Berasal dari Yogyakarta membuat saya tahu betul mana olahan daging kambing yang enak dan biasa aja. Maklum, selain Solo, Jogja terkenal akan olahan daging kambingnya yang menggoda. Salah satu yang paling banyak digemari adalah tongseng kambing.
Bagi yang belum tahu, tongseng adalah makanan semacam gulai daging dengan bumbu yang kuat. Daging yang digunakan sebenarnya bisa daging sapi, domba, kerbau, tapi yang paling umum dan terkenal adalah daging kambing.
Hidup di Jogja membuat saya tahu kekurangan atau kesalahan yang kerap dilakukan penjual tongseng kambing. Kesalahan yang biasanya sepele, tapi bisa merusak rasa. Entah kesalahan itu murni ketidaktahuan atau disengaja demi mempertebal margin keuntungan, pembeli sebaiknya lebih waspada akan “dosa” para penjual tongseng kambing ini.
#1 Daging kambing terlalu keras atau lembek
Tekstur daging kambing yang terlalu keras atau alot menjadi kesalahan yang paling sering terjadi. Selain daging tua, kesalahan cara memasak juga bisa merusak tekstur daging. Itu mengapa, selain pandai memilih daging, penjual seharusnya mahir juga dalam mengolah kambing.
Dua kemampuan itu harus berjalan berdampingan. Jangan sampai tongseng kambing yang tersaji di meja pembeli alot dan sulit dikunyah. Seenak apapun rasanya, tongseng jadi terasa kurang nikmat gara-gara teksturnya.
#2 Membiarkan sayuran pada tongseng kambing layu
Tongseng kambing yang nikmat itu isinya tidak hanya daging dan kuah. Di dalamnya ada sayur kol yang berguna menambah tekstur dan rasa segar agar hidangan tidak monoton. Jadi, jelas ya, sayur kol punya fungsi, bukan sekadar hiasan.
Itu mengapa, hendaknya sayur kol masih dalam keadaan segar ketika dihidangkan. Jangan sampai sayur lembek, layu, dan hambar agar tidak merusak keseimbangan rasa. Lidah pembeli ingin gigit kol segar sebagai kontras daging dan kuah, bukan tekstur soggy tanpa rasa.
#3 Rasa daging lenyap karena bumbu terlalu kuat
Bisa dibilang tongseng itu makanan yang tricky. Daging kambing mesti diolah sedemikian rupa agar bau prengus hilang. Salah satunya menggunakan banyak bumbu agar bumbunya tersalurkan. Jadi, penjual harus meracik bumbu untuk menciptakan rasa gurih, asing, dan manis yang pas. Di sisi lain, racikan bumbu itu juga tidak boleh terlalu kuat agar tidak menghilangkan rasa daging kambing.
Ribet kan? Tapi itulah seninya mengolah daging kambing.
#4 Kuah tongseng kambing terlalu encer seperti sup
Selain daging, kuah adalah elemen penting lain dalam seporsi tongseng kambing. Kuah tidak boleh terlalu encer seperti sup. Kuah mesti sedikit kental agar bisa berpadu dengan baik dengan daging kambing dan sayuran.
Tongseng kambing juga tidak cocok disajikan dengan kuah yang terlalu kental. Kuah seperti ini biasanya terlalu banyak kecap atau santan sehingga menyelamurkan rasa dagingnya.
Selain tekstur kuah, hal yang tidak kalah penting lainnya adalah perbandingan antara porsi kuah dan daging dalam sepiring tongseng kambing. Jangan sampai dagingnya terlalu sedikit karena bisa dianggap tongseng overprice. Jangan pula kuahnya terlalu sedikit karena bisa mengurangi tekstur dan rasa.
Satu hal lain yang nggak kalah penting, sajikan tongseng kambing selagi kuahnya hangat.
Itulah, 4 dosa para penjual tongseng kambing yang mengecawakan pembeli. Ingat, bagi penggemar olahan kambing, seporsi tongseng kambing itu karya seni. Itu mengapa, penjual sebaiknya perhatikan baik-baik seporsi tongseng yang disajikan agar tidak kena hujat dan kehilangan pembeli.
Penulis: Fransisca Tiara Dwi Sherlitawati
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 5 Dosa Besar Pedagang Sate Kambing yang Merugikan Pembeli dan Sulit Dimaafkan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
