Saya pengin kuliah S2. Kalau ditanya kenapa, jawabannya ya pengin aja. Rasanya kangen belajar dan mumet tugas. Kangen bisa memahami hal-hal yang sebelumnya saya bingungkan atau tidak mengerti. Dalam benak saya, semua itu tampak menyenangkan. Walau saya tahu, dalam perjalanan kuliah S2 pasti ada saja cerita nggak enaknya.
Bicara soal nggak enaknya kuliah S2, saya jadi ingat cerita teman saya yang menempuh pascasarjana ketika umurnya menginjak 38 tahun. Dari sekian banyak cerita yang dia bagikan tentang proses studinya, ada satu hal yang paling sering dia kenang. Yaitu, ketika harus satu kelas dengan para fresh graduate.
Derita lanjut kuliah S2 bareng fresh graduate
Jadi ceritanya, di awal perkuliahan kawan saya kaget dengan atmosfer kelas yang dingin-dingin gimana gitu. Bukan karena setelan AC di ruangan ya. Dinginnya itu gara-gara atmosfer keangkuhan tipis-tipis yang dibawa oleh anak-anak muda ini. Entah kenapa, anak-anak fresh graduate ini tampak seperti sedang memasang benteng pertahanan. Pola pikir mereka seolah masih terbawa dari masa-masa kompetisi ketat berburu indeks prestasi di tingkat sarjana.
Alhasil, boro-boro mau berbagi catatan atau berdiskusi santai, sekadar saling mengingatkan hal sepele seperti, “Eh, tanggal sekian due date tugas X, ya,” tidak pernah terjadi. Kelas terasa berjalan sendiri-sendiri secara individualis.
Ini bukan berarti mahasiswa yang lebih tua itu cengeng, minta dikasihani, atau minta dispesialkan oleh anak-anak fresh graduate ya. Nggak gitu konsepnya. Ini lebih ke soal rasa, soal empati mendasar sesama manusia yang kebetulan hidup dan belajar di bawah atap ruang kelas yang sama.
Saat kuliah S2, semua dianggap saingan
Satu hal yang paling ngehe dari pengalaman kuliah bareng dengan fresh graduate adalah betapa tingginya keinginan anak muda ini untuk show off atau unjuk gigi di depan dosen. Sampai-sampai, semua orang di dalam ruangan dianggap sebagai saingan yang harus dikalahkan.
Padahal, mau diadu seperti apapun, kawan saya jelas kalah di atas kertas dengan mereka. Pertama, tentu saja soal umur. Ada gap usia hampir 15 tahun antara kawan saya dengan mahasiswa fresh graduate. Ini jelas bukan angka yang kecil. Di usia yang sama, para fresh grad itu baru lahir ketika kawan sudah duduk di bangku SMP. Artinya, daya tangkap mereka terhadap hal-hal baru, termasuk teknologi dan ritme akademik, jelas sudah lebih terlatih sejak awal.
Belum lagi soal stamina belajar. Ya jelas beda antara otak yang baru keluar dari sistem perkuliahan S1, dengan otak yang sudah terpapar tumpukan pekerjaan, tagihan dan urusan masakan, tangisan, hingga setrikaan.
Ditambah, soal privilese waktu. Rata-rata fresh graduate itu belum bekerja. Alhasil, waktu dan perhatian mereka masih bisa difokuskan untuk kuliah. Apalagi, mereka tinggal di sekitar kampus. Jadi, mau bimbingan tesis, diskusi dengan dosen, sampai numpang belajar di perpustakaan pun bisa mereka lakukan kapan saja tanpa mikir waktu.
“Lha aku? Subuh-subuh harus absen ke sekolah, trus naik kereta jam 5.05. Sampai Poncol jam 7.18, lanjut kampus dari jam 8 sampai jam 4 sore. Habis itu naik kereta lagi, pulang. Malam baru sampai ke Tegal, tak sempatkan ke sekolah dulu buat absen,” begitu kata teman saya.
Antara daster, kamera, dan air mata
Dari sekian banyak kenangan ketika kuliah S2 bareng fresh graduate, satu yang sampai detik ini masih sangat membekas dalam ingatan kawan saya adalah ketika kali pertama ada sesi ujian online. Kala itu, tidak ada pengumuman resmi dari kampus yang menyebutkan bahwa saat ujian online berlangsung, kamera laptop akan menyala otomatis. Kebetulan teman satu kelas juga tidak ada yang memberi tahu.
Bagi anak-anak muda yang lahir dan besar bersama teknologi, ujian online dengan laptop sudah jadi sesuatu yang umum. Sudah terbiasa. Mereka tahu sendiri tanpa perlu dikasih tahu. Tapi, bagi kawan saya? Ini hal yang benar-benar baru. Dan disinilah tragedi itu bermula.
Ketika ujian online berlangsung, kawan saya posisinya sedang menemani adik di ruang opname. Kalian tau sendiri kan bagaimana penampakan seseorang ketika jadi pendamping pasien rawat inap? Dan dengan penampakan seperti itulah kawan saya mengerjakan soal ujian online. Tanpa kerudung, rambut acak-acakan, lengkap dengan baju kebanggaan emak-emak se-Indonesia: daster. Tidak ada yang aneh menurutnya saat itu. Sampai keesokan harinya, dia tahu kebenaran yang menyakitkan.
“Aku baru tahu besoknya kalau pas ujian online itu kamera on merekam mahasiswanya. Nangis kejer aku, Mba. Kok tega ya nggak ada yang ngasih tahu aku sebelumnya,” kenang kawan saya.
Pembalasan di mata kuliah Landasan Pendidikan
Bak pepatah yang menyebut bahwa roda akan selalu berputar, keegoisan para fresh graduate kena batunya juga. Batu itu bernama mata kuliah Landasan Pendidikan, tepatnya di sesi pembahasan tentang P5.
Bagi para fresh graduate yang baru saja keluar dari bangku S1 dan lanjut S2, P5 ini jelas konsep yang asing. Mereka mungkin tahu teorinya, tapi tidak pernah benar-benar menyentuhnya. Sementara kawan saya? Oh, dia hidup di dalamnya setiap hari. Dia tahu implementasinya, tahu tantangannya di lapangan, dan tahu bedanya antara P5 yang tertulis di dokumen kurikulum dan P5 yang nyata di dalam kelas.
Endingnya? Dilahaplah mata kuliah itu oleh kawan saya tanpa kesulitan yang berarti. Mahasiswa yang lain? Cuma bisa kincep.
Memang ya, keegoisan itu bisa dibungkam salah satunya dengan pengalaman.
Penulis: Dyan Arfyana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Pengalaman Kuliah S2 UGM Nyambi Jadi MUA, Nggak Malu walau Sempat Merias Temen yang Lulus Duluan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













