Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Kesehatan

7 Dosa Besar Optik yang Bikin Pelanggan Minggat

Dhimas Muhammad Yasin oleh Dhimas Muhammad Yasin
7 Desember 2023
A A
7 Dosa Besar Optik yang Bikin Pelanggan Minggat

7 Dosa Besar Optik yang Bikin Pelanggan Minggat (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sudah puluhan tahun lamanya saya menggunakan kacamata. Maka nggak usah heran kalau sudah berbagai optik saya kunjungi, mulai dari yang ternama sampai yang biasa-biasa saja. Pengalaman itu membuat saya jadi mengenal kebiasaan orang-orang yang bekerja di optik.

Namanya juga manusia biasa, pasti ada saja kelakuan para karyawan optik yang dirasa meresahkan pelanggan. Perbuatan mereka itu bisa dikategorikan sebagai dosa besar. Sebab, bila nggak segera bertobat, bukan hal mustahil pelanggan bakal minggat dan nggak balik lagi.

ADVERTISEMENT

Setidaknya menurut pengalaman saya, ada 7 dosa besar di optik yang merugikan pelanggan. Saya yakin, banyak orang yang pasti pernah mengalami hal-hal ini dan sepakat dengan apa yang saya katakan.

#1 Nggak menyambut pelanggan

Sebagai salah satu jenis usaha yang bergerak di bidang jasa, pemilik sekaligus karyawan optik harusnya menyambut dan melayani pelanggan yang datang dengan siap siaga. Jangan sampai mereka malah asyik ngobrol atau bermain hape saat ada pelanggan masuk ke optik.

Saya pernah mengalami kejadian ini saat berkunjung ke sebuah optik. Bahkan, karyawannya tega membiarkan saya celingak-celinguk lama dan membisu di dalam. Akhirnya saya berinisiatif untuk bertanya-tanya pada mereka.

Harusnya karyawan optik tahu kalau nggak semua pelanggan fasih berkomunikasi atau punya keberanian untuk bicara duluan. Bukankah itu salah satu alasan mereka ada, dipekerjakan, dan digaji, ya? Kalau menyambut pelanggan saja sudah malas, sekalian saja tokonya dibikin seperti swalayan. Betul, kan?

#2 Kasih info periksa mata gratis, tapi pelayanannya setengah hati

Menurut saya, ini adalah dosa optik yang paling kejam. Siapa sih orang yang nggak suka gratisan? Tentunya pengumuman atau info semacam ini akan menarik perhatian banyak orang. Apalagi bagi orang-orang yang uang saku atau tabungannya lagi di ujung tanduk.

Tapi, apa yang terjadi? Saya pernah mengalami kejadian kurang menyenangkan terkait ini di sebuah optik ternama. Pemilik atau karyawannya melayani saya dengan setengah hati. Mulai dari nada bicara sampai gesturnya menyebalkan. Apalagi kalau sampai nggak jadi beli produk kacamata yang direkomendasikan. Bisa dibayangkan betapa mencekamnya suasana di optik tersebut.

Baca Juga:

3 Tradisi Manten Paling Unik di Tulungagung. Terdengar Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warlok

Penderitaan Tinggal Dekat Tempat Wisata Mikutopia Kota Batu, Hidup Dihantui Macet, Berisik, dan Waswas dengan Ancaman Bencana Ekologis Masa Depan

Harusnya pihak manajemen atau marketing optik riset terlebih dulu sebelum membuat promo atau kebijakan. Jangan sampai ujung-ujungnya pelanggan yang benar-benar membutuhkan jadi korban. Carilah bahasa marketing lainnya yang lebih bagus.

#3 Karyawan optik hanya merekomendasikan kacamata mahal

Namanya juga optik, harusnya produk kacamata yang dijual beragam merek dan harga. Ada yang murah, pasti ada juga yang mahal. Tapi, seringnya di beberapa optik, saya malah ditawari kacamata mahal terlebih dulu oleh pemilik atau karyawannya. Yah, yang harga frame-nya kisaran Rp500 ribu ke atas (belum sama lensa, ya).

Ditambah lagi, mereka sembari mendoktrin saya seolah-olah harga selalu sebanding dengan kualitas. Kalau sudah begini, biasanya saya langsung tegas bertanya, “Frame yang paling murah di sini berapa?” Barulah mereka biasa menjawab, “Sekitar 200–300 ribu, Kak.”

Gimana, ya, sebagai pengguna kacamata, saya memakai kacamata karena faktor keadaan atau kebutuhan, bukan gengsi. Kacamata mahal juga belum tentu cocok dipakai, kan. Lagi pula, semahal-mahalnya kacamata pasti bakal rusak saat terjatuh, tertindih, atau terlindas, kan? Apalagi kalau sampai ketlisut dan hilang, pasti bukan main sedihnya.

#4 Optik pelit kasih promo atau diskon

Salah satu daya tarik yang membuat pelanggan memutuskan untuk membeli adalah promo atau diskon. Apalagi untuk produk fesyen seperti kacamata. Makanya rasanya aneh kalau masih ada optik yang pelit memberikan promo atau diskon.

Meski jarang, saya pernah mendapati optik dengan kebijakan semacam ini. Jadi, di akun media sosialnya diterangkan kalau toko sedang ada promo. Eh, ternyata setelah saya datang dan bertanya, katanya syarat dan ketentuan berlaku. Sukses kan jadi korban prank?

#5 Karyawan optik ngegas dan sarkas saat melayani pelanggan

Saya percaya kalau setiap orang punya hak yang sama untuk dihormati dan dihargai. Apalagi untuk urusan yang berhubungan dengan kepala dan indra seperti mata. Jadi, tolonglah wahai pemilik atau karyawan optik untuk selalu bersikap ramah kepada pelanggan yang datang. Jangan lupa mengucapkan kata-kata sopan seperti maaf atau permisi saat memeriksa kondisi mata kami.

Saya pernah dilayani dengan brutal di sebuah optik. Ucapan karyawannya ngegas dan menyakitkan hati meski ruang kesabaran sudah saya buka seluas-luasnya. Penggunaan kata-kata sarkas seperti cacat, minus tebal, parah, hingga lemah saraf pernah saya terima. Lha, mbok pikir aku sengojo nggawe mripatku dadi rabun opo?

Apalagi kalau saya sedang mengajukan keluhan seperti pusing saat memakai kacamata baru atau pemasangan frame yang kurang tepat. Bukannya ditanggapi atau dilayani, malah dikata-katai yang nggak baik.

Harusnya karyawan optik tahu kalau perasaan setiap pelanggan berbeda-beda. Mengomentari kondisi mata pelanggan justru menambah beban dan masalah baru. Kalau nggak bisa menerima komplain dari orang lain, mending nggak usah jualan saja sekalian.

#6 Nggak kasih hadiah atau bonus

Sudah menjadi rahasia umum kalau beli kacamata optik pelanggan pasti dapat hadiah atau bonus. Entah itu kalender, tempat kacamata, cairan pembersih lensa, cairan softlens, atau bahkan sesederhana soft drink dan air mineral. Sebagai pelanggan, saya pernah lho nggak dikasih apa-apa.

Jadi kejadian ini saya alami di sebuah optik. Saya harus menelan pil pahit di sana kalau tempat kacamatanya dijual terpisah. Bahkan, hanya meminta sehelai lap kacamata saya harus menebusnya dengan uang 5 ribu rupiah.

Lambat laun, saya menyadari kalau optik itu bukan lembaga sosial. Mereka sama halnya dengan pedagang lain yang berprinsip mengeluarkan modal sekecil-kecilnya untuk keuntungan sebesar-besarnya. Ya sudahlah.

#7 Nggak ngucapin terima kasih

Dosa besar terakhir yang dilakukan optik ini mungkin terkesan sepele, tapi bisa memberikan dampak psikologis cukup dalam, lho. Percaya atau nggak, ucapan terima kasih nggak sekadar formalitas atau menghargai pelanggan. Ucapan ini juga bisa meninggalkan kesan positif, sehingga kelak pelanggan akan tertarik kembalik lagi untuk membeli.

Saya sendiri pernah merasa dicampakkan setelah membeli kacamata. Mungkin karena sudah lama menjadi pengguna kacamata dan jadi pelanggan, saya selalu menanti ucapan, “Terima kasih. Semoga kacamatanya awet.” Sayangnya, hingga saya membuka pintu keluar optik, pemilik atau karyawannya lebih sibuk bermain gadget dan ngobrol satu sama lain.

Itulah 7 dosa besar optik yang bikin pelanggan minggat. Semoga saja setelah ini nggak ada lagi optik yang sepi atau malah merugi karena ulah mereka sendiri, ya. Bagaimanapun yang fana adalah waktu, bintang satu dan review buruk di Google tetap abadi!

Penulis: Dhimas Muhammad Yasin
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Harga Kacamata Jutaan Memang Sebanding dengan Kualitas, Nggak Usah Heran.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Desember 2023 oleh

Tags: dosadosa besarkacamatalensaoptikpelangganpilihan redaksi
Dhimas Muhammad Yasin

Dhimas Muhammad Yasin

Sarjana sastra yang enggan disebut sastrawan, tinggal di Sukoharjo.

ArtikelTerkait

Polemik Tukang Parkir: Dibenci Netizen, Pemutar Ekonomi Bawah, dan Bisnis Mafia di Baliknya terminal mojok.co

Polemik Tukang Parkir: Dibenci Netizen, Pemutar Ekonomi Bawah, dan Bisnis Mafia di Baliknya

28 Oktober 2021
Bahagianya Warga Kota Tegal Punya Walikota sang Inspirator Pembangunan terminal mojok.co

Bahagianya Warga Kota Tegal Punya Walikota sang Inspirator Pembangunan

7 Desember 2021
Panduan Komplet Main NFT yang Nggak Pernah Dibahas di Media Lain! Terminal Mojok.co

Panduan Komplet Main NFT yang Nggak Pernah Dibahas di Media Lain!

15 Maret 2022
5 Provinsi dengan Persentase PNS Tertinggi di Indonesia terminal mojok

5 Provinsi dengan Persentase PNS Tertinggi di Indonesia

20 Desember 2021
Ungkapan Bahasa Sunda yang Wajib Diketahui Penutur Non-Sunda terminal mojok

Ungkapan Bahasa Sunda yang Wajib Diketahui Penutur Non-Sunda

29 November 2021
5 Rekomendasi Gudeg Emperan Murah dan Enak di Jogja terminal mojok

5 Rekomendasi Gudeg Emperan Murah dan Enak di Jogja

6 Desember 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kandang Ayam Datang Belakangan, Rusak Kenyamanan (Unsplash)

Rumah Saya Perlahan Kehilangan Rasa Nyaman Akibat Kandang Ayam yang Datang Belakangan

21 Juni 2026
Ikut Organisasi Mahasiswa Itu Sah-sah Saja, asal Siap Keluar Duit Lumayan organisasi kampus

Rapat Organisasi Kampus: Belajar Berorganisasi atau Cuma Belajar Boros?

23 Juni 2026
4 Alasan yang Membuat Stasiun Purwosari Lebih Unggul daripada Stasiun Solo Balapan di Mata Saya Mojok.co

4 Alasan yang Membuat Stasiun Purwosari Lebih Unggul Dibanding Stasiun Solo Balapan di Mata Saya

22 Juni 2026
Warung Madura Contoh Ideal Menjalankan Toko: Kejujuran, Barang Lengkap, dan Layanan Sat-Set Adalah Kunci Mojok.co

Warung Madura Contoh Ideal Menjalankan Toko: Kejujuran, Barang Lengkap, dan Layanan Sat-Set Adalah Kunci

27 Juni 2026
Kecamatan Purwokerto Lebih Populer daripada Kabupatennya, Banyumas, Bikin Banyak Orang Salah Paham Mojok.co

Kecamatan Purwokerto Lebih Populer daripada Kabupatennya, Banyumas, Bikin Banyak Orang Salah Paham

21 Juni 2026
4 Rekomendasi Motor Second yang Cocok untuk Mahasiswa Pertama Kali Merantau Mojok.co

4 Rekomendasi Motor Second yang Cocok untuk Mahasiswa Pertama Kali Merantau

25 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.