UIN Saizu Purwokerto nggak buruk-buruk amat.
Momen pengumuman mahasiswa baru memberikan dua kabar yang bertolak belakang. Kabar bahagia bagi yang lolos dan kabar menyedihkan bagi yang tidak lolos.
Sayangnya, saya masuk kelompok yang menerima kabar tidak menyenangkan itu. Nama saya dinyatakan tidak lolos seleksi penerimaan mahasiswa baru di kampus impian. Nama saya lolos di kampus lain, Universitas Islam Negeri Saifuddin Zuhri Purwokerto (UIN SAIZU Purwokerto).
Bagi mereka yang bercita-cita masuk UIN SAIZU Purwokerto, ini jelas jadi kabar gembira. Namun, bagi saya, itu kabar sedih. Kampus hijau yang berdiri megah mewarnai Purwokerto itu selama ini saya pandang sebelah mata. Kuliah di UIN terkesan remeh di kalangan anak-anak SMA. Saya benar-benar tidak suka dengan kesempatan ini.
UIN SAIZU Purwokerto bukan akhir dari segalanya
Kala itu, saat menerima kabar saya lolos seleksi PTKIN di UIN SAIZU Purwokerto, saya mengabaikannya begitu saja karena memang bukan keinginan saya. Di kemudian hari, saat pengumuman SNBT, lagi dan lagi saya ditolak oleh kampus impian. Kesedihan saya semakin memuncak.
Saat duniaku sedang tidak baik-baik saja, orang tua saya membujuk untuk mengambil kesempatan kuliah di UIN SAIZU Purwokerto yang sebelumnya dinyatakan telah lolos. Dengan langkah ragu-ragu saya mengiyakan.
Saya mulai menyiapkan semua keperluan untuk ospek di kampus yang tidak saya harapkan. Hari-hari menjelang ospek menjadi hari yang meresahkan.
Rasa iri dan kecewa terus menghantui saya karena melihat postingan teman-teman ospek di kampus impian mereka. Namun, tekad saya bulat untuk terus melangkah.
Intinya saya harus menyala ketika ospek dan saya akan buktikan kuliah di UIN SAIZU tidak seburuk itu. Dari tekad inilah tumbuh benih-benih semangat yang mulai mewarnai hari-hari saya.
Rasa kecewa memudar setelah menjalani perkuliahan
Setelah beberapa waktu kuliah di UIN SAIZU Purwokerto, kampus ini ternyata tak seburuk bayangan saya dan banyak orang. Ternyata pola mengajar di kampus ini sama saja dengan kampus-kampus lainnya. Bahkan, beberapa mata kuliah terasa lebih menyenangkan dari segi penugasan, cara belajar, hingga projek akhir yang benar-benar mengasah skill mahasiswa.
UIN SAIZU juga sudah terakreditasi unggul dan telah bekerja sama dengan negara-negara lain. Mungkin itu mengapa kampus ini kerap disebut-sebut sebagai kampus desa yang mendunia.
Asal tahu saja, UIN SAIZU memang berlokasi di desa dekat perkotaan. Namun, koneksinya sudah internasional. Jika ditilik lebih dalam, banyak mahasiswa berprestasi yang dapat dijadikan teladan. Dari segi biaya juga terjangkau, beasiswa pun banyak asalkan mau mencari dan berusaha mendaftarnya.
Jika kalian pernah mendengar tentang desas desus tidak mengenakkan dari kampus UIN SAIZU itu sudah pasti oknum tidak bertanggung jawab yang mencoreng nama baik kampus. Menilik dari segi fasilitas memang terbatas, tapi untuk kelas, Wi-fi, AC, proyektor, dan kebutuhan kuliah lainnya UIN SAIZU telah memadai kok.
Menurut saya, hal yang disayangkan adalah dari segi lingkungan akademik di UIN SAIZU belum kompetitif seperti di kampus-kampus favorit. Mungkin dikarenakan sering dijadikan last option, mahasiswa yang kurang sungguh-sungguh dalam berkuliah masih sering dijumpai.
Pesan dari mahasiswa yang pernah kecewa masuk UIN SAIZU Purwokerto kepada para maba
Mungkin saya masuk di kampus dengan penuh rasa kecewa. Namun dengan berani bertekad dan membangkitkan semangat dalam menjalainya semua akan terasa lebih menyenangkan bahkan banyak keberhasilan yang akan menghampiri kita.
Saya belajar bahwa tempat yang awalnya tidak pernah kita pilih dengan sepenuh hati pun bisa menjadi tempat terbaik untuk bertumbuh. Dengan catatan, jika kita mau membuka diri terhadap setiap kesempatan dan semangat untuk terus bereksplorasi.
Dear siswa yang otw jadi maba, terkadang pilihan pertama yang amat sangat kamu idam -idamkan itu bukanlah yang terbaik menurut Tuhan, melainkan masih banyak jalan menuju impianmu yang jauh lebih baik dari yang terbaik menurutmu dan itu semua akan hadir saat waktunya tiba. Tuhan mengerti apa yang paling baik untukmu. Pesan saya selalu tanamkan prinsip “bukan tentang di mana kamu berproses tapi tentang bagaimana kamu berproses”. Ini akan membantu menciptakan mindset yang jauh lebih baik daripada terus menangisi hal-hal yang bukan milikmu.
Penulis: Karina Faryda Setia Ayu
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
