Momen ngabuburit di kala Ramadan kali ini saya mengamati sesuatu. Setelah sempat menjadi minuman favorit, saya semakin sulit menemukan minuman yang menggunakan boba. Satu jenis minuman yang bertahan, dan justru semakin ramai, adalah es teh jumbo. Dan ini, tidak begitu mengagetkan.
Kita semua tahu alasan utama dari fenomena ini. Es teh jumbo bukan minuman musiman seperti boba. Atau, kalau boleh menyebut merek, ada Mixue yang mulai meredup. Jumlah gerai mereka tidak sebanyak dulu. Bahkan, kalau tidak salah, banyak yang tutup.
Selain fenomena di atas, ada beberapa alasan yang menjadi sebab. Izinkan saya menjelaskan.
Baca juga: 3 Dosa Pedagang Es Teh Jumbo yang Menguntungkan Mereka tetapi Sangat Merugikan Pembeli
Es teh jumbo sudah menjadi kebutuhan
Menurut saya, sebetulnya ya, minuman menggunakan boba itu nggak FOMO banget. Minuman ini sudah ada sejak era 1980-an di Taiwan. Minuman menggunakan boba mulai populer selepas era 1990-an.
Melansir dari Wikipedia, es boba mulai menjamur ke penjuru Asia sejak tahun 2000-an, termasuk ke Indonesia. Akan tetapi, lekat di ingatan, kita baru benar-benar merasakan kepopuleran es boba ini dari pertengahan 2019.
Kala itu, es boba menjadi bagian dari gaya hidup. Orang-orang sering menganggapnya sebagai hal yang keren di tongkrongan dan menjadi objek dalam foto. Semuanya demi usaha untuk nggak ketinggalan zaman.
Sementara itu, para penjual es teh jumbo nggak pernah bercita-cita terlihat cantik dan estetis. Orang-orang membeli es teh jumbo hanya karena mereka haus. Itu saja!
Di bulan Ramadan ini khususnya, tentu saja orang-orang yang selama 13 jam sudah menahan dahaga bukan ingin mencari minuman yang sekadar tren. Lebih dari itu, kami butuh cairan pelepas dahaga.
Yang kami butuhkan bukan topping kenyal dengan harga 10 ribu. Kami lebih mencari minuman yang menawarkan kuantitas. Es teh jumbo menang telak di bagian ini.
Daya beli dan faktor kesehatan bikin orang setia kepada es teh jumbo
Saya bukan orang yang yang punya pemahaman mendalam mengenai persoalan ekonomi. Tapi, dari sisi logika saja, es boba itu jauh lebih mahal ketimbang satu cup minuman es teh. Harga puluhan ribu vs Rp3 ribu rupiah. Intinya adalah memuaskan dahaga. Kamu pilih mana?
Ketika daya beli masyarakat sedang turun, nggak heran kalau banyak yang mulai meninggalkan es boba dan minuman FOMO lainnya. Mereka memilih subtitusi yang simpel dan murah.
Sementara itu, puluhan ribu yang mereka pakai untuk membeli es boba, dialihkan ke usaha memenuhi kebutuhan dasar. Misalnya, untuk beli kebutuhan sehari-hari seperti gas, listrik, dan bahan pangan. Begitulah, es teh sahabat orang miskin.
Selain itu, banyak yang meninggalkan minuman FOMO karena kesadaran akan faktor kesehatan. Kita sama-sama tahu, minuman seperti itu pasti mengandung gula yang tinggi. Fenomena ini terlihat banget di 2025 yang menjadi tahunnya “kesehatan”.
Es teh bukannya tidak mengandung gula. Namun, lagi-lagi, di sini terjadi perbandingan antara minuman boba dengan gula melimpah vs gula dalam teh. Orang-orang yang masih permisif dengan gula pasti memilih yang “rada aman”. Begitu.
Di sinilah kemudian es teh jumbo mampu bertahan. Banyak gerai es boba yang bernasib seperti Mixue, yaitu gulung tikar. Semua itu natural.
Baca juga: 4 Tips Aman Minum Es Teh Jumbo yang (Katanya) Penuh Dosa
Dan begitulah, yang FOMO doang nggak bakal bertahan lama
Dulu, saya sendiri sering merasa kalau memegang cup boba dengan sablon brand tertentu itu rasanya gaul. Bagaimana tidak, sementara media sosial adalah ladang subur bagi para reviewer minuman dengan harga selangit, lebih-lebih saat es boba sedang naik daun.
Orang-orang nggak mau kalah pamer kalau mereka juga join tren “minum boba”. Bukan hal penting sebenarnya, tapi begitulah fenomena yang terjadi.
Akan tetapi, yang namanya tren juga punya siklus. Lihat saja bagaimana brand seperti Mixue bisa meledak dalam waktu singkat, namun mulai terasa biasa saja pada akhirnya.
Minuman FOMO pasti begitu. Ketika masyarakat sudah puas mencoba, beberapa waktu kemudian sensasi yang “terasa” eksklusif pun lenyap. Beda dengan es teh jumbo. Memang nggak pernah viral, tapi selalu ada saat orang-orang membutuhkannya. Dan murah. Itu combo yang dahsyat.
Itu mengapa, pada akhirnya, kita sekarang melihat fenomena penjual es teh jumbo lebih gampang dicari daripada penjual es boba. Jadi, sudah saatnya membuka bisnis es teh jumbo sebelum terlambat?
Penulis: Ahmad Dani Fauzan
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













