr). Ada yang dibunyikan dengan kuat sambil seakan-akan menahan suaranya (syiddah). Ada lagi yang lembut (rakhawah). Dan banyak lagi yang saya sudah lupa-lupa ingat sebutannya.

Belajar membaca Alquran masa-masa itu sungguh seperti melatih teknik vokal dan pernafasan. Bolak-balik mantra ini kami dengar dari ustad: mangap, meringis, mencucu! Maksudnya, kalau melafalkan huruf vokal harus jelas. Bila ada huruf berharakat fathah, mesti mangap sehingga jelas bunyi A-nya. Kalau berharakat kasrah, harus meringis. Kalau dhummah, mencucu. Sehingga misalnya kami membaca hamdalah, bunyinya jelas alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin, bukan alhamdo lellaahe rabbel ‘aalameen.

Saya merampungkan ngaji Alquran bin-nadzor (sambil membaca mushaf, bukan hafalan) setelah dua tahun di pondok. Itu tergolong cepat. Kebanyakan yang lain mesti menempuh waktu tiga tahun, empat, bahkan ada yang lima tahun.

Hari ini saya lihat banyak sekali penawaran cara cepat mahir membaca Alquran. Ada yang menjanjikan waktu hitungan minggu sampai hitungan hari. Dan yang lebih hebat lagi, secara otodidak—bisa belajar sendiri di rumah, di kamar, mungkin sambil selimutan. Entah metode seperti apa yang ditawarkan. Namun jelas, tawaran cepat bisa baca Alquran itu terdengar begitu menggiurkan.

Sepanjang pengalaman saya—yang sebagiannya sudah saya ceritakan barusan, saya akan bilang bahwa tak ada metode cepat membaca Alquran, apalagi otodidak. Seperti belajar menyetir, tanpa instruktur mungkin kita bisa mengira-ngira bagaimana mengendarai mobil dari petunjuk-petunjuk di internet. Namun hasilnya bukan menyetir mobil secara andal. Kita sekadar bisa menginjak gas, rem, dan kopling. Baca Alquran dengan fasih juga keterampilan yang membutuhkan seorang guru, dan tempo yang memang lama. Tanpa itu, mungkin kita sekadar bisa membaca transliterasi Alquran.

Bukankah kita juga sudah diberitahu, “Dan bacalah Alquran dengan pelan-pelan dan jelas.” (Al-Muzammil:4) Jadi, tak perlu terburu-buru dalam belajar mengaji. Nikmati saja prosesnya.

BACA JUGA Urusan Ranjang Orang Bukan Untuk Dikenang atau tulisan Agus G. Ahmad lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 November 2019 oleh

Tags: baca alquranmetode cepat membaca alquranmuslim
Agus G. Ahmad

Agus G. Ahmad

ArtikelTerkait

lembaga dakwah kampus

Jadi Anak Pendakwah Itu Nggak Selalu Menyenangkan

24 Juni 2021
Tidak Turunnya UKT Adalah Misi Membuat Kampus Kaya, Mahasiswa Sengsara terminal mojok.co

Belajar Kesalehan Sosial dari Naruto

2 Mei 2020
3 Lagu Natal Paling Enak Versi Pendengar Muslim Mojok.co

3 Lagu Natal Paling Enak Versi Pendengar Muslim

17 Desember 2023
Saya Muslim, tapi Saya Enggan Tinggal Dekat Masjid dan Musala

Saya Muslim, tapi Saya Enggan Tinggal Dekat Masjid dan Musala

10 September 2025
4 Hal yang Saya Nikmati Saat Natal sebagai Seorang Muslim Terminal Mojok

4 Hal yang Saya Nikmati Saat Natal sebagai Seorang Muslim

2 Desember 2022
Nama Membawa Cerita: Seorang Muslim yang Sering Dikira Kristen

Nama Membawa Cerita: Seorang Muslim yang Sering Dikira Kristen

13 Februari 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Tidak Butuh Mall Kedua, Setidaknya untuk Sekarang

7 April 2026
Aerox Motor Yamaha Paling Menderita dalam Sejarah (unsplash)

Aerox: Motor Yamaha Paling Menderita, Nama Baik dan Potensi Motor Ini Dibunuh oleh Pengguna Jamet nan Brengsek yang Ugal-ugalan di Jalan Raya

8 April 2026
Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

8 April 2026
Jalan Godean Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat Mojok

Jalan Godean yang Ruwet Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat

8 April 2026
Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

7 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.