Dua Pepatah Jawa Ini Tidak Dapat Digunakan di Bikini Bottom – Terminal Mojok

Dua Pepatah Jawa Ini Tidak Dapat Digunakan di Bikini Bottom

Artikel

Avatar

Kita semua sepakat jika orang-orang Jawa, khususnya orang Jawa zaman dulu, setiap tutur katanya selalu terdapat arti di dalamnya. Kalau bahasa kerennya filosofis dalam setiap tutur katanya. Bahkan banyak yang beranggapan jika orang-orang Jawa sudah memikirkan sebab dan akibat yang akan diterima sebelum mengerjakan segala sesuatu hal. Dengan begitu, banyak sekali pepatah Jawa yang lahir dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa bahkan bagi masyarakat Indonesia.

Pepatah Jawa memang sangat bermakna. Yang kemudian menjadi pertanyaan saya, apakah pepatah Jawa ini bisa diterapkan di semua tempat? Setelah melihat situasi dan paradigma yang terjadi di alam semesta, nyatanya tidak semua pitutur serta pepatah Jawa bisa diterapkan di semua tempat. Salah satu tempat yang tidak bisa menerapkannya adalah Bikini Bottom.

Bagi yang belum tahu, Bikini Bottom sendiri merupakan suatu kota yang terletak di Samudra Pasifik, lebih tepatnya di Kepulauan Marshal. Kalau orang-orang bilang, sih, penamaan Bikini Bottom ini diilhami dari Bikini Atol. Yakni pulau di atas Bikini Bottom yang dijadikan tempat uji coba nuklir Amerika Serikat selama Perang Dunia Kedua dan berakhir pada tahun 1945. Makanya nggak aneh kalau banyak penduduk Bikini Bottom adalah hewan mutan yang diakibatkan oleh radiasi nuklir pada Perang Dunia dulu.

Meskipun penduduknya banyak yang mutan dan kadang berperilaku aneh, nyatanya keadaan Bikini Bottom bisa dibilang aman, tentram, dan sejahtera. Hal ini dibuktikan dengan larisnya Krusty Krab yang merupakan restoran cepat saji milik Tuan Krab dan terkenal mahal itu.

Penduduk Bikini Bottom terlihat tentram, damai, dan sejahtera, atau dalam kata lain bisa dibilang “njawani”. Namun, pada kenyataannya masyarakat Bikini Bottom tidaklah njawani amat. Hal ini terbukti dengan adanya dua pepatah Jawa yang tidak bisa diterapkan di sini.

Pertama, “Mangan ra mangan seng penting kumpul” pepatah atau pitutur tersebut tampak biasa dan mungkin bisa diterapkan di mana saja. Namun, di Bikini Bottom pepatah tersebut mental oleh kebiasaan orang sana. Seperti yang kita tahu, tempat berkumpulnya orang-orang Bikini Bottom kalau nggak Krusty Krab, pantai, ya Chum Bucket. Ketiga tempat tersebut yang membuat pepatah tadi tidak bisa diterapkan di sana. Pasalnya ketika orang-orang berkumpul di tiga tempat tersebut dan tidak makan, maka akan menjadi hal yang sangat aneh.

Mulai dari Krusty Krab. Sebagaimana yang kita tau, Krusty Krab ini adalah restoran cepat saji yang sangat laris. Jadi kalau hanya kumpul-kumpul di sana dan nggak pesan makanan, sudah pasti orang tersebut akan dirasani oleh Tuan Krab. Bahkan Tuan Krab nggak segan untuk mengusir orang-orang tersebut.

Kemudian pantai, kegiatan utama orang-orang ketika ke pantai adalah untuk piknik. Ketika orang-orang hanya ke pantai dan tidak membawa makanan, pasti lidahnya akan terasa sepet, dan ujung-ujungnya pasti njajan. Yang mana itu tidaklah ekonomis bagi pengangguran macam Patrick.

Selanjutnya adalah Chum Bucket. Meskipun makanan di sana terkenal tidak enak, dan kadang hanya virtual, tapi yang namanya restoran ya kita harus pesan makanannya. Nggak bisa kalau cuma numpang nongkrong. Kasihan Plankton, nggak ada yang beli, tapi tagihan listriknya tetap banyak karena kelakuan gondes-gondes Bikini Bottom.

Kedua, pepatah kedua yang tidak bisa diterapkan di Bikini Bottom, “Wong Jowo ojo sampek ilang Jowone”. Pepatah ini seharusnya bisa diterapkan di seluruh dunia. Lantaran, ia memang merujuk pada nasionalisme atau pelestarian budaya daerah setempat. Sedihnya, orang-orang Bikini Bottom nggak bisa nyetatus di WhatsApp mereka seperti orang Jawa dan orang daerah lainnya.

Pasalnya, akan aneh dan keluar dari konteks pepatahnya. Bayangkan saja kita dapat updatean status WhatsApp dari Patrick Star dan bunyinya begini, “Wong Bikini Bottom ojo sampe ilang Bikinine”. Bukannya banyak yang mengapresiasi malah dapat banyak pertanyaan, “Loh kowe nduwe bikini to, Trik, Patrick?” Atau malah begini, “Nyolong nggon sopo, Trik, ojo cenanangan koe ki.”

BACA JUGA Tipe-tipe Pelanggan yang Datang ke Krusty Krab dan tulisan Imron Amrulloh lainnya.

Baca Juga:  Gondrong itu Identitas, Bukan Sekedar Gaya-Gayaan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
8


Komentar

Comments are closed.