Freelancer in this economy: nggak bisa pilih-pilih kerjaan, upah nggak seberapa dan cuma numpang lewat

Freelancer in this economy: nggak bisa pilih-pilih kerjaan, upah nggak seberapa dan cuma numpang lewat Mojok.co

Freelancer in this economy: nggak bisa pilih-pilih kerjaan, upah nggak seberapa dan cuma numpang lewat (unsplash.com)

Hidup sebagai pekerja lepas atau freelancer mengharuskan saya untuk nggak terlalu pilih-pilih pekerjaan, apalagi in this economy.  Sebisa mungkin ambil semua kesempatan, semua kerajaan yang ada. Berapapun uang yang didapat bisa untuk menyambung hidup. 

Freelancer seperti saya kadang harus siap palugada. Sudah nggak punya gaji bulanan (bahkan tunjangan), jumlah pendapatan yang nggak menentu, hingga biaya hidup yang makin tinggi, kebangetan kalau masih pilih-pilih kerjaan. 

Dan, itulah yang terjadi pada saya akhir-akhir ini, mode palugada. Berhubung beberapa pekerjaan yang berkaitan dengan menulis emang lagi seret, mau nggak mau saya harus cari pemasukan yang lain.

Gayung bersambut, dua pekan lalu seorang kawan menawarkan pekerjaan di sebuah pameran yang diselenggarakan oleh sebuah instansi.

Awalnya, tawaran kerjanya hanya menulis materi leaflet untuk pameran tersebut. Tapi, akhirnya tambah beberapa jobdesc mulai jadi moderator diskusi di pameran, menjaga pameran selama sepekan (dari jam 11 siang sampai jam 9 malam), hingga membantu display serta bongkaran. Intinya, mempersiapkan pameran dari awal sampai beres.

Total gajinya memang nggak seberapa, tapi cukuplah untuk sedikit memperpanjang napas hidup ini. Plus, gajinya juga nggak termasuk uang makan, uang kopi, dan rokok. Jadi saya akan tetap menerima gaji bersih.

Tanpa pikir panjang, saya iyakan saja tawaran tersebut. Singkat cerita, saya mulai kerja dan menuntaskan semua tanggung jawab saya tanpa ada yang terlewat.

Upah freelancer nggak seberapa, bahkan nggak sesuai dengan perjanjian awal

Estimasi upah total saya sebagai pekerja freelancer di pekerjaan tersebut adalah Rp1,4 juta. Rinciannya, Rp300.000 fee display, Rp400.000 fee menulis materi leaflet dan moderator diskusi, lalu Rp700.000 fee jaga pameran selama sepekan.

Upah untuk display, menulis, dan moderator sudah dibayarkan 2 hari sebelum pameran berakhir. Saya menerima Rp700.000. Aman, sesuai kesepakatan.

Nah, untuk upah jaga pameran selama sepekan baru dibayarkan di hari terakhir. Idealnya, saya masih akan dapat Rp700.000. Ternyata nggak. Di hari terakhir pameran, tepatnya setelah kami beres-beres pameran, jumlah uang yang saya terima nggak seperti harapan. Dari idealnya Rp700.000, saya cuma terima Rp400.000. Terpotong hampir setengahnya.

Dan, ternyata nggak hanya saya saja yang upahnya terpotong. Teman-teman saya yang kerja di pameran itu, termasuk teman saya yang mengajak saya kerja di pameran itu, gajinya juga ikut terpotong. Anjing banget!

Usut punya usut, ada yang nggak beres dengan cash flow pameran ini. Ada dugaan permainan uang yang mengakibatkan upah kami terpotong. Teman saya (yang mengajak saya kerja) marah banget pas tahu hal ini. 

Itu mengapa, dia sedang mengusutnya pelan-pelan. Saya sebenarnya marah juga, tapi saya memilih menunggu update-nya. Kalau masih ruwet, baru saya bakal marah banget.

Upah langsung habis nggak sampai seminggu

Sudah terpotong, upah pekerjaan lepas kali ini cuma numpang lewat doang. Itulah yang terjadi pada saya. Setelah menerima gaji yang terpotong itu, ada banyak tagihan yang harus dibayar, ada banyak urusan-urusan lain yang harus diselesaikan, dan itu melibatkan uang.

Sehari setelah menerima duit, saya harus segera bayar tagihan wifi sebesar Rp200.000. Saya juga harus beli token listrik rumah, langsung saya belikan Rp200.000 juga. 

Lalu, kebutuhan lain seperti sampo, sabun mandi, sabun muka, parfum, dan deodorant juga harus dibeli. Itu sudah hampir Rp300.000. Buat ganti oli motor dan servis rutin, sudah habis Rp150.000. Total pengeluaran mencapai Rp850.000.

Saya pegang sisanya Rp250.000. Bahkan, sebenarnya saya cuma pegang Rp200.000 karena Rp50.000 sudah pasti buat beli bensin. Uang Rp200.000 buat apa? Ya buat makan, buat ngopi, buat beli rokok. Tiga hari juga sudah habis.

Sudah, lewat begitu saja. Upah freelancer segitu beneran nggak ada rasanya in this economy. Dan, gara-gara menulis ini, saya jadi jengkel lagi soal terpotongnya upah saya. Jancok banget!

Penulis: Iqbal AR
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Beratnya Jadi Petugas Sensus, Dicurigai Mau Minta Sumbangan hingga Data yang Tidak Relevan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version