Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Fans Bola Layar Kaca yang Hobi Banter Harusnya Berantem Betulan Saja

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
24 Mei 2022
A A
Fans Bola Layar Kaca yang Hobi Banter Harusnya Berantem Betulan Saja

Fans Bola Layar Kaca yang Hobi Banter Harusnya Berantem Betulan Saja (Sharav Maksumov via Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Banter atau olok-olok dalam sepak bola kian hari kian menjemukan. Tingkat menyebalkan fans sepak bola, bisa dikatakan setara dengan basis massa fans K-Pop yang mulai layak dimusuhi bersama. Walau urusan keganasan, saya pikir fans K-Pop masih unggul. Kekuatan mereka itu setara dengan puluhan batalion tentara Rusia.

Saya tidak ada urusan dengan suporter luar—alias mereka yang ada di kota di mana sepak bola itu tumbuh dan berkembang. Misalkan fans Liverpool gelut dengan Everton di Merseyside, ya mereka memang sudah layak untuk berantem. Atau fans Madrid dan Barcelona di Spanyol, ya sudah fitrahnya mereka bersitegang.

ADVERTISEMENT

Juga tidak ada urusan dengan fans layar kaca yang cinta damai, mengumpat seperlunya tanpa membawa ras, agama, dan etnis dalam debat sepak bola.

Cupang (Pixabay.com)

Kalau ada fans Liverpool asal Bantul yang gelut dengan fans MU asal Gunung Kidul, gelutnya pun di media sosial dan sebatas ketikan belaka, duh saya tidak habis pikir. Mereka, fans layar kaca yang berantem di media sosial, seakan berbagi kebodohan dengan mereka yang bermimpi menikahi personel BTS.

Ada basis massa centang biru dan katanya sih fanbase resmi, nge-banter tim rival. Banter yang digunakan pun masuk dalam tahap yang menurut saya menjijikan, yakni membanggakan piala Eropa. Jika postingan banter itu dilihat sama Madrid, AC Milan, Liverpool, dan Bayern, sudah pasti fanbase ini ditertawai sampai terberak-berak.

Tapi itulah nyatanya, itu hanya gambaran kecil saja tingkat kebodohan fans sepak bola layar kaca yang beraninya gelut di media sosial. Mereka tidak ada bedanya sama buzzer yang tiap tweet-nya dibayar murah. Ah, buzzer murahan saja masih dibayar, sedang mereka gelut siang dan malam hanya berlandaskan asas loyalitas. Saya rasa—dulu—kubu cebong dan kampret tidak sedungu fans layar kaca yang hobi gelut di media sosial.

Ciri fans layar kaca menyebalkan itu ya kalau tidak membawa trofi bersejarah, pol mentok ya membahas tim kebanggaannya pernah menang melawan tim rival. Ketika fans di luar negeri sedang ngebir bareng atau toyor-toyoran kepala karena gemas namun diselingi tawa, di negara berkembang ini dalam komen media sosial sampai bawa-bawa kata makian dan hal-hal prinsip macam agama, suku, dan ras.

Kultur banter tidak sehat ini sudah berkembang biak sejak lama. Akun-akun yang memelesetkan nama-nama tim dan pemain, tumbuh subur digemari oleh mereka yang baru mencoba suka kepada sepak bola. Sekarang, tradisi itu dibawa oleh akun-akun yang mengutamakan engagement, bukan informasi yang dibawakan.

Baca Juga:

Manajemen Tolol Penyebab PSS Sleman Degradasi dan Sudah Sepatutnya Mereka Bertanggung Jawab!

Olahraga Lari Adalah Olahraga yang Lebih “Drama” ketimbang Sepak Bola

Sudah Indonesia beriklim tropis dan panas, muncul akun-akun yang hobinya ngecengin justru menambah titik didih emosi di kepala para penggemar sepak bola. Sebagian ada yang acuh, sebagian lagi ya war di media sosial. Tiap minggu, ba’da big match, atau ada tim besar yang terjungkal, tawuran di media sosial jamak ditemukan.

Kebakaran (Pixabay.com)

Saya sih berharap mereka-mereka yang doyan banter di media sosial tanpa ada landasan berdebat dan hobinya misuh-misuh, lebih baik dipertemukan saja di jalan. Mereka yang sok asik ini dibekali saja pelindung kepala dan sarung tinju, lantas dipersilakan untuk jotos-jotosan sepuasnya. Lha wong di media sosial mereka sudah tidak mengerti apa itu norma dan etika, ya sudah lanjutkan saja tradisi barbar manusia sebelum mengenal apa itu aksara, adab, dan nilai dalam menentukan siapa yang paling kuat.

Lantas kita plester mulutnya mereka, karena kita paham, orang yang omong besar di media sosial dan sukanya misuh-misuh kepada tim rival tanpa ada landasan yang bermutu, gurat di otaknya itu hampir rata—alias halus. Otaknya masih bersih dari pencemaran ilmu pengetahuan dan refleksi manusia dewasa karena mereka-mereka ini mirip seperti bocah yang baru paham bahwa onani itu enak sekali.

Mereka yang hobi banter tidak mutu dan mengedepankan kebodohan itu hanya manusia freak yang diberkahi wajah tua, padahal mental dan pikirannya masih seperti bocah-bocah yang sering ngerecokin Bang Windah Basudara. Bocil Sebut Nama dan Bocil Kematian yang sering disindir Bang Windah, ya mereka-mereka ini yang suka banter di kolom media sosial akun-akun bola yang sukanya bawa-bawa ras, agama, dan hobi misuh-misuh.

Saya ingin sekali mengumpulkan mereka, biarkan mereka adu pukul sampai bonyok. Lumayan, kan, populasi manusia goblok di Bumi jadi berkurang secara signifikan. Coba bayangkan kehidupan umat manusia tanpa adanya mereka, yang suka banter perihal bola di media sosial; pohon-pohon di bumi tumbuh subur, mobil terbang bermunculan, cangkok organ dalam manusia hanya butuh hitungan menit, kita tahu ending One Piece, obat AIDS ditemukan, dan SJW di Twitter tidak sering blunder.

Bertarung (Pixabay.com)

Ya, mau bagaimana, adanya mereka di Bumi, menandakan bahwa peradaban di sini masih dipertanyakan. Kalau ada lomba cerdas cermat antara fans bola goblok yang saya jabarkan di atas dengan manusia bervolume otak kecil—sekitar 900 cc—seperti Meganthropus Paleojavanicus, saya berani bertaruh untuk kemenangan Meganthropus Paleojavanicus. Karena percuma punya volume otak besar, kalau isinya kosong.

Penulis: Gusti Aditya
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Mbappe Perpanjang Kontrak di PSG kok Dibilang Loyal, Situ Sehat?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 24 Mei 2022 oleh

Tags: banterfansSepak Bola
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Indonesia Juara FIFAe World Cup 2024: Terwujudnya Mimpi Masa Kecil, dan Bukti Pembinaan dari Grassroot Itu Penting

Indonesia Juara FIFAe World Cup 2024: Terwujudnya Mimpi Masa Kecil, dan Bukti Pembinaan dari Grassroot Itu Penting

13 Desember 2024
Perubahan Format Champions League: Demi Kualitas atau Keuntungan?

Perubahan Format Champions League: Demi Kualitas atau Keuntungan?

11 Mei 2022
italia vs turki euro 2020 mojok

Italia Bermain Begitu Matang ketika Turki Kehilangan ‘Will to Fight’, Euro 2020 Dibuka dengan ‘la Festa’

12 Juni 2021
taro misaki captain tsubasa penghasilan karier cerita kekayaan timnas jepang mojok

Menghitung Penghasilan Taro Misaki, Pasangan Emas Tsubasa Ozora yang Beda Nasib

2 Mei 2020
Kebingungan Saya dalam Menggunakan Istilah 'Fans' sebagai Tolok Ukur Terminal Mojok

Kebingungan Saya dalam Menggunakan Istilah ‘Fans’ sebagai Tolok Ukur

13 Januari 2021
eden hazard carlo ancelotti luis enrique david alaba vinicius junior real madrid vs chelsea mojok

Eden Hazard Diburu Waktu

29 Oktober 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengakuan orang Semarang, lidah Jawa saya menyerah pada kuliner Jakarta yang nggak bikin selera Mojok.co

Pengakuan orang Semarang, lidah Jawa saya menyerah pada kuliner Jakarta yang nggak bikin selera

19 Juli 2026
Drama pembayaran tunai ojol, uang kembalian jadi menguras waktu dan energi saya Mojok.co

Niat beli makanan lewat layanan pesan antar ojol supaya praktis, eh berujung repot karena driver tak punya kembalian

20 Juli 2026
Pengalaman buruk menggunakan layanan BPJS di RS UNAIR: antre lama, sistem tidak jelas, beda dengan pelayanan swasta

Pengalaman buruk menggunakan layanan BPJS di RS UNAIR: antre lama, sistem tidak jelas, beda dengan pelayanan swasta

20 Juli 2026
Sendang Senjoyo dulu jadi primadona, kini banyak orang nggak sudi buat ke sana!

Sendang Senjoyo dulu jadi primadona, kini banyak orang nggak sudi buat ke sana!

19 Juli 2026
Motor matic itu kutukan yang selalu rusak kalau saya punya uang (Unsplash)

Saya curiga, motor matic punya indra penciuman terhadap saldo rekening karena selalu rusak ketika saya punya uang

16 Juli 2026
Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang Mojok.co

Sleman semakin mahal, tetapi narasi kota mahasiswa murah tetap dipelihara

15 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.