Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Media Sosial

Format Akun ‘txtdari’ Belakangan Bikin Twitter Jadi Toksik

Clara Kumala Sinta oleh Clara Kumala Sinta
29 Oktober 2020
A A
Format Akun 'txtdari' Belakangan Bikin Twitter Jadi Toksik terminal mojok.co

Format Akun 'txtdari' Belakangan Bikin Twitter Jadi Toksik terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Bagi kalian yang sering main twitter pasti nggak asing dengan akun-akun seperti txtdaricewe, txtdaripelajar, txtdariwasap, dan akun lainnya yang pakai format “txtdari” . Akun-akun ini sebenarnya mulai muncul belum lama, banyak dari mereka mulai aktif tahun lalu. Kepopulerannya langsung melejit karena memang isinya bisa bikin kamu ngakak guling-guling.

Tapi, dari konsistensinya yang cukup menghibur, ada yang bikin saya resah dari waktu ke waktu. Twitter jadi lebih toksik dari biasanya, yang biasanya buat cari hiburan receh, malah adanya akun-akun yang mendiskreditkan pihak tertentu.

Akun-akun “txtdari” itu, isi kontennya mengandalkan kiriman dari followers melalui dm, tapi saya juga nggak tahu pasti, bagaimana cara kerja mereka sesungguhnya. Lagian nggak pengin tahu juga sih hehe. Yang pasti, akun mereka terbuka, siapa saja bisa mengirimkan konten lewat dm untuk kemudian dipost. Dan paling banyak memang konten-konten untuk pancingan gibah berjamaah. Siapa sih yang gak suka keributan? Seru rasanya melihat ada gontok-gontokan, yang kadang bikin kita geli, kadang bikin marah, dan menambah banyak cerita-cerita tidak terduga.

Nah, dari budaya itulah, bisa bikin twitter jadi toksik lama-kelamaan. Yang awalnya terlihat kocak dan bikin ngakak, ujung-ujungnya hal-hal sepele saja bisa jadi isu untuk dikeroyok rame-rame. Orang-orang nggak bermasalah jadi kena imbasnya, jadi bikin nggak nyaman dalam bermain Twitter. Apalagi dalam masa pandemi ini, orang-orang makin banyak yang beralih jadi kaum gabut, hiburan juga terpaksa dicari di media sosial, makin banyak yang akhirnya bermain Twitter. Dengan bertambahnya populasi di Twitter, menyebabkan munculnya pikiran berbeda dari masing-masing individu.

Kekesalan saya terhadap akun-akun itu, terutama akun txtdaricewe ini bermula ketika mereka mulai menampung konten yang mengarah ke diskredit kaum-kaum tertentu. Kepada mereka yang sekadar berpendapat kontra dari mayoritas sehingga terkesan seperti menggiring opini publik, membuat netizen Twitter mengeroyok. Khususnya perempuan-perempuan yang mengeluarkan pendapat berlawanan dari mayoritas. Yang nggak setuju dengan isu yang sedang beredar. Akhirnya jadi sasaran caci maki, cercaan, bahkan hinaan-hinaan lain yang tidak berdasar.

Padahal Twitter sendiri merupakan salah satu implementasi dari ruang publik sehingga Twitter menjadi milik bersama, tidak hanya menjadi milik satu pihak tertentu saja. Beda pendapat itu sah-sah saja asal argumennya bisa dipertanggungjawabkan.

Menurut saya, akun dengan format “txtdari”, terutama txtdaricewe ini menyimpang dari aturan ruang publik. Di beberapa kontennya, saat seharusnya unggahan ditanggapi dengan demokratis dan bebas, justru menjadi sebaliknya. Konten ini dapat kita temui di beberapa bahasan politik yang akhir-akhir ini memang santer dan menarik untuk dibicarakan. Mereka yang berbeda pendapat akan menjadi sasaran netizen untuk dicerca bersama-sama.

Twitter memang sangat cocok untuk melaksanakan aktivisme sosial secara virtual. Selain karena ketersediaannya mampu membuat siapa pun membuat narasi-narasi singkat, Twitter cocok digunakan untuk arena diskusi. Sebab, kita bisa berbalas-balasan dengan fitur yang praktis sehingga komentar kita mudah untuk dibaca semua orang dan bisa melahirkan balasan lain lagi. Berbalas komentar di Twitter dapat memancing keterlibatan banyak orang, diskusi pun menjadi luas dan menarik.

Baca Juga:

4 Jasa yang Tidak Saya Sangka Dijual di Medsos X, dari Titip Menfess sampai Jasa Spam Tagih Utang

Drama Cina: Ending Gitu-gitu Aja, tapi Saya Nggak Pernah Skip Menontonnya

Banyak aktivis yang sengaja memanfaatkan fasilitas tadi untuk mengangkat isu-isu, terutama feminis yang saat ini sedang naik daun di Indonesia. Sebab, pasti lebih mudah memancing massa untuk mendukung isu tersebut. Namun, terkadang dengan konten txtdaricewe, menghambat adanya aktivisme sosial karena akan menggeneralisir semua feminisme secara mentah-mentah.Semua yang vokal jadi terlihat hanya sok-sokan, padahal ada segelintir orang yang memang bersungguh-sungguh dalam mengangkat isu dan paham dengan konteks feminisme. Tidak semua isu harus dihakimi, kita harus membedakan mana yang bersungguh-sungguh dan konsisten dalam menjunjung tinggi kesetaraan, mana yang hanya ingin terlihat edgy. Sekali lagi, tidak semua isu dan pendapat harus dihakimi.

Twitter itu milik semua orang yaaa, teman-teman sepertwitteran yang terkasih dan tersayang. Jangan merasa superior jika kalian ada di pihak mayoritas. Orang-orang yang tujuan awalnya cuma menyampaikan pendapat di pihak kontra, malah kalian diskreditkan dengan harapan akan dihakimi oleh banyak orang. Kalian paksa semua orang untuk sependapat dengan kalian, padahal kita juga tahu bahwa kebenaran nggak ada yang absolut. Semua punya sisi kebenarannya masing-masing. Jadi berhentilah untuk membuat orang-orang hanya punya satu perspektif, semua punya sisi pikirannya masing-masing. Apalagi kalau melihat akun dengan format “txtdari” yang cenderung mengundang orang untuk ramai-ramai melakukan penghakiman. Mari kita kembali ciptakan suasana Twitter yang nyaman untuk dihuni semua orang.

BACA JUGA Level Sombong Ultimate: Nggak Mau Turun Mobil Pas Beli Roti Bakar

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 29 Agustus 2021 oleh

Tags: anak twitterMedia Sosial
Clara Kumala Sinta

Clara Kumala Sinta

Salah satu jenis masyarakat pengabdi rawon buatan ibu.

ArtikelTerkait

5 Tips Berdebat di Media Sosial agar Terhindar dari Debat Kusir terminal mojok

5 Tips Berdebat di Media Sosial agar Terhindar dari Debat Kusir

6 Agustus 2021
Drama Cina: Ending Gitu-gitu Aja, tapi Saya Nggak Pernah Skip Menontonnya Mojok.co

Drama Cina: Ending Gitu-gitu Aja, tapi Saya Nggak Pernah Skip Menontonnya

9 November 2025
menulis

Andai Budaya Menulis Seperti Budaya Komentar

25 April 2023
kreator konten

Hati-hati di Internet dan Kehidupan Saat Ini, Jika Blunder Langsung Dijadikan Konten

4 Juli 2019
Telegram Stories: Lebih Kompleks dari WhatsApp Story, Nggak Kalah dari Instastory

Telegram Stories: Lebih Kompleks dari WhatsApp Story, Nggak Kalah Keren dari Instastory

7 September 2023
Vlog Barbie dan Kanal YouTubenya Lebih Berfaedah Dibanding Vlog Para Manusia terminal mojok.co

Vlog Barbie dan Kanal YouTubenya Lebih Berfaedah Dibanding Vlog Para Manusia

14 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

10 Hari di Taiwan Bikin Sadar kalau Kualitas Hidup di Indonesia Sudah Tertinggal Jauh Mojok.co

10 Hari di Taiwan Bikin Sadar kalau Kualitas Hidup di Indonesia Sudah Tertinggal Jauh

10 Juni 2026
Pustakawan Membela iPusnas yang Layanannya Dikeluhkan Banyak Orang Mojok.co

Pustakawan Membela Layanan iPusnas yang Dikeluhkan Banyak Orang

8 Juni 2026
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Tiga Tahun Menjadi Fungsionaris Organisasi Mahasiswa, Saya Menyadari bahwa Organisasi Mahasiswa Tak Ada Bedanya dengan Tempat Penitipan Balita

8 Juni 2026
4 Mitos Seputar Skripsi yang Bikin Mahasiswa Stres magang skripsi kuantitatif

Tips Cepat Lulus Skripsi Kuantitatif Tanpa Jadi Tumbal Statistik dari Dosen, Dijamin Waras!

4 Juni 2026
Di Balik Sekolah Elit yang Eksploitatif dan Manipulatif Ada Guru yang Menderita karena (Terpaksa) Jadi Ojek dan ART untuk Yayasan  Terminal

Di Balik Sekolah Elit yang Eksploitatif dan Manipulatif Ada Guru yang Menderita karena (Terpaksa) Jadi Ojek dan ART untuk Yayasan 

8 Juni 2026
Derita Jadi WNI: Pelayanan Publik Tutup di Akhir Pekan, Saat Kebanyakan Warga Baru Punya Waktu Luang Mojok,co

Derita Jadi WNI: Pelayanan Publik Tutup di Akhir Pekan, Saat Kebanyakan Warga Baru Punya Waktu Luang

5 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.