Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Dosen Gila Hormat Boleh Masuk Keranjang Sampah, dan Memang Seharusnya Begitu

Iqbal AR oleh Iqbal AR
18 Agustus 2020
A A
menyikapi dosen yang tak pernah praktik kerja berdebat dengan dosen

menyikapi dosen yang tak pernah praktik kerja berdebat dengan dosen

Share on FacebookShare on Twitter

Sebuah tangkapan layar yang menunjukkan percakapan antara seorang mahasiswa dan dosen mendadak menjadi perbincangan. Dalam percakapan tersebut, sang mahasiswa yang sepertinya sedang membahas perihal skripsi kepada sang dosen pembimbing.

Alih-alih dapat respon yang seharusnya, sang mahasiswa malah mendapat respon yang pahit dari sang dosen. Dosen tersebut menyalahkan etika mahasiswa, juga malah menyangkut-pautkan masalah pribadinya. Iya, sang dosen memarahi sang mahasiswa hanya karena menanyakan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu jadi masalah

Tangkapan layar ini diunggah pertama kali oleh salah satu akun menfess di Twitter. Unggahan tersebut makin ramai setelah ada salah satu orang yang menanggapi dengan menganggap wajar perilaku tersebut. Katanya, mahasiswa suruh bersabar dan mengerti bahwa dosen juga punya tanggung jawab lain. Intinya, kata orang ini jadi mahasiswa jangan baperan.

Tidak lama, respon ini mendapat respon balik yang cukup menohok. Hampir semua orang, mulai dari praktisi pendidikan, dosen, hingga warganet yang hanya ingin tubir membalasnya dengan mengatakan bahwa apa yang dilakukan dosen dalam tangkapan layar tersebut sudah berlebihan, gila hormat, dan sudah abuse of power. Masalah atau apa saja yang menimpa sang dosen, tidak serta merta menjadi pembenaran untuk berbuat semaunya sendiri pada mahasiswa.

Kejadian seperti ini memang sering menimpa para mahasiswa yang sedang berjuang menyelesaikan skripsinya. Sudah skripsi tidak mudah, eh malah ketemu dengan dosen gila hormat yang seenaknya sendiri. Minta bimbingan susah, sekalinya bimbingan malah marah-marah padahal kita tidak salah.

Bingung kita jadinya, padahal uang yang kita bayarkan mahal per semesternya larinya ke gaji mereka juga. Sudah begitu, pihak kampus malah diam-diam saja. Lalu mereka membandingkan situasi di zaman mereka. Ya tambah tidak nyambung, dong.

Kejadian di atas semakin menegaskan bahwa ada yang tidak beres dari sistem pendidikan tinggi di Indonesia. Masih ada saja praktik sewenang-wenang dari para dosen terhadap para mahasiswa. Ada semacam hierarki kekuasaan yang cenderung otoriter di dalam kampus. Terlebih lagi antara mahasiswa dan dosen.

Padahal, posisi antara mahasiswa dan dosen harusnya setara. Sama-sama belajar satu sama lain, dan sama-sama menghargai sau sama lain. Bukan malah menindas dan menginjak kami para mahasiswa yang membayar mahal tiap semesternya.

Baca Juga:

3 Tips Membeli Point Coffee dari Seorang Loyalis Indomaret, Salah Satunya Cari yang Ada Kursi di Depan Gerainya!

Hal yang Biasa Dijumpai di Temanggung, Daerah Lain Nggak Punya. Salah Satunya Pemandangan Jaran Kepang di Jalan

Memang, kejadian di atas belum bisa dibilang kejadian yang besar kalau dibandingkan dengan mahasiswa yang dikeluarkan dari kampus hanya karena memprotes pihak kampus. Namun, kejadian kesewenangan kepada mahasiswa bimbingannya ini adalah sebuah bibit tumbuhnya kesewenangan yang lebih besar lagi kalau dibiarkan dan tidak segera dilawan.

Kalau masalah kewenangan terhadap mahasiswa bisa diatasi, maka akan membuka banyak kemungkinan baik. Kejadian-kejadian besar seperti pelecehan seksual dosen terhadap mahasiswa tentu akan diselesaikan dengan lebh mudah.

Oh iya, melihat kejadian seperti ini, saya jadi ingat dengan dosen saya yang terkenal akan kesewenangannya dan kecongkakannya di kampus. Kalau yang satu jurusan dengan saya di kampus negeri terbaik nomor 2 di Malang pasti tahu. Beliau ini seorang profesor ilmu bahasa yang gila hormat, yang kalau tiap masuk kelas selalu menyombongkan diri. Mulai dari menyombongkan nominal zakat dan sedekahnya, harta bendanya, hingga merendahkan mahasiswa lain. Beliau juga anti kritik, sangat susah untuk menyanggah dan atau berkomentar di kuliah beliau. Beruntung, saya hanya satu kali diajar oleh beliau dan hanya 2 SKS saja. amit-amit kalau bertemu lagi.

Imbas dari kejadian ini tentunya bukan menjadi generalisasi bahwa semua dosen itu gila hormat dan semaunya sendiri. Masih banyak yang menghargai mahasiswanya, melayani bimbingan mahasiswanya dengan lapang dada, dan menganggap statusnya setara dengan mahasiswa yang sama-sama belajar. Dosen seperti ini jang kadang jarang mendapat lampu sorot dari banyak orang. Padahal, mereka bisa menjadi potret bahwa para pengajar di pendidikan tinggi itu tidak gila hormat. Ini juga bisa jadi penguat bahwa oknum yang gila hormat lebih baik diusir saja dari perguruan tinggi. Sudah semestinya mereka tidak data tempat lagi saat ini.

Meminjam ungkapan dari Soe Hok Gie, bahwa guru yang tidak tahan kritik boleh masuk ke keranjang sampah. Guru bukan dewa yang selaluu benar, dan murid bukan kerbau.

BACA JUGA Mixtape untuk para BuzzerRp Pendukung Omnibus Law dan tulisan Iqbal AR lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 18 Agustus 2020 oleh

Iqbal AR

Iqbal AR

Penulis lepas lulusan Sastra Indonesia UM. Menulis apa saja, dan masih tinggal di Kota Batu.

ArtikelTerkait

Jangan Pukul Rata! Nggak Semua Ospek Mahasiswa Itu Buruk! terminal mojok.co

Jangan Pukul Rata! Nggak Semua Ospek Mahasiswa Itu Buruk!

30 Agustus 2021
Di Universitas Muria Kudus, meski Skripsimu Kelar, Nggak Berarti Kamu Bisa Lulus!

Di Universitas Muria Kudus, meski Skripsimu Kelar, Nggak Berarti Kamu Bisa Lulus!

12 Desember 2023
Sepeda Listrik di Alun-Alun Gresik Meresahkan Pengunjung

Sepeda Listrik dan Bocil Kematian, Kombinasi Maut yang Sukses Bikin Pening, Saatnya Bikin Regulasi!

7 April 2025
QRIS Dianggap sebagai Puncak Peradaban Kaum Mager, tapi Sukses Bikin Pedagang Kecil Bingung

QRIS Dianggap sebagai Puncak Peradaban Kaum Mager, tapi Sukses Bikin Pedagang Kecil Bingung

14 November 2025
Analisis Ustaz atau Pendeta Kalah di Pengabdi Setan dan Film Horor Lainnya

Analisis Ustaz atau Pendeta Kalah di Pengabdi Setan dan Film Horor Lainnya

9 Agustus 2022
‘Makan Besar’ Trans7_ Acara Masak Gede-gedean yang Menghibur dan Nggak Lebay terminal mojok

‘Makan Besar’: Acara Masak Gede-gedean yang Menghibur dan Nggak Lebay

4 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

14 Januari 2026
Alasan Orang Luar Jogja Lebih Cocok Kulineran Bakmi Jawa daripada Gudeg Mojok.co

Alasan Orang Luar Jogja Lebih Cocok Kulineran Bakmi Jawa daripada Gudeg

17 Januari 2026
Meski Bangkalan Madura Mulai Berbenah, Pemandangan Jalan Rayanya Membuktikan kalau Warganya Dipenuhi Masalah

Meski Bangkalan Madura Mulai Berbenah, Pemandangan Jalan Rayanya Membuktikan kalau Warganya Dipenuhi Masalah

17 Januari 2026
Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

17 Januari 2026
Ilustrasi Hadapi Banjir, Warga Pantura Paling Kuat Nikmati Kesengsaraan (Unsplash)

Orang Pantura Adalah Orang Paling Tabah, Mereka Paling Kuat Menghadapi Kesengsaraan karena Banjir

14 Januari 2026
8 Istilah Bau dalam Bahasa Jawa, dari Prengus sampai Badheg

8 Istilah Bau dalam Bahasa Jawa, dari Prengus sampai Badheg

15 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.