Kalau kita perhatikan resepsi pernikahan orang Madura, agaknya acaranya tidak sah kalau tidak meriah. Segala cara bisa diupayakan supaya resepsi pernikahan bisa seheboh mungkin. Bahkan, ada yang sampai harus ngutang-ngutang.
Apalagi kalau melihat jumlah seserahannya, iringan drum bandnya, atau outfit para ibu-ibu yang bisa ngalahin mempelai perempuannyanya. Lalu, belum lagi geber-geber knalpot para ABG saat mengantar mempelai pria. Nggak rame gimana hayo!
Tapi, bukan hal-hal di atas yang ingin saya bahas pada tulisan ini. Saya lebih tertarik untuk menjelaskan satu hal lain yang tak banyak diketahui orang, yakni terkait hamburan uang yang ada di acara tersebut. Sebab, di acara resepsi pernikahan di Madura itu, uang seperti benar-benar tidak ada harga dirinya. Tapi setelahnya? Malah bikin sengsara juga akhirnya.
Kini, uang yang disawer ke mempelai jadi utang
Saya tidak mengetahui sejak kapan budaya ini mulai berubah di Madura. Yang saya tahu, yang namanya uang saweran berarti itu uang hadiah pemberian, buka utang. Dulu, 2008, saat Mbak saya menikah, dia dapat banyak uang saweran dan itu tidak perlu dikembalikan, sebab itu maksudnya adalah hadiah pemberian. Bebas mau dibuat apa saja setelah mereka berumah tangga.
Bagi yang memng diniatkan sebagai utang, umumnya cukup dimasukkan amplop, dikasih nama, lalu dikasih ke mempelai.
Nah, sekarang budaya demikian sudah berubah. Demi hasrat kesombongan beberapa orang, mereka menyawer uang ratusan ribu ke mempelai bukan niat sebagai hadiah, tapi utang. Caranya, sawerannya dikasih nama. Bahkan banyak yang dikalungkan ke leher sampai dibuat menyerupai payung.
Makanya, jangan heran kalau si mempelai tidak ada yang senyum saat disawer uang ratusan ribu. Mereka kepikiran saja, gimana balikinnya nnatinya. Haduh, inilah orang-orang, harta nggak seberapa, sombongnya masa’alla!
BACA JUGA: 14 Tahapan dan Istilah Pernikahan di Madura
Banyak utang yang nggak dikembalikan
Selanjutnya, ada kebiasaan yang juga saya tak sukai dari resepsi nikahan di Madura, yakni banyak orang-orang yang nggak membayar utangnya. Ketika mengundang saja, mereka bermanis-manis agar meramaikan resepsinya, maksudnya meminta kita datang. Tentu saja, kalau kita datang tanpa membawa apa-apa tidak enak. Nah, budaya di Madura, di Indonesia juga umumnya, kita akan membawa amplop, kan ya. Aturannya, harus dicatat, sebab itu utang. Kalau kita menikah nantinya, ya monggo dikembalikan.
Tapi tak semua orang di Madura memegang teguh hal tersebut. Nggak cuma yang muda, yang tua pun juga demikian.
Jadi, di Madura ada istilah bhubuwen, yakni menyimpan uang, atau kebutuhan pokok, entah beras, gula, minyak atau sebagainya ke orang yang sedang punya resepsi pernikahan. Nah, bhubuwen ini bisa ke si mempelai atau orang tua si mempelai. Sayangnya, orang-orang kadang malah pura-pura lupa untuk mengembalikannya saat kita sendiri punya acara. Bahkan, tak sedikit yang terang-terangan bilang minta maaf belum bisa balikin bhubuwen-nya.
Bayangin, Gaes, misal tahun lalu saya abhubu ke teman saya 50 ribu. Masa dalam waktu setahun nggak bisa ngumpulin uang yang cuma 50 ribu itu. Makanya kadang, saking seringnya kejadian seperti ini, banyak orang-orang yang abhubu amplop kosong kalau yang punya acara dirasa nggak bisa dipercaya.
Setelah acara pasti muncul gosip di desa di Madura
Di desa saya, jarang sekali ada resepsi pernikahan yang acara selesai semuanya bener-bener selesai. Lebih seringnya, masih saja menyisakan rasan-rasan di masyarakat desa. Terutama, ya kasus bhubuwen yang amburadul ini. Ada yang nggak ngebalikin, ada yang asal ngebalikin tapi asal-asalan, misalnya ngasih beras yang kualitasnya nggak sebagus dulu saat diutangkan. Haduh!
Nah, cara negornya pun nggak langsung ke orangnya, biasanya dibisik-bisik dulu ke kerabatnya. Kalau kerabatnya baik, alhamdulillah tidak jadi omongan. Tapi kalau kerabatnya sendiri sedikit julid, dalam hitungan detik bisa jadi hot news di acara-acara arisan. Haduh!
Belum lagi rasan-rasan lainnya, masalah konsumsi, seserahan, keluarga besan, pokoknya dikomentari.
Itulah fakta yang tak banyak dibicarakan orang-orang tentang resepsi pernikahan di Madura. Apa yang saya tulis ini tentu berdasarkan pengalaman pribadi saya dan orang tua saya. Ya sekian, saya cuma berharap, mari budaya dalam pernikahan yang baik-baik ini kita lestarikan, tapi kalau merugikan, lupakan saja. Biar nggak ruwet. Saya yang lajang sampai nggak berani buat berumah tangga!
Penulis: Abdur Rohman
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 3 Fakta yang Membuat Pernikahan di Madura Adalah Petaka Besar Bagi Cowok Introvert
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















