Informasi
ADVERTISEMENT

Habiskan uangmu di Jogja karena kalau mau cari uang dan hidup mending pindah ke Malang atau Surabaya

Foya-foya enak di Jogja, kerja di Malang dan Surabaya aja (Unsplash)

Kata orang, Jogja itu punya magis tersendiri. Sebagai warga lokal saya setuju. Entah kenapa, kota ini akan “mengikat jiwamu”. Namun, kalau beneran mau cari duit dan cari hidup, mending pindah ke Malang atau Surabaya. 

Kalau baca data, ya jujur saja deh, Jogja justru harus banyak belajar dari Malang dan Surabaya. Dari segi kesejahteraan warga, ekonomi, pendidikan, hingga wisata, dua kota di Jawa Timur itu secara konsisten di atas Jogja.

Berikut catatan saya.

#1 Kesejahteraan warga: UMK Jogja nyaris setengah surabaya

Mari kita bicara soal upah yang menjadi indikator paling dasar untuk mengukur kesejahteraan pekerja. Jadi, Pemerintah Kota Yogyakarta menetapkan UMK 2026 sebesar Rp2.827.593. Angka ini memang tertinggi di DIY, tetapi coba bandingkan dengan kota tetangga di Jawa Timur:

Kota Surabaya: Rp5.288.796

Kota Malang: Rp3.736.101

Surabaya membayar pekerjanya hampir dua kali lipat dari Jogja. Malang pun masih unggul sekitar Rp900 ribu. Wali Kota Yogyakarta sendiri, Hasto Wardoyo, mengakui bahwa UMK Rp2,82 juta masih di bawah Kebutuhan Hidup Layak (KHL). 

Artinya, seorang pekerja di Jogja belum mampu memenuhi kebutuhan dasar secara mandiri. Satu keluarga minimal harus mengirim 1,4 orang lagi bekerja agar bisa hidup layak.

Di Malang, pekerja menerima upah yang jauh lebih manusiawi. Di Surabaya, daya beli warganya bahkan lebih tinggi lagi. Jadi, saatnya belajar dan berkembang.

#2 PDRB per kapita: Surabaya hantam Jogja dengan selisih mencolok

PDRB per kapita mengukur seberapa besar nilai ekonomi yang setiap warga hasilkan. Data BPS Jawa Timur (2024) mencatat:

Surabaya: Rp264,37 juta per kapita/tahun

Malang: Rp114,72 juta per kapita/tahun

Yogyakarta: Rp140,64 juta per kapita/tahun

Secara provinsi, DI Yogyakarta mencatat PDRB per kapita hanya Rp51,49 juta pada 2024 (BPS, 2024). Bandingkan dengan Jawa Timur yang mencapai Rp75,77 juta. Surabaya sendiri, sebagai mesin ekonomi Jatim, menghasilkan PDRB per kapita hampir dua kali lipat dari Kota Yogyakarta.

Surabaya membangun ekosistem ekonomi yang menggerakkan industri pengolahan, perdagangan, jasa keuangan, dan ekonomi kreatif secara simultan. Pemkot Surabaya mencatat pertumbuhan ekonomi kota mencapai 5,87% pada 2025, melampaui capaian Jawa Timur maupun nasional. 

Konsumsi rumah tangga menyumbang 59,97%, sementara investasi (PMTB) berkontribusi 27,25%. Ini angka yang menunjukkan Surabaya berhasil menarik modal dan membangun iklim investasi yang sehat.

Jogja? Masih bergantung pada konsumsi rumah tangga (61,63%) dengan kontribusi sektor manufaktur hanya 11,80%. Industri mandek, investasi stagnan, dan Jogja terus-menerus mengandalkan pariwisata dan jasa sebagai tulang punggung ekonomi.

#3 Indeks pembangunan manusia: Surabaya dan Malang sama-sama kalahkan Jogja

BPS merilis IPM 2025, dan hasilnya seharusnya membuat warga Jogja berpikir keras:

Kota Surabaya: 85,65 (kategori sangat tinggi)

Kota Malang: 85,55 (kategori sangat tinggi)

DI Yogyakarta (provinsi): 82,48 (kategori tinggi)

Surabaya memimpin seluruh Jawa Timur. Malang menempel ketat di posisi kedua. Keduanya masuk kategori sangat tinggi. Sementara IPM provinsi DI Yogyakarta, yang selama ini kita anggap sebagai “kota paling maju” di luar Jakarta, masih tertinggal tiga poin di belakang Surabaya.

IPM mengukur tiga dimensi, yaitu kesehatan (umur harapan hidup), pendidikan (harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah), dan standar hidup layak (pengeluaran per kapita). Artinya, warga Surabaya dan Malang secara rata-rata hidup lebih lama, mengenyam pendidikan lebih tinggi, dan memiliki daya beli lebih kuat dibanding rata-rata warga Jogja.

#4 Kemiskinan: Jogja lebih miskin dari rata-rata Jawa Timur

Data BPS per September 2025 menunjukkan tingkat kemiskinan DI Yogyakarta mencapai 10,08%. Jumlah penduduk miskin tercatat 422.790 orang. Sementara itu, Jawa Timur sebagai provinsi mencatat angka kemiskinan 9,30%. Lebih rendah dari Jogja.

Yang lebih mengkhawatirkan, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di DIY justru naik pada September 2025. Kepala BPS DIY Endang Tri Wahyuningsih mengakui bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin masih jauh dari garis kemiskinan, dan kesenjangan antarpeserta miskin masih lebar.

Gini Ratio DIY tercatat 0,414. Memang, ini turun dari 0,426 pada Maret 2025, tetapi ketimpangan di perkotaan masih tinggi (0,419). Artinya, Jogja punya masalah serius dalam wujud pertumbuhan ekonomi terjadi, tetapi warganya yang miskin semakin tertinggal.

Surabaya dan Malang menangani kemiskinan jauh lebih efektif. Dengan UMK yang tinggi, PDRB per kapita yang besar, dan industri yang menyerap tenaga kerja secara masif, warga kedua kota itu memiliki peluang lebih besar untuk keluar dari kemiskinan.

#5 Pendidikan: Malang Punya 62 Kampus, Surabaya 70, Jogja?

Selama ini Jogja menyandang gelar “Kota Pelajar”. Gelar ini memang punya landasan historis. Namun, realitas hari ini berbicara lain.

UniRank 2024 mencatat DIY memiliki 27 perguruan tinggi terbaik. UGM memang kampus unggulan, tetapi secara kuantitas dan diversifikasi, Jogja tertinggal jauh.

Kota Malang: 62 perguruan tinggi (5 PTN + 57 PTS), dengan total lebih dari 330.000 mahasiswa aktif.

Kota Surabaya: 70 perguruan tinggi (6 PTN + 64 PTS), termasuk UNAIR (peringkat 5 nasional) dan ITS.

Universitas Brawijaya di Malang menerima mahasiswa baru terbanyak, sementara Universitas Negeri Malang memiliki 45.000 mahasiswa aktif. UIN Maulana Malik Ibrahim menampung 24.224 mahasiswa. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sendiri masuk jajaran kampus swasta terbaik nasional.

Surabaya bahkan lebih lengkap. Selain UNAIR dan ITS yang berkelas dunia, kota ini memiliki Universitas Negeri Surabaya (UNESA), UIN Sunan Ampel, Universitas Surabaya (UBAYA), Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), Universitas Katolik Widya Mandala, dan puluhan kampus spesialis lainnya.

Jogja mengandalkan UGM sebagai “bintang utama”. Tapi, ketika Malang dan Surabaya menawarkan lebih banyak pilihan, lebih banyak kursi, dan lebih banyak riset berkualitas, gelar “Kota Pelajar” yang Jogja sandang mulai terasa seperti nostalgia.

#6 Pariwisata: Jatim jauh unggul, Surabaya jadi pintu gerbang

BPS mencatat Jawa Timur menjadi provinsi paling banyak wisatawan kunjungi di seluruh Indonesia pada Januari sampai Juli 2024. Sebanyak 135,7 juta perjalanan wisatawan nusantara. Angka ini jauh melampaui Bali sebagai destinasi paling populer bagi turis asing sekalipun.

Kota-kota yang paling banyak mendatangkan wisatawan di Jatim? Surabaya menempati posisi pertama, diikuti Sidoarjo, lalu Malang.

Kota Jogja memang mencatat sekitar 10 juta kunjungan wisatawan sepanjang 2024. Namun, angka ini masih sangat kecil dibandingkan total perjalanan wisatawan ke Jawa Timur yang mencapai ratusan juta.

Masalah utama wisata Jogja? Lama tinggal (length of stay) hanya 1,75 hari dan belanja wisatawan rata-rata Rp2,2 juta per kunjungan. Wisatawan datang, foto-foto di Malioboro atau Keraton, lalu pulang. Jogja gagal membuat wisatawan tinggal lebih lama dan menghabiskan lebih banyak uang.

Surabaya, sebaliknya, membangun destinasi wisata perkotaan berbasis komunitas, memperkuat ekonomi kreatif, dan memanfaatkan posisinya sebagai gerbang Indonesia Timur. Pemkot Surabaya secara aktif mengembangkan ekraf dan pariwisata kota. Malang menawarkan kombinasi wisata alam (Batu, Bromo), wisata edukasi, dan wisata kuliner yang menarik jutaan wisatawan setiap tahun.

#7 Kultur produktif: Jangan salah, Malang juga punya

Kultur cangkruk di Jogja dan Malang sebagai itu “laboratorium gagasan”. Ini benar. Namun, yang perlu Jogja akui. Malang tidak hanya jago nongkrong, warganya juga menghasilkan karya nyata.

Universitas Brawijaya, UM, UMM, dan ITN Malang secara konsisten melahirkan riset, startup, dan gerakan sosial yang berdampak. Komunitas kreatif di sana bergerak di bidang film indie, musik, desain grafis, dan literasi. Dan mereka mendapatkan dukungan dari ekosistem kampus yang solid.

Surabaya bahkan lebih dari itu. Kota ini membangun co-working space, inkubator bisnis, dan festival ekonomi kreatif yang secara langsung menghubungkan anak muda dengan pasar dan investor. Surabaya tidak sekadar menyediakan “ruang diskusi” tapi juga menyediakan jalan keluar bagi setiap ide yang lahir.

Jogja? Ya punya ruang diskusi, angkringan filosofis, dan komunitas seni yang hidup. Tetapi, terlalu banyak anak muda brilian yang akhirnya “menghibahkan” karya terbaik mereka ke kota lain karena kota tersebut tidak menyediakan ekosistem yang mendukung mereka secara ekonomi. Mereka kuliah di Jogja, berdiskusi di angkringan, tetapi berkarya dan berpenghasilan di Jakarta, Surabaya, atau bahkan luar negeri.

Jogja, saatnya bangun dari tidurmu

Saya menulis ini bukan karena membenci Jogja. Saya menulis ini karena mencintai dan tidak tahan melihatnya terus terlena oleh romantisme masa lalu.

Jogja punya segalanya. Mulai dari sejarah, budaya, keindahan alam, dan manusia-manusia cerdas. Namun, potensi saja tidak cukup. 

Surabaya membuktikan bahwa sebuah kota bisa tumbuh pesat tanpa meninggalkan identitasnya. Malang menunjukkan bahwa kota kecil bisa menjadi raksasa pendidikan tanpa kehilangan kehangatan.

Sudah saatnya Jogja berhenti merasa paling hebat dan mulai belajar dari kotayang diam-diam menyalipnya. Malang dan Surabaya bukan saingan, tapi mereka guru. Dan guru terbaik adalah mereka yang tidak banyak bicara, tetapi menunjukkan hasil.

BACA JUGA 10 alasan Jogja sudah tidak lagi nyaman untuk menjadi tempat tinggal

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 September 2026 oleh .

Yamadipati Seno

Kontributor aktif media opini dan satir.

Exit mobile version