Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Fatwa Haram Sound Horeg Jatim Adalah Sebaik-baiknya Berita Hari Ini

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
3 Juli 2025
A A
Mustahil Hidup Tentram di Lingkungan Pecinta Sound Horeg Banyuwangi (Pexels)

Mustahil Hidup Tentram di Lingkungan Pecinta Sound Horeg Banyuwangi (Pexels)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya bukan orang yang asing dengan suara keras. Saya tumbuh di lingkungan di mana pengeras suara adalah teman setia setiap acara. Dari kawinan, pengajian, hingga 17-an, semuanya pakai sound system yang kalau disetel maksimal, bisa bikin ayam tetangga mabok arah. Tapi belakangan ini, saya mulai gelisah dengan keberadaan sound horeg.

Sound horeg, istilah buat truk-truk modif penuh speaker monster yang berkeliling sambil memutar lagu keras-keras, menjamur di Jawa Timur, dan kini malah merambah daerah-daerah lain. Awalnya hanya sebatas hiburan, tapi sekarang terasa lebih seperti ancaman. Bukan cuma untuk telinga, tapi juga untuk nalar sehat dan hak beristirahat orang lain.

Dan ketika Ponpes Besuk Pasuruan akhirnya mengeluarkan fatwa haram untuk sound horeg, saya tidak kaget. Justru saya merasa, mungkin kita memang butuh ditegur dengan keras, oleh lembaga yang dipercaya masyarakat, supaya sadar bahwa tidak semua bentuk kebahagiaan harus memekakkan telinga orang lain.

Bahagia itu hak, tapi tenang juga hak

Saya tidak anti hiburan. Saya juga manusia. Kadang saya joget juga kalau dengar beat yang pas. Tapi saya percaya satu hal: bahagia yang baik itu tidak mengganggu orang lain.

Sound horeg, dalam banyak kasus, memang tidak lagi bicara soal musik. Tapi soal dominasi ruang. Tentang siapa yang paling keras, siapa yang paling getarannya bisa bikin kaca rumah tetangga retak. Tentang siapa yang bisa “eksis” paling heboh, meskipun harus bikin bayi rewel atau orang tua tidak bisa tidur.

Lucunya, semua itu dilakukan atas nama kebersamaan, gotong royong, atau perayaan. Tapi kalau perayaan itu membuat orang lain menderita, apa itu masih perayaan?

Saya tidak marah, saya mikir

Waktu saya baca fatwa Ponpes Besuk Pasuruan, saya tidak merasa itu sebagai bentuk kekangan. Saya merasa itu teguran. Bukan hanya untuk pemilik sound horeg, tapi juga untuk kita semua: sampai sejauh mana kita merasa berhak membuat orang lain terganggu, hanya karena kita senang?

Kalau bahagia harus dinyatakan dengan seribu watt dan dentuman bass sampai jantung berdetak lebih cepat dari biasanya, apakah itu masih bahagia atau cuma pelampiasan?

Baca Juga:

Derita 3 Tahun Bertetangga dengan Pemilik Sound Horeg, Rasanya seperti Ada Hajatan Tiap Hari

Fatwa Haram MUI Nggak Ngefek untuk Sound Horeg yang Tetap Berjalan Hingga Pasangkan Logo Halal, Bukti yang Keras Bukan Cuma Suara Horeg, tapi Juga Kepala Kebanyakan Manusia

Saya tahu banyak yang bilang ini bentuk kreativitas anak muda. Tapi bukankah kreativitas sejatinya menemukan cara baru yang tidak menyusahkan?

Saya pernah bahagia hanya dengan mendengar lagu dari headphone sambil duduk di teras. Saya pernah merasa euforia hanya dengan melihat anak-anak kecil main bola di lapangan. Dan, saya pernah tertawa keras di warkop tanpa speaker, hanya karena cerita teman yang konyol.

Ternyata bahagia itu tidak butuh volume. Tapi butuh rasa.

Mungkin di situlah akar masalahnya: kita mulai kehilangan kemampuan untuk merasa cukup dengan hal-hal kecil. Kita kejar dentuman, karena kita pikir itu satu-satunya cara agar bahagia terasa nyata. Kita pikir, makin keras, makin ramai, makin valid.

Padahal tidak. Ketenangan juga valid. Kesejukan juga valid.

Sound horeg: bukan soal haram, tapi soal nalar

Saya tahu, istilah “haram” akan terasa berat bagi sebagian orang, terutama pencinta sound horeg (ya siapa lagi). Tapi mari kita ambil pelajaran pentingnya, bukan labelnya. Fatwa itu bukan hukuman, tapi peringatan bahwa kebebasan punya batas ketika menyentuh kenyamanan orang lain.

Kita bisa tetap main musik, bisa tetap bersenang-senang. Tapi kontrol volume. Pilih tempat. Pahami waktu. Jangan semua ruang dijadikan ruang pribadi. Karena jalanan itu milik bersama. Malam hari bukan cuma waktu untuk pesta, tapi juga waktu untuk istirahat, renung, dan tidur damai.

Saya percaya pada kebahagiaan. Tapi saya lebih percaya pada kebahagiaan yang bijak. Yang tahu diri. Yang tahu kapan harus diam, dan kapan boleh bersuara.

Sound horeg mungkin bisa membuat satu komunitas tertawa. Tapi kalau tawa itu harus dibayar dengan jeritan anak kecil yang terbangun, atau keluhan kakek-nenek yang tidak bisa tidur, maka itu bukan tawa yang pantas dirayakan. Mari kita belajar mencintai tanpa perlu teriak. Mari kita belajar bahagia tanpa harus mencabut hak tenang orang lain.

Sebab, bahagia itu bukan soal siapa yang paling keras, tapi siapa yang paling sadar.

Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Mereka yang Menemukan Cinta dan Keindahan dalam Gelegar Sound Horeg

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 3 Juli 2025 oleh

Tags: fatwa haramsound horeg
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa semester akhir Universitas Ahmad Dahlan, jurusan Sastra Indonesia. Pemuda asli Sleman. Penulis masalah sosial di Daerah Istimewa Yogyakarta.

ArtikelTerkait

Pengalaman Nonton Langsung Sound Horeg: Bikin Pusing, Mual, dan Telinga Berdengung Berhari-Hari

Saya Bingung, Sound Horeg Itu Sajian Hiburan atau Hanya Caper?

2 September 2024
Jawa Timur Semakin Berisik karena Fenomena Adu Sound Horeg (Unsplash)

Jawa Timur Makin Berisik karena Adu Sound Horeg: Dikritik dan Dibenci, tapi Punya Andil Meningkatkan Perekonomian Masyarakat

4 Agustus 2023
Surat Terbuka Untuk Calon Gubernur Jawa Timur (Unsplash)

Surat Terbuka Untuk Calon Gubernur Jawa Timur: Jangan Bahas Peningkatan SDM kalau Tawuran Pesilat dan Sound Horeg Masih Merajalela

29 Oktober 2024
Hal-hal yang Lumrah di Nganjuk, tapi Sulit Ditemui di Jogja Mojok.co

Hal-hal yang Lumrah di Nganjuk, tapi Sulit Ditemui di Jogja

12 September 2024
Derita 3 Tahun Bertetangga dengan Pemilik Sound Horeg, Rasanya seperti Ada Hajatan Tiap Hari Mojok.co

Derita 3 Tahun Bertetangga dengan Pemilik Sound Horeg, Rasanya seperti Ada Hajatan Tiap Hari

26 Oktober 2025
Rumah Dekat Pengusaha Sound Horeg Nggak Melulu Menderita, Banyak Juga Untungnya Mojok.co

Kenyataan Tinggal di Dekat Pengusaha Sound Horeg Gunungkidul yang Tidak Pernah Kita Bahas Secara Tuntas

8 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Makanan Malang yang Membuat Saya sebagai Perantau Kecewa, Sebaiknya Jangan Pasang Ekspektasi Ketinggian Mojok.co

Makanan Malang yang Bikin Pendatang seperti Saya Kecewa, Memang Sebaiknya Jangan Pasang Ekspektasi Ketinggian

1 April 2026
UMK Cikarang Memang Tinggi, tapi Biaya Hidup di Cikarang Tetap Murah, Jogja Can't Relate! scbd

Jika Harus Menjalani Sepuluh Ribu Kehidupan, Saya Tetap Memilih Jadi Pekerja Cikarang ketimbang Kakak-kakak SCBD

5 April 2026
Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

2 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN (Shutterstock)

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN

3 April 2026
5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

Jalan-jalan ke Pantai saat Libur Panjang Adalah Pilihan yang Buruk, Hanya Dapat Capek Saja di Perjalanan

1 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial
  • WFH 1 Hari dalam Seminggu Cuma Bikin Pekerja Boncos dan Nggak Produktif, Lalu Di Mana Efisiensi Pemakaian Energinya?
  • Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi
  • Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna
  • Nugas di Kafe Dianggap Buang-buat Duit, padahal Bikin Mahasiswa Jogja Lebih Tenang dan Produktif
  • Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.