Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Fenomena Banyak Idol K-Pop dari Jepang, Orang Korea Sebenarnya Benci atau Sayang?

Noor Annisa Falachul Firdausi oleh Noor Annisa Falachul Firdausi
29 April 2021
A A
Fenomena Banyak Idol K-Pop dari Jepang, Orang Korea Sebenarnya Benci atau Sayang_ terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Saya sedang banyak pikiran karena harus menyelesaikan draf pedoman wawancara yang sudah ditagih dosen pembimbing. Saya kudu bolak-balik liat proposal, berpikir, proposal, berpikir. Twitter pun jadi pelarian saya yang pengin istirahat sejenak sebelum lanjut ngerjain. Siapa tahu lihat berita soal idol K-Pop bikin otak saya fresh lagi.

Di tengah lautan cuitan yang mengirimkan ucapan ulang tahun buat aktor Korea Selatan, Song Kang, saya menemukan satu menfess yang menarik perhatian. Sender yang mengirim menfess tersebut mengajak para pembaca buat berdiskusi mengenai alasan Indonesia tidak bisa membenci Jepang sebagaimana Korea Selatan membenci Jepang. Menarik, nih. Saya baca sebagian jawaban-jawaban dari para mahasiswa itu.

[cm] AYO KITA BERDISKUSI. Seperti kalian tau, Jepang pernah menjajah Indonesia sangat lama. Menurut kalian, mengapa negara Indonesia tidak bisa membenci Jepang (seperti Korsel membenci Jepang)? Membenci ini maksudnya ga membeli peralatan dari jepang/menonton berbau jepang2, etc. pic.twitter.com/1JXm5IdzFR

— COLLE | CEK PINNED ? (@collegemenfess) April 22, 2021

Selesai membaca tweet itu, saya langsung nonton penampilan Treasure, boygroup paling bungsu dari YG Entertainment, yang membawakan lagu “My Treasure” di panggung M Countdown. Penginnya, sih, saya nonton penampilan itu biar otak saya ke-refresh kembali sebelum lanjut ngerjain tugas. Tapi yang ada saya malah kepikiran tweet tadi waktu melihat wajah-wajah anggota Treasure yang berasal dari Jepang. Kalau Korea Selatan punya memori sejarah yang nggak baik dengan Jepang, lantas apakah orang Korea juga benci sama idol grup-grup K-Pop yang berkewarganegaraan Jepang?

FYI, Korea Selatan memang punya sejarah yang cukup menyakitkan tentang hubungannya dengan Jepang. Jepang dulu menjajah Korea Selatan dan membawa dampak yang sangat buruk. Selain membuat warga negara Korea hidup dalam tekanan dan ketakutan, banyak nyawa melayang demi mengumandangkan kemerdekaan, dan mereka yang masih bertahan hidup pun harus merasakan trauma yang mendalam. Nasionalisme orang Korea Selatan yang kuat membuat mereka cukup sensitif jika membahas hubungan politik dan masa lalunya dengan Jepang. Sekiranya kalian pengin melihat penggambaran kolonialisme Jepang di Korea Selatan, kalian bisa menonton drama Mr. Sunshine atau film The Last Princess dan Love, Lies.

Saya jadi penasaran sama persepsi publik soal member yang berasal dari Jepang, apakah publik menerima keberadaan mereka atau tidak. Treasure punya 4 anggota, yaitu Yoshi, Asahi, Mashiho, dan Haruto, yang berasal dari negara tetangganya Korea Selatan yang berlokasi di timurnya itu. Treasure pun sebenarnya bukan grup pertama yang punya anggota yang berasal dari Jepang. Ada grup-grup lain seperti Twice, Iz*one, NCT, Secret Number, dan Enhypen yang juga punya anggota berkewarganegaraan Jepang.

Dari hasil pencarian, saya menemukan kalau pendapat netizen Korea ini terbelah jadi 2 kubu. Kubu pertama adalah mereka yang menolak kehadiran orang Jepang di industri musik K-Pop. Di tahun 2019, muncul sebuah positingan yang dibuat oleh para netizen Korea Selatan di situs Theqoo yang meminta agar agensi-agensi musik berhenti merekrut trainee yang berasal dari Cina dan Jepang. Netizen-netizen ini merasa kalau artis K-Pop yang berasal dari Cina dan Jepang harusnya debut di tanah kelahiran mereka sendiri.

Komentar dari postingan yang aslinya dibuat dengan bahasa Korea itu nggak tanggung-tanggung. Ada yang sampai bilang bahwa mereka nggak tahan lagi dengan pronunciation dan nasal tone dari para idol yang berasal dari Jepang. Ada juga yang menyindir fans yang mendukung member dari Jepang dan mengorelasikannya dengan mendukung negara Jepang.

Baca Juga:

Pulang dari Jepang Bikin Sadar Betapa Bobrok Daerah Asal Saya

Mencoba Memahami Alasan Orang-orang Kabur dari Magang di Jepang

Di tahun yang sama pernah mencuat gerakan boikot produk Jepang. Selain memboikot produk barang dan jasa yang dibuat oleh perusahaan Jepang, warganet Korea juga menargetkan untuk melakukan pemboikotan terhadap anggota girlgroup Twice dan Iz*one yang berasal dari Jepang. Mereka diminta balik ke Jepang tanpa dibayar sebagai pekerja di Korea Selatan. Duh, serem.

Oke itu dari sisi kontra, ya. Sebagian besar hal di muka bumi ini pasti menuai pro dan kontra. Mari kita lihat dari sisi yang lebih positif.

Setahun kemudian, muncul postingan di laman Theqoo yang juga menyoroti bejibunnya jumlah idol K-Pop yang berasal dari Jepang. Tapi berbeda dari postingan tahun 2019 yang berisi kejulidan dan komentar pedas, justru banyak komentar positif buat member Jepang di postingan ini. Ada satu komentar yang mengatakan bahwa selama ini member Jepang nggak pernah bikin masalah. Mereka malah belajar bahasa Korea dan beradaptasi dengan budaya Korea dengan baik. Dikatakan juga kalau member Jepang lebih patuh sama aturan agensi dan hidup berdampingan dengan baik sama member asli Korea.

Warganet yang pro dengan kehadiran member Jepang adalah mereka yang berpendapat kalau industri hiburan dengan politik adalah hal yang berbeda dan memang kudu dibedain. K-Pop kan buat seneng-seneng, kenapa harus dibikin pusing dan ribet?

Jika dipikir-pikir, kalau semua orang benci member Jepang, nggak mungkin grup-grup yang punya anggota Jepang bisa populer. Peringkat popularitas beberapa grup yang punya anggota dari Jepang, seperti Twice, hampir selalu menduduki posisi teratas. Idol K-Pop yang berasal dari luar Korea Selatan pun saat berkomunikasi tetap pakai bahasa Korea. Mereka juga harus belajar adaptasi dan memenuhi standar-standar tertentu yang ditetapkan masyarakat Korea. Lagi pula, para idol ini juga punya skill yang keren dan menjual di industri musik K-Pop.

Menambahkan anggota dari luar Korea Selatan pun lumayan menguntungkan dari sudut pandang bisnis. Selain nggak perlu sewa interpreter buat menerjemahkan bahasa saat berinteraksi sama fans, pasar juga semakin terbuka lebar. Jadi, mungkin saja di masa depan masih akan ada grup baru yang juga mendebutkan member yang berasal dari Jepang.

Sumber Gambar: YouTube Treasure

BACA JUGA Standar Kecantikan Korea: Hidup Pelik Mereka yang Tidak Didefinisikan Sebagai ‘Cantik’ dan tulisan Noor Annisa Falachul Firdausi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 29 April 2021 oleh

Tags: idol koreajepangK-PopKorea Selatan
Noor Annisa Falachul Firdausi

Noor Annisa Falachul Firdausi

Alumnus UGM asal Yogyakarta yang lagi belajar S2 Sosiologi di Turki

ArtikelTerkait

5 Alasan Anak Muda Jepang dan Korea Selatan Menunda Pernikahan terminal mojok.co

5 Alasan Anak Muda Jepang dan Korea Selatan Menunda Pernikahan

17 Februari 2022
Pengalamanku sebagai Warga Lokal Jepang Merasakan Langsung Sistem Siaga Bencana di Jepang: Jauh Lebih Siaga Menghadapi Bencana, Jauh ketimbang Indonesia

Pengalamanku sebagai Warga Lokal Jepang Merasakan Langsung Sistem Siaga Bencana di Jepang: Jauh Lebih Siaga Menghadapi Bencana, Jauh ketimbang Indonesia

1 Agustus 2025
Kehidupan SD di Jepang Versi Nobita Itu Bukan Mitos, 6 Hal Ini Buktinya terminal mojok

Kehidupan SD di Jepang Versi Nobita Itu Bukan Mitos, 6 Hal Ini Buktinya

8 Juli 2021
Transformasi Gongjin Hometown Cha-cha-cha dalam Kacamata Sosiologi Pedesaan terminal mojok

Transformasi Gongjin Hometown Cha-cha-cha dalam Kacamata Sosiologi Pedesaan

9 Oktober 2021
5 Film Korea Selatan yang Ceritakan Konflik dengan Korea Utara Terminal Mojok

5 Film Korea Selatan yang Ceritakan Konflik dengan Korea Utara

23 Agustus 2022
6 Budaya Kerja Jepang yang Bikin Geleng-geleng Kepala Terminal Mojok

6 Budaya Kerja Jepang yang Bikin Geleng-geleng Kepala

25 Juni 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif

Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif

9 April 2026
Kecamatan Antapani Bandung Menang Mewah, tapi Gak Terurus (Unsplash)

Kecamatan Antapani Bandung, Sebuah Tempat yang Indah sekaligus Rapuh, Nyaman sekaligus Macet, Niatnya Modern tapi Nggak Terurus

5 April 2026
Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg Mojok.co

Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg

5 April 2026
Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup Pola Pikir Pecundang (Unsplash)

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup untuk Hidup dan Berpotensi Bikin Pekerja Tetap Miskin Adalah Pola Pikir Pecundang yang Nggak Tahu Cara Bertahan Hidup

6 April 2026
Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.