Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Loker

Dua Tipe HRD Saat Wawancara Kerja

Seto Wicaksono oleh Seto Wicaksono
7 Mei 2019
A A
Share on FacebookShare on Twitter

Dalam proses wawancara, ada dua tipe HRD: mengajak kandidat berbicara dengan menggunakan teknik good cop; membuat suasana nyaman atau dengan nada yang sinis dan ketus laiknya bad cop.

Ketika saya mengikuti proses wawancara kerja di beberapa perusahaan, ada hal menarik yang saya temui dan baru menyadari ketika turut bekerja pada posisi tersebut, yaitu beda teknik wawancara yang digunakan oleh para HRD saat wawancara berlangsung. Ada HRD yang dirasa menyenangkan, karena pembawaannya yang ramah, ketika berbicara seperti dengan teman sendiri, jadi obrolan terasa nyaman. Ada juga yang ketika bertanya kepada kandidat, galaknya minta ampun. Terkesan seperti marah-marah. Julid. Engga bisa banget liat kandidat mencoba antusias dan langsung dibuat down secara mental.

Good cop dan bad cop, istilah untuk kedua teknik ini. Teknik ini biasanya memang digunakan oleh para aparat keamanan dalam menginterogasi para penjahat. Namun, teknik ini dijamin engga akan mempan untuk dipakai saat ngobrol bareng calon mertua.

Ciri dari HRD yang bertindak sebagai bad cop dalam proses wawancara adalah, jika bertanya terkesan sinis dan nggak memberi kesempatan kepada kandidat untuk bersikap santai. Minim senyum. Disamping sedang sariawan sehingga sulit berbicara, ya. Selama ngobrol bawaanya tegang.

Sebagai pelamar kerja, saya pernah berhadapan dengan HRD yang seperti ini. Saya ingat betul yang ditanyakan hanya,

“Kenapa kamu mau menempati posisi ini?”

“Kegiatan waktu di kampus apa aja?”

“Harapan gajinya berapa?”

Baca Juga:

Cari Kerja Memang Susah, tapi Bertahan di Lingkungan Kerja Toxic Juga Nggak Ada Gunanya

Wanita Sudah Menikah Sulit Dapat Kerja: HRD Cari Karyawan Apa Calon Mantu?

Cuma itu yang ditanya, tanpa basa-basi, eskpresinya pun ketus, lalu diakhir wawancara cuma disampaikan,

“Oke, nanti kalau ada info saya kabari lagi.”

Sekadar informasi, indikasi pemberi harapan palsu dimulai dari kalimat itu.

Sebagai seseorang yang berprofesi sebagi HRD, teman saya ada yang suka sekali menggunakan teknik ini sewaktu wawancara, bahkan pernah ada kandidat yang sampai menangis dibuatnya, lalu ketika kandidat tersebut menangis, teman saya hanya bertanya,

“Kenapa nangis, Mbak? Masa gitu aja nangis? Gimana kalau nanti kalau dikejar target?”

Sewaktu saya tanya kenapa begitu, dia bilang buat tes mental.

Buat saya pribadi, nggak salah memang, tapi dalam kondisi tertekan, tidak semua kandidat bisa mengeluarkan kemampuan atau komunikasi terbaiknya.  Yang ada kandidat malah takut dan gelagapan karena tidak siap dengan wawancara yang terkesan seperti dimarahi, diintimidasi. Apalagi kandidatnya masih lulusan baru, yang baru saja lulus dengan susah payah setelah mengerjakan revisi skripsi yang coretannya saja kadang bikin males dan lupa apa yang harus diperbaiki.

Saya sendiri lebih nyaman jadi seorang pewawancara dengan menggunakan teknik good cop. Ramah, menciptakan situasi dan suasana yang nyaman saat wawancara berlangsung. Tidak sedikit kandidat yang antusias dan merasa nyaman dalam berkomunikasi saat dalam situasi ini. Ditambah, pastinya kita akan lebih nyaman dalam bercerita soal apa yang kita bisa, toh?

Meski begitu, tetap ada kelemahan saat menjadi seorang HRD yang good cop. Di antaranya, jika tidak dibatasi akan tercipta kedekatan secara emosional atau kandidat jadi terkesan menyepelekan obrolan atau diskusi selama wawancara berlangsung dengan jawaban yang nyeleneh atau semaunya.

Seperti sewaktu saya tanya kandidat yang satu ini;

“Mas, bisa diceritakan dirimu itu orang yang seperti apa?”

“Kalau itu, yang tau mama saya, Mas.”

“Kalau kekurangan Mas, ada dalam hal apa aja?”

“Oh, itu juga yang tau Mama saya, Mas. Coba, deh, tanya Mama saya.”

Kepriben, sih. Ini yang mau kerja dia atau Mamanya.

Belum lagi kandidat yang salah ucap karena situasi wawancara yang terlalu santai, kandidat tersebut menyampaikan, bahwa dia ahli dalam menggunakan MIKROSKOP EKSEL, rumusan yang biasa digunakan antara lain, min, max, dan AVENGER.

Lalu ketika saya menanyakan hobi apa yang jadi minat kandidat,

“Mbak, hobinya apa?”

“Hobi saya baca, Pak.”

“Oh, Mbak suka baca buku bergenre apa?”

“Bukan baca buku, Pak. Saya suka baca status WhatsApp, status Facebook, Twitter, pokoknya yang sosmed gitu, Pak.”

Kandidat seperti ini maunya apa, sih.

Sedikit tips dari saya yang juga seorang pewawancara walaupun masih amatir, ketika berhadapan dengan HRD yang bad cop, usahakan jangan terbawa emosi meski ditanya dengan nada yang terkesan ketus dan ngegas, karena memang itu yang diincar dari para kandidat. Jangan ikut jawab dengan nada yang ngegas juga, apalagi memarahi balik HRD, karena akan auto-reject.

Jangan juga emosional atau baper, nangis misalnya. Hadapi segala pertanyaan dengan jawaban yang elegan dan tepat sasaran. HRD engga akan kasih bahu atau pundaknya buat kalian yang menangis karena ketakutan sewaktu wawancara berlangsung.

Ketika berhadapan dengan HRD yang good cop, bereaksi dan bersikap sewajarnya lebih baik ketimbang malah memuji berlebihan, seperti “Masnya ganteng” atau “Mbanya cantik”,  flirting seperti itu ga akan membuat kalian para kandidat auto-diterima.

Dari sudut pandang pribadi saya, untuk HRD yang menerapkan teknik good cop, baiknya kandidat bercerita banyak tentang dirinya dan apa kontribusi apa yang kiranya bisa dilakukan karena kami bisa menjadi pendengar yang baik dan memerhatikan detail cerita. Selama cerita masih on-point.

Jangan sampai seperti kandidat yang pernah saya wawancara, sewaktu ditanya ihwal kekurangan, dia menjawab,

“Saya malu karena tampang saya muda.” Ini mau menyombong atau gimana?

Lalu ada juga yang jawabnya,

“Saya kalau mandi lama, Pak, bisa satu jam.”

Saya langsung bertanya-tanya dan menerawang, apa yang dia lakukan di kamar mandi selama satu jam? Posisi apa yang cocok untuk kandidat ini?

Di antara beberapa perbedaan antara good cop dan bad cop pada teknik wawancara kerja yang dilakukan oleh HRD, ada satu kesamaan pasti, mereka akan mengatakan kalimat yang sama pada kandidat di akhir wawancara,

“Dipastikan semua kontaknya aktif, ya. Nanti akan dihubungi kembali jika ada informasi dari kami.”

Terakhir diperbarui pada 18 Oktober 2021 oleh

Tags: cari kerjaHRDinterview
Seto Wicaksono

Seto Wicaksono

Kelahiran 20 Juli. Fans Liverpool FC. Lulusan Psikologi Universitas Gunadarma. Seorang Suami, Ayah, dan Recruiter di suatu perusahaan.

ArtikelTerkait

Tips bagi para Pelamar Kerja Saat Mengikuti Interview Online

Tips bagi para Pelamar Kerja Saat Mengikuti Interview Online

6 Mei 2020
Panduan Wawancara Kerja Bagi yang Kualifikasinya Dianggap Overqualified oleh HRD (Unsplash.com)

Panduan Wawancara Kerja Bagi yang Kualifikasinya Dianggap Overqualified oleh HRD

21 Agustus 2022
Menimbang Keputusan Resign buat Jadi Pengangguran Sementara terminal mojok.co

Rendahnya Selera Pekerjaan Sarjana Masa Kini, Iyakah?

16 Agustus 2019
Akbar Faisal Profesi PNS Adalah Kebanggaan Orang Tua yang Masih Abadi terminal mojok.co

Omnibus Law Bikin HRD Bakal Tambah Repot

13 Oktober 2020
Fenomena HRD Ghosting dan Cara Menghindarinya

Fenomena HRD Ghosting dan Cara Menghindarinya

19 November 2019
LinkedIn

Jamais Vu Saat Menjadi Pengguna LinkedIn

6 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beat Deluxe, Saksi Kejayaan Bos Warung Madura dari Pamekasan (Shutterstock)

Sejak 2020 Hingga Kini, Honda Beat Deluxe Merah-Hitam Jadi Saksi Kejayaan Warga Pamekasan dalam Membangun Bisnis Warung Madura

20 Januari 2026
Menerima Takdir di Jurusan Keperawatan, Jurusan Paling Realistis bagi Mahasiswa yang Gagal Masuk Kedokteran karena Biaya

Menerima Takdir di Jurusan Keperawatan, Jurusan Paling Realistis bagi Mahasiswa yang Gagal Masuk Kedokteran karena Biaya

14 Januari 2026
Meski Bangkalan Madura Mulai Berbenah, Pemandangan Jalan Rayanya Membuktikan kalau Warganya Dipenuhi Masalah

Meski Bangkalan Madura Mulai Berbenah, Pemandangan Jalan Rayanya Membuktikan kalau Warganya Dipenuhi Masalah

17 Januari 2026
Publikasi Artikel: Saya yang Begadang, Dosen yang Dapat Nama publikasi jurnal

Publikasi Jurnal Kadang Jadi Perbudakan Gaya Baru: Mahasiswa yang Nulis, tapi Dosen yang Dapat Nama, Logikanya di Mana?

19 Januari 2026
Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

17 Januari 2026
3 Alasan Mitsubishi Outlander Sport Tidak Pantas Disuntik Mati dan Harus Diproduksi Kembali Mojok.co

3 Alasan Mitsubishi Outlander Sport Tidak Pantas Disuntik Mati dan Harus Diproduksi Kembali

19 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Indonesia Masters 2026: Cerita Penonton Layar Kaca Rela Menembus 3 Jam Macet Jakarta demi Merasakan Atmosfer Tribun Istora
  • Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina
  • Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak
  • Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026
  • Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Emak-Emak Petarung Adalah Daihatsu Sigra: Muat Sekampung, Iritnya Nggak Ngotak, dan Barokah Dunia Akhirat
  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.